Lay With The Devil

Lay With The Devil
Cincin Berlian


__ADS_3

Entah mengapa ia begitu berbeda malam ini. Mengapa rasanya aku begitu bodoh, memerlukan waktu selama ini untuk menyadarinya...


"Jadi... Apa bapak akan berhenti melihatku?",


"Tidak",


"Mengapa tidak?",


"Karena aku berhak. Aku punya mata dan akan kugunakan dengan baik...",


Sarah merasa benar-benar malu.


Seorang waitress datang. Sarah merasa terselamatkan.


Mereka mulai memesan makanan.


°°°


Jaka memesan tenderloin mozarella, cream soup dan black coffee. Sedangkan Sarah memesan beef teriyaki kentang dan lemon water. Sarah sedang lapar. Dan ia tidak akan malu-malu di depan orang itu...


Mereka makan malam di tempat itu atas saran dari Paul. Ia bilang, tempat ini sangat tepat.


"Jadi... Mengapa bapak mengajakku makan di tempat sebagus ini?", tanya Sarah penasaran. Biasanya mereka makan malam tidak di tempat semewah ini.


"Karena ini malam yang spesial? Apa harus ada alasannya?", Jaka menyelidik.


"Tentu saja... ",


"Baiklah. Aku berencana melamarmu...",


Tentu saja Sarah kaget mendengar jawaban Jaka yang sangat blak-blakan.


"Bapak apa? Jangan bercanda, Pak...",


"Aku tidak suka bercanda untuk hal-hal penting seperti itu, Sarah...", jelas Jaka.


Orang itu kemudian bangkit dan berlutut di samping kursi Sarah. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru. Dengan yakin, ia membuka kotak itu. Sebuah cincin berlian terlihat sangat indah di sana.



"Sarah Ayuasmara... Maukah kau menjadi istriku?",


Sarah menutup mulutnya. Ia kaget.


"Pak... Bangunlah. Orang-orang melihat kearah kita. Apa anda tidak malu?", Sarah berusaha membuat Jaka bangkit.


Tapi Jaka menggeleng.

__ADS_1


"Aku akan berdiri setelah mendengar jawabanmu",


Sarah entah harus merasa apa. Ia bahagia dan takut di saat yang bersamaan.


Sarah mengangguk.


"Okeee...", Sarah menjawab pelan. Sangat pelan. Ia melirik sekelilingnya.


Hanya itu yang bisa ia lakukan agar Jaka mau berdiri.


Jaka yang meilihat anggukan Sarah kemudian berdiri dan meraih tangan Sarah. Ia mengambil cincin berlian itu dan mengenakannya di jari manis Sarah.


Sarah masih tidak percaya. Ia tidak yakin dengan apa yang terjadi malam ini. Jaka mengecup punggung tangannya sekilas.


"Aku ingin mengajakmu ke suatu tepat...", Jaka berbisik. Ia lalu memanggil waitress dan memberikan kartu kreditnya.


Setelah menerima kartu kreditnya kembali, Jaka menggenggam tangan Sarah dan mengajaknya meninggalkan tempat itu. Ada satu kejutan lagi yang sudah disiapkan Jaka untuk Sarah malam ini.


°°°


"Apa aku membuat kesalahan?", tanya Jaka pada wanita yang baru saja ia lamar.


Pertanyaan itu sukses membuat mata Sarah berpaling padanya. Sarah menyibakkan rambutnya yang tertiup angin pantai. Ya, sekarang mereka sudah berada di pantai yang kemarin mereka kunjungi. Bedanya, ada banyak obor bambu berbaris rapi disana. Kemudian ada sebuah sofa panjang yang ditutupi kain putih.


"Apa ini, Pak?", tanya Sarah masih agak bingung.


"Kau benar-benar menerima lamaranku, kan?", Jaka memastikan.


"A..aku bermimpi? Katakan kalau ini mimpi... ini terlalu indah jika ternyata kenyataan...", Sarah berusaha menahan air matanya.


