
Jaka dan asistennya hadir di kantor PT. AntiQ Jaya menggunakan taxi online. Mereka hadir sebagai karyawan magang dalam divisi keuangan. Jaka sendiri memutuskan agar mereka tidak menggunakan mobil pribadi selama bekerja disini.
"Sebaiknya kita pinjam atau sewa motor salah satu pekerja di rumah tuan Ismail Pak...", Paul memulai percakapan "Terlihat mewah juga kalau setiap hari kita naik taxi online...".
"Kamu benar juga sih...", Jaka menghentikan langkahnya dan kemudian berbalik menatap ID card Paul lagi "Samsul...", Jaka terkekeh.
"Anda juga mentertawakan nama ini Pak... Padahal Usman juga terdengar lebih kuno dari nama saya...", jelas Paul yang mendapatkan nama Samsul di ID card nya.
Mereka berdua terkekeh. Inilah yang terjadi saat semua di urus oleh orang yang terlalu kuno.
"Kau lulusan universitas kan, Paul?", tanya Jaka penasaran "Apa keahlian mu selain komputer? aku benar-benar takut dengan skill komputermu. Sebaiknya tidak terlalu kau tonjolkan disini...", jelas Jaka.
"Aku tidak pernah duduk di bangku universitas Pak, itu adikku yang anda biayai. Sekarang ia sudah bekerja di kantor kementrian... thank's to you..."
"Sebanyak apapun uang, jika usaha adikmu tidak maksimal, ia tidak akan jadi apa-apa... Tapi dengan pencapaian Leon yang seperti itu, aku jadi merasa puas, karna uang itu berguna bagi kalian...",
Pembicaraan yang tadinya ringan akhirnya menjadi lebih berat seperti ini.
Pintu lift terbuka di lantai tiga. Kantor logistik. Mereka menebak akan ada yang ikut mereka kelantai empat, kantor keuangan. Mereka tau kalau mereka harus menghentikan percakapan mereka dan bersikap sewajarnya orang yang baru mulai bekerja.
Sarah masuk kedalam lift. Dengan membawa kotak berisi barang-barangnya dari kantor logistik dan sebuah paper bag berisi barang pribadinya, ia terlihat kesusahan. Kotak yang dibawanya melorot dan hampir terjatuh. Jaka kemudian secara sigap menangkap kotak itu. Tangannya tidak sengaja memegang tangan Sarah. Ia menariknya cepat.
"Terima kasih", Sarah menundukkan kepalanya pada Jaka dan Paul.
"Jangan sungkan... Kelantai empat?", tanya Jaka berusaha mencairkan suasana. Bersikap baik pada siapa saja adalah kunci berbaur yang paling cepat.
"Ia. Saya mutasi ke atas...", jelas Sarah sambil menunjukkan ID Card barunya dengan nama divisi yang telah berubah.
__ADS_1
"Kami magang di keuangan... Sebelumnya di perusahaan Pak Ismail yang lain... Jadi, belum ditentukan dimana nanti akan ditempatkan...", jelas Paul yang berada di samping Jaka.
Jaka diam saja. Ia memperhatikkan Sarah. Ia merasa pernah mengenal Sarah disuatu tempat.
Ting!
Pintu lift terbuka. Divisi keuangan tidak kalah ramai dengan logistik. Banyak yang berlalu lalang. Sarah mengambil kembali kotaknya dari Jaka.
"Biar kami antar sampai ke meja anda nona...",
"Sarah...",
"Ja-"
"Saya Samsul dan teman saya ini Usman...", potong Paul karna mendengar kalau bos nya itu akan memperkenalkan diri sebagai dirinya sendiri.
Dalam hati Jaka mengumpat, Mengapa aku harus memakai perut palsu ini? Dasar ide bodoh!! kenapaaa juga Usman... Aiih.
Jaka hanya tersenyum simpul. Ia kemudian meletakkan kotak barang milik Sarah dimeja yang ditunjuknya. Tanpa pamit ia langsung berbalik menuju keruang manager.
"Pak, Terima kasih ya!!" Sarah mengucapkannya sedikit berteriak. Sebagian orang diruangan itu memandangi mereka sebentar.
Diruang Manager Keuangan
Alfandi Umar. Manager, yang baru menjabat selama satu tahun. Jaka mengetahui orang itu. Beberapa kali ia datang kerumah orang tuanya mengadakan makan siang sembari melaporkan laporan keuangannya.
Jaka cukup yakin kalau penyamarannya aman.
__ADS_1
"Jadi, kalian karyawan magang yang dikabarkan oleh Pak Amir ya... Sangat jarang ada karyawan magang di divisi keuangan... Apa kalian masih ada hubungan keluarga dengan pemilik perusahaan??", tanya Pak Alfandi sambil membuka berkas milik Usman dan Samsul. Berkas itu telah dikirimkan kemarin oleh orang suruhan Pak Ismail.
Jaka sudah memprediksi pertanyaan seperti itu kemarin, saat mereka berdiskusi dengan Pak Ismail, bapaknya.
"Saya saudara dari cucu angkat anak pertama sepupunya Pak Ismail... Keluarga jauh banget sih Pak...", Jaka menjelaskan dengan nada yang sangat meyakinkan.
Pak Alfandi terdiam, ia kemudian mangut-mangut. Entah ia, paham atau ia hanya mencoba untuk paham.
Paul dibelakangnya berusaha untuk tidak tertawa. Penjelasan Jaka itu bahkan membuat dirinya berpikir.
Beberapa menit kemudian, pintu ruang kerja Alfandi diketuk oleh seseorang.
"Masuk", Pak Alfandi masih fokus pada berkas milik Paul "Kalau kamu, ada hubungan keluarga??", Pak Alfandi masih meneliti tentang hubungan kekeluargaan di antara mereka.
"Sayaa... Adik saya menikah dengan kakaknya Pak Usman", jelas Paul.
Pak Alfandi memijat kepalanya.
Jaka merasa puas sekaligus geli karena keusilannya itu.
♡
♡
♡
bersambung....
__ADS_1