
Happy Reading 😆
————♡♡————
Sarah mundur sedikit.
Bu Indy yang melihat gelagat Candra kepada Sarah hanya bisa berspekulasi.
Masa orang ini sih? Dia kan duda... Ck! Sarah... Sarah...
※※※
"Kamu sakit? Kalau sakit lebih baik istirahat di rumah saja..." Pak Candra memerintahkan.
Tapi Sarah menggeleng yakin.
"Tidak Pak. Saya hanya entahlah... tadi agak pusing. Tapi sekarang baik-baik saja..."
"Bu Indy sudah selesai belanja? Kita ke kasir yuk bu..." ajak Sarah.
Bu Indy dari tadi memperhatikan Sarah. Rasa-rasanya ada yang lain dari Sarah yang dua bulan lalu ia lihat.
Mereka bertiga kemudian kembali kedepan. Bu Indy kembali memilih barang-barang yang belum ia cari tadi.
Setelah sepuluh menit, bu Indy meletakkan keranjang belanjanya di meja kasir.
"Ini saja bu?"
"Iya, ini dulu... kalau kurang, biar Rangga yang kesini lagi..."
"Begitu ya..."
"Nak Sarah, pulang kerja nanti mampir ke rumah ibu ya. Ada hal yang ingin ibu tanyakan. Penting..."
"Eh? Sarah... sarah gak janji ya, bu... Kan ibu tau, bang Aris marah kalau Sarah tidak langsung pulang."
"Masalah itu, nanti ibu yang cari alasan. Pokoknya jangan sampai tidak datang ya."
"Baik bu..." Sarah mengiyakan. Lagi pula bu Indy sudah menolongnya. Akan sangat tidak sopan jika ia menolak permintaannya.
※※※
Jam lima sore. Akhirnya sift Sarah selesai. Biasanya, jam lima sampai jam sembilan malam, toko akan di ambil alih oleh pemiliknya, Pak Candra.
"Kamu pulang dengan Rangga lagi, Rah?" Anna menyelidik.
Sarah menggeleng.
"Enggak nih. Pulang sendiri..."
"Owh... ya udah. Hati-hati ya..."
"Loh, kamu gak pulang?"
"Kan aku masuknya siang... Jadi, jam sembilan baru balik... Kasian Pak Candra kalau ditinggal..." Anna senang sekali menggoda bos mereka. Untungnya, Pak Candra cukup kebal dengan semua ucapan Anna.
"Jangan kau goda terus bos kita, Na... kalau dia naksir kamu gimana?" Sarah mengingatkan.
"Alhamdulillah kalau begitu... Hehehe..." Anna kembali ke meja kasir.
__ADS_1
Sarah tau teman kerjanya itu sudah lama menyukai bos nya yang duda itu. Tapi sepertinya Pak Candra biasa-biasa saja terhadap Anna.
※※※
Sarah melangkahkan kakiknya agak cepat. Setiap melewati rumah kosong yang bobrok itu, nyali Sarah seakan menciut. Padahal matahari belum sepenuhnya tenggelam.
tiiit!!
Suara klakson motor membuat jantung Sarah serasa jatuh ke tanah. Ia berbalik dengan wajah marah.
Kurang kepinggir gimana lagi sih?! Jalan di atas parit?!!
Ia mendapati senyum lebar Rangga yang sudah menghentikan laju motor matic nya.
"Kurang ajar bet jadi orang!! Kalo aku jantungan gimana?!"
"Aku gotong ke rumah sakit lah. Tenang aja..."
Pengen nabok orang... Sarah nyesek.
"Becanda... becanda..."
"Gak lucu!", Sarah berbalik dan meninggalkan Rangga.
"Hei. Ayo naik... mau pulang kan..." panggil Rangga sambil mengekor Sarah di belakangnya
"Males"
"Yah... dia ngembek..."
Sarah menghentikan langkahnya dan kemudian kembali untuk menaiki motor Rangga.
Pantes saja mau naik, ada angsa lagi arisan rupanya... Rangga terkekeh.
Semua orang juga tau kalau angsa-angsa itu mengerikan jika mengejar orang.
※※※
Jaka meneguk gelas kopi ketiganya. Sudah dua bulan ini ia kecanduan kopi hitam. Ia memerlukan lebih banyak waktu saat ia sadar daripada saat ia tidur.
