Lay With The Devil

Lay With The Devil
Teman Tidur


__ADS_3

🎯Selamat Membaca🎯


"Diam. Atau saya antar ke kantor polisi karena menutupi kebenaran..." jelas Detektif Lee sambil memamerkan lencananya.


Anak ingusan itu kecut mendengar ancaman yang ditujukan padanya. Kini ia menyesal sudah terlalu banyak bicara.


.


.


.


Kini Jaka sudah duduk di belakang kemudi. Paul dan Derektif Lee mengapit pemuda itu di kursi belakang.


"Sekarang, cerita. Siapa korban itu? Tidak mungkin kau tidak mengenalnya. Kalau ia bisa mengelabui polisi tentang kematianya, berarti ia bukan orang sembarangan!"


"I-iya... tapi saya jangan di apa-apakan, yaa??" anak itu memohon.


"Tergantung sebaik apa jawabanmu." jawab Paul lagi.


"O-oke... Korban itu adalah pemilik penginapan ini... Namanya Tuan Darwin."


"Lengkapnya?!"


"Da-Darwin Suroto. Malam itu, dia bilang agar jangan di ganggu. Jadi kami tidak ada yang mendekati kamar itu. Kami juga tidak tau kalau ia terjatuh dari balkon. Ia pingsan di sana lebih dari dua jam. Saat itu ada dua orang laki-laki datang dan memeriksa kamar yang digunakan Tuan Darwin..." pemuda itu menatap Paul dan Detektif Lee bergantian.


"LANJUT!" bentak Jaka kemudian.


"I-iya... Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu saat kedua orang itu pergi, kami masuk ke kamar itu lagi untuk membersihkan semuanya. Saat itulah kami melihat Tuan Darwin tergeletak di luar balkon. Kami fikir dia terjatuh dan meninggal. Ternyata ia hanya pingsan dan patah tangan. Ia minta kepada polisi agar merahasiakan kalau ia masih hidup. Ia bilang, takut orang yang menyerangnya kembali lagi... Dan menyelesikan urusannya yang tertunda..."


"Gila!! Dan polisi percaya begitu saja?!" tanya Paul geram.


"Ya, ka-karena kami semua bersaksi seperti itu... Da-dan-"


"DAN?" Jaka tidak sabar.


"Dan po-polisi yang menangani kasus itu, adiknya sen-sendiri, Pak..."


"Brengsek!! Ternyata begitu. Pantas saja kasus ini selesai dengan mudah. Bahkan tidak ada pengajuan banding atau apapun saat Sarah dinyatakan bebas..." Detektif Lee menjelaskan.


Jaka lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari dalam dashboard dan memberikannya pada pemuda itu.


"I-ini apa, Pak?" tanyanya dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Ini uang jajan. Sebaiknya kau tidak bilang apa-apa tentang kejadian ini. Selain itu, sebaiknya kau meninggalkan penginapan ini dan cari pekerjaan lain. Sudah bagus kau tidak kubawa ke kantor polisi!" jelas Jaka.


Paul lalu keluar mobil dan menarik orang itu agar menyusulnya keluar.


"Siapa namamu?"


"Angga Gumilang, Pak."


"Oke. Tutup mulut dan kau akan baik-baik saja. Sana pergi!!" Paul mengusirnya.


Paul lalu kembali masuk kedalam mobil.


"Paul, kau cari Darwin Suroto ini. Aku punya urusan dengannya. Masalah adiknya yang polisi itu, aku serahkan padamu Detektif Lee..." Jaka menjalankan mobilnya.


"Kau punya janji dengan Nathan besok pagi. Apa mau dibatalkan?" tanya Paul memastikan.


"Biar saja. Ada hal lain yang harus ia kerjakan... Aku mau semua masalah ini jelas. Sampai aku tau orang dibelakang ini semua..." Jaka menjelaskan.


Kalau mereka menemukan penyerang Sarah, mereka akan tau dalang dibalik semua ini. Jaka tidak sabar untuk menghajar orang itu tepat di wajahnya. Orang yang sudah melukai perasaan Sarah dan membuat mereka terpisah.


※※※


Satu Minggu Kemudian...