Laki-laki ini... benarkah?? Orang yang begitu tinggi, yang hanya bisa kulihat dari kejauhan... Apakah benar ia memintaku menjadi istrinya?


"Kau tidak bermimpi Sayang... Akulah yang bermimpi, sehingga bisa mendapatkan wanita secantik dirimu...", Jaka meraih tangan Sarah dan mengajaknya ke tepi pantai.


"Kenapa sekarang?",


"Karena bapak dan ibuku mungkin merestui... Mereka tidak pernah begitu pada wanita manapun. Termasuk mantan istriku... Apa kau tidak suka?",


Jaka terlihat memandangi Sarah. Tanpa di sangka, Sarah menghambur kedalam pelukan Jaka dan menangis.


"Aku bermimpi kan... Aku kira hanya aku yang harus menyimpan perasaan ini sendirian...",


Jaka membalas pelukan itu.


"Maafkan aku... terlalu lama menyadari kalau kaulah orangnya... Aku terlalu takut kembali kehilangan... Karena kehilangan itu, menyakitkan... Tolong berjanjilah satu hal padaku",


"Apa itu? Janji?",

__ADS_1


"Jangan tinggalkan aku...",


Jaka meraih wajah Sarah. Ia mendaratkan ciuman ke bibir Sarah. Cukup lama mereka berciuman sampai akhirnya Jaka mengangkat tubuh Sarah ke sofa yang ada disana.


Ciuman itu berlanjut. Bahkan Jaka lebih intens lagi.


"Pak... ", Sarah ingin berhenti. Jaka sangat bersemangat.


"Jangan hentikan... aku...", Jaka berbisik.


Sarah tersenyum. Ia sudah setengah berbaring di sofa itu. Tangan Jaka mulai menjelajah masuk kedalam dress nya. Tangan Sarah menahannya.


"Akan ada yang melihat, Pak... Hentikan...",


"Aku tidak peduli... Kau calon istriku...",


"Heeemmm... benarkah?", Sarah berkilah. Jaka melepaskan ciumannya, ia memandang mata Sarah bingung.


"Ya. Kau calon istriku... Apa kau ingin menikah malam ini juga? Ny. Sanjaya?",


Wajah Sarah memerah. Ia tidak mengira akan menyandang nama keluarga Sanjaya.


Jaka menarik wanita itu kedalan pelukannya. Rasanya sudah lama ia menginginkannya. Rasanya sudah lama hidupnya terasa kosong. Malam ini, ia merasakan kekosongan itu mulai terisi. Ia hanya berharap bisa menjaga wanita itu selamanya...


°°°


Tuan dan nyonya Sanjaya duduk di ruang tamu berdua saja. Ny. Sanjaya terlihat bingung dengan penjelasan Suaminya.


"Bapak ini bicara apa sih? Bisnis apa? Bisnis bapak kan cuma di bidang barang antik... dan mobil yang di jalankan Kirana...", Ibu Ningsih makin bingung dengan penjelasan Pak Ismail yang berbelit-belit. Karena Pak Ismail sendiri tidak pernah memberi tahu masalah bisnis yang satu ini, karena ia tidak berhasil menjalankannya.


"Bapak pernah menanam saham di salah satu perusahaan Batu Bara di kalimantan...",


"Apa? Itu jauh banget Pak...",


"Dengar... Semuanya tidak semulus keinginan kami. Jadi kami pecah kongsi",


"Lantas apa masalahnya... Sudah selesai kan... Ya sudah dilupakan saja...",


"Orang itu masih belum mengembalikan uang bapak. Dan bapak memiliki surat-surat aset nya. Bapak tidak mau orang yang menipu bapak, bebas menjalani usaha itu tanpa bapak kasih pelajaran...",


"Ya ampun si bapak... terus kenapa bilang sama ibu sekarang? apa tujuannya?",


"Jaka, Bu... Bapak rasa dia sudah di tipu...".



__ADS_1



bersambung....


__ADS_2