Diamatinya layar laptop empat belas inci milik Paul. Aplikasi milik Reza sudah dua kali salah mendeteksi wajah Sarah. Bukannya salah sih, sepertinya mereka hanya salah memetakan CCTV di lokasi mana yang harus mereka gunakan.
Beberapa hari yang lalu ia memenuhi panggilan polisi atas hilangnya Sarah. Pihak keluarga Sarah lah yang melaporkan kehilangan Sarah.
Jaka sudah menjelaskan semuanya, tentang kejadian di hotel dan lainnya, tapi mereka ngotot untuk melapor.
Tapi sampai saat ini, pihak kepolisian juga belum menemukan petunjuk apa-apa.
CCTV penginapan juga ternyata tidak bisa digunakan karena sedang rusak saat itu.
ddrrrtt... ddrrttt...
Pak Arnold menghubungi. Saat itu pula, suara bib bib dari laptop menggema. Mata mereka tertuju kesana.
"Akhirnya!!" Paul bersorak.
"Dimana lokasinya?"
Karena mereka mengambil waktu di hari kejadian hilangnya Sarah, Mereka melakukan pencarian mulai dari penginapan tempat mayat orang itu ditemukan.
__ADS_1
Ponsel Jaka berhenti bergetar. Satu panggilan tak terjawab dari ayah mertuanya.
"Lokasinya dari penginapan Xaheed menuju terminal bus. Lumayan jauh. Dan dia tidak sendirian... Sarah di papah keluar penginapan melalui pintu belakang. Tidak jelas siapa yang membawanya... Yang pasti ia merencanakan semuanya dengan sangat matang..."
"Kita berangkat malam ini. Apa kau ada kesibukan lain, Paul?" Jaka menatap asisten sekaligus temannya itu.
Paul menggeleng.
"Kita temukan dulu Sarah, baru aku pikirkan kesibukan lain..."
※※※
Rangga menghentikan laju motornya. Mereka sudah masuk ke pekarangan rumah Rangga.
"Assalamualaikum..." Rangga memberi salam. Tidak ada yang menjawab salam. Kemungkinannya, mereka sedang berada di ruang praktek Bidan Risty.
Mereka berdua lansung menuju ruang praktek Bidan Risty.
"Eh, kalian sudah datang... Sini, duduk di sini nak..." bu Indy meminta Sarah.
Tanpa banyak protes Sarah duduk di kursi pengunjung. Sekilas ia melirik jam di dinding, sudah jam setengah enam sore. Lebih lama lagi, dan abangnya akan ngamuk.
"Ini mau ngapain ya bu?" Sarah bingung. Dihadapannya sudah ada bu Indy dan Risty.
"Nak, apa kamu merasa lain belakangan ini?" bu Indy memulai percakapan.
"Lain? Lain gimana? Tapi Sarah memang suka cepat lelah sih bu... Sarah memang kurang tidur... "
"Bagaimana dengan datang bulan? Lancar?" tanya Risty kemudian.
Sarah mulai bingung. Kenapa segala datang bulannya di pertanyakan?
Rangga yang mendengar obrolan mereka kemudian memilih untuk keluar.
"Ibu tuh curiga kalau kamu hamil..." Risty menjelaskan tanpa basa-basi.
What?! No... Kalian bercanda.
"Tapi, atas dasar apa kalian bilang saya hamil? Saya bahkan tidak punya pacar apalagi suami..." Sarah mengelak.
"Bagaimana datang bulanmu?" tanya bu Indy lagi.
"Beberapa hari yang lalu baru selesai... Tapi gak banyak. Dikit-dikit banget. Perut Sarah juga nyeri..."
Bu Indy langsung memasang tensimeter di lengan kanan Sarah.
"Itu bukan datang bulan sayang, itu pendarahan kecil. Makanya perutmu nyeri... Keluarnya flek saat hamil muda merupakan hal yang banyak terjadi pada ibu hamil. Flek atau bercak darah ini biasanya berwarna merah muda, merah, atau coklat. Itu wajar."
"Jadi? Maksud kalian, aku hamil? Anak siapa? Aku berani bersumpah, aku tidak pernah berbuat asusila dengan siapapun!!" Sarah berusaha menahan air matanya.
Sakit rasanya. Berani sekali mereka berfikir kalau aku hamil... Aku tidak hamil. Ini konyol!!
———————————♡♡♡——————————
Jangan lupa di like, koment, fave & Vote ya...
Karena itu semua support yg paling besar bagi author. Thank you... 😘
__ADS_1