Betty yang masih terjaga, lalu membukakan pintu. Ia menemukan bosnya berdiri diluar kamar.


"Tuan? Silahkan. Kalau begitu saya permisi keluar..." Betty mengambil ponselnya dan meninggalkan Sarah yang terlelap dan Jaka yang baru datang.


Jaka hanya mengangguk. Ia senang kalau orangnya pengertian seperti itu.


Jaka memperhatikkan Sarah yang sedang terlelap. Diletakkannya tas baju yang ia bawa di depan lemari.


Tanpa mengganggu istrinya, ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Flashback On


Dengan geram Jaka memukul orang dihadapannya. Orang itu bahkan masih tertawa saat wajahnya sudah babak belur saat ini.


"Sayang sekali aku tidak sempat merasakan tubuh itu... Kalau tidak, aku pasti sangat menikmatinya..." jelas sosok berama Darwin itu.


Kata-kata yang berhasil membuat Jaka melayangkan satu lagi tinjunya tepat di pipi kiri Darwin itu.


Ya, setelah beberapa hari melakukan pencarian, Paul dan orang-orangnya berhasil menemukan persembunyiannya.

__ADS_1


Orang-orang Paul lalu membawanya ke sebuah gedung kosong dan mulai menghajarnya disana. Lima belas menit kemudian Jaka tiba dan mengambil alih urusan itu. Ia benar-benar memukulinya hingga babak belur.


"SIAPA YANG MENYURUHMU?" tanya Paul yang sudah tidak bisa lagi melihat bosnya membabi-buta seperti saat ini.


Kalau tidak di hentikan, Jaka akan membunuh laki-laki didepannya itu dengan mudahnya.


"Mr. Black! Tuan... Dia mis-mister black... mister black..." jawabnya dengan suara yang semakin pelan. Orang itu kemudian pingsan.


Paul lalu menyuruh anak buahnya untuk mengantar orang itu ke klinik terdekat. Mereka mengangguk paham.


"Sialan. Apa maksudnya Indra? Hah... Aku tidak mengira ia masih berani bermain-main denganku... Paul, aku akan menemui Sarah malam ini... Masalah Indra, serahkan saja pada Nathan. Aku muak melihat wajahnya. Nathan paham harus bagaimana..."


"Kau yakin ingin menemui Sarah malam ini juga? Ini sudah jam delapan. Kau akan sampai tengah malam..." Paul menjelaskan.


"Biar saja. Aku berjanji pada diriku sendiri, akan menemuinya saat masalah ini selesai. Dan ku anggap masalah ini selesai. Aku malas berurusan dengan Indra..."


Flashback Off


Setelah selesai mandi dan mengganti bajunya, Jaka langsung mendekati Sarah yang sudah terlelap. Ia ingin mengelus pipi istrinya itu, tapi ia takut Sarah malah terbangun. Ia mengurungkan niatnya. Ia lalu mengitari tempat tidur untuk ikut tidur bersama istrinya.


Pasti akan menjadi kejutan untuknya besok... batin Jaka tersenyum.


Dengan pelan-pelan ia naik ke sisi Sarah. Ia lalu berbaring pelan. Benar-benar tidak ingin membangunkannya.


Aah... akhirnya berbaring juga... Lelah sekali badanku...


Tidak perlu waktu lama untuknya agar bisa terlelap. Karena, ia sendiri sudah sangat mengantuk.


※※※


Sarah terbangun karena sesuatu menindih kakinya. Dengan malas, Sarah membuka matanya. Saat itulah ia tersentak kaget, melihat sudah ada sang suami di sebelahnya.


Sarah duduk dan menyingkirkan kaki suaminya yang tanpa sengaja menindih kakinya itu. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat ini.


Sarah kembali berbaring setelah mendaratkan sebuah kucupan di kening suaminya. Dipeluknnya tubuh itu.


Padahal aku tidak mengingatnya dengan baik, tapi ia selalu berhasil membuatku merindukannya... batin Sarah. Ia kembali memejamkan mata...


🍌bersambung🍌


Terima kasih sudah mampir lagi disini...


Jangan lupa berikan dukungan kalian dengan LIKE, KOMENT, RATE, VOTE & FAV. Terima kasih 😆😆😆

__ADS_1


__ADS_2