
Always Happy Reading π
ββββββββ‘ββββββ
Ardi mengangguk saja saat disuruh Paul untuk membuat teh Cinnamon.
"Oke. Biasanya Sarah membuatkannya teh itu agar Jaka merasa lebih baik. Sebaiknya aku hubungi Nyonya Ningsih..." Paul bicara pada dirinya sendiri.
π Hallo...
π Selamat siang nyonya... Saya...
π Kenapa Paul? Ada apa dengan Jaka? Apa dia baik-baik saja?
Nyonya Ningsih memberondong Paul dengan pertanyaan-pertanyaannya. Ia tau anaknya sedang kurang sehat.
π Itu, tadi dia pingsan nyonya. Sekarang sudah sadar. Dokter Fandy juga sudah dalam perjalanan...
π Saya kesana sekarang.
Paul kembali masuk kedalam kamar Jaka Iya melihat Bosnya itu sedang mengganti-ganti siaran TV di hadapannya.
"Maaf Bos, apa ada hal lain yang sedang dirasakan?" tanya Paul hanya sekedar basa-basi.
Jaka menggeleng singkat.
"Aku ingin ke kantor, Paul." Jaka bicara seperti bocah yang tidak jadi dibelikan es krim oleh bapaknya.
"Hmm... anda tau jawaban saya." Paul lalu keluar menuju ke dapur. Ia tau keputusannya saat ini sudah benar. Lagipula, sebentar lagi nyonya Ningsih akan datang dan mengurus anaknya.
Saat di dapur, ia berpapasan dengan Ardi yang sudah siap mengantar secangkir teh Cinnamon ke kamar Jaka.
Tiiiit!! Tiiit!
Suara bel membuat Paul meninggalkan kesibukannya di dapur. Ia sedang mengupas jeruk untuk Jaka.
Paul membukakan pintu untuk doker Fandy.
"Apa ia baik-baik saja?" tanya dokter muda itu pada Paul.
"Saat ini baik. Tapi sifatnya agak berubah. Aku takut ada yang salah dengan otaknya. Bukan fisiknya..."
"Ck! Kau ini sudah bosan hidup rupanya. Kalau ia mendengarmu bisa-bisa... Hah... Entahlah..." omel dokter Fandy yang sangat tau watak temannya itu.
__ADS_1
Walaupun berteman, ia cukup segan pada Jaka. Pebisnis yang sukses dan kehidupan yang bersih. Tipe yang jarang ditemui saat ini. Jarang. Bukan berarti tidak ada.
Dokter Fandy sudah berada di dalam kamar Jaka. Lagi-lagi ia memeriksa pasiennya itu, yang kemarin sudah ia diagnosa kalau baik-baik saja.
Sebenarnya Dokter Fandy memiliki sebuah opini yang mungkin terdengar agak gila. Namun ia tidak berani mengatakannya langsung kepada Jaka. Ia takut orang itu akan murka karena dianggap asal bicara.
Dokter Fandy lalu mengajak Paul untuk bicara di ruangan lain. Jaka sendiri tidak peduli saat kedua orang itu pergi ke luar meninggalkannya. Bermalas-malasan rupanya cukup nyaman... Hal yang sudah jarang ia lakukan belakangan ini.
Sebelum dokter Fandy memulai obrolannya, bel pintu rumah Jaka kembali berbunyi.
"Kalian menunggu tamu lain?" tanya dokter Fandy.
"Itu pasti nyonya Ningsih. Ia bilang akan datang. Ardi, tolong kau buka pintu... Saya yakin itu Nyonya Ningsih..." Paul memerintah Ardi yang sedang bersiap untuk memasak.
"Baik Pak!" anak itu meninggalkan pekerjaannya dan langsung menuju ke depan.
Dan benar saja, tidak lama berselang nyonya Ningsih masuk dengan wajah khawatir. Wanita itu langsung menghampiri Paul dan dokter Fandy terlebih dahulu.
"Jadi bagaimana? Apa yang terjadi pada Jaka sebenarnya?" nyonya Ningsih meletakkan sekotak kue di atas meja. Kue kesukaan Jaka.
"Kebetulan, saya baru akan menjelaskan apa yang saya pikirkan mungkin terjadi pada Jaka. Kalau dilihat dari gejala-gejala yang dialami Jaka, saya berfikir Jaka itu lagi ngidam..." jelas dokter Fandy sambil menatap kedua orang dihadapannya bergantian.
Nyonya Ningsih terlihat kaget dengan menutup mulutnya. Paul sendiri hanya tersenyum tipis. Dugaannya benar, Jaka ngidam. Itu artinya Sarah sedang hamil muda.
Sindrom kehamilan simpatik ini, membuat suami atau teman dekat wanita hamil itu mengalami mual, kram, dan gejala kehamilan lainnya. Biasanya, sindrom ini hanya bersifat sementara, dan akan menghilang setelah bayi lahir.
Bisa dibilang, semakin kuat ikatan batin suami dengan sang istri, maka gejala yang ia alami juga lebih intens. Bahkan tak hanya suami ngidam, dia juga bisa mengalami pembengkakan payudara akibat meningkatnya hormon prolaktin, hormon yang membantu produksi ASI pada ibu hamil." dokter Fandy memberikan kuliah singkat.
"Wow... itu, itu luar biasa..." nyonya Ningsih tidak tahu harus menanggapi nya seperti apa.
"Eeemm... satu hal yang membuat saya bingung, Bukankah Jaka tidak punya istri? Apalagi yang mengandung..." Dokter Fandy terlihat bingung sendiri.
"Dokter Fandy... Kenapa dokter tidak bisa fokus pada sesuatu? Apalagi sesuatu itu sangat besar? Apa tidak lihat, foto pernikahan Jaka dan istrinya terpajang di depan sana?" tanya Paul sambil menunjuk ke arah ruang tamu.
Dokter Fandy hanya menggeleng. Ia lalu menuju ke ruang tamu untuk melihat sendiri apa yang dikatakan Paul. Sedangkan nyonya Ningsih dan Paul, mereka menuju ke kamar Jaka. Bagaimanapun juga, Jaka harus diberitahu tentang masalah kesehatan yang Ia alami.
Jaka hampir saja tertidur jika ibunya tidak masuk dan memanggil namanya pelan.
"Hhhmmm... ibu... pantas saja aku mencium aroma Cinnamon Roll... mau..." Jaka tersenyum manja pada ibunya.
Tanpa diminta Paul keluar untuk mengambil kontak kue yang dibawa Nyonya Ningsih dan perlengkapan makannya.
Ningsih kemudian mengambilkan sepotong Cinnamon roll untuk anak bungsunya.
__ADS_1
"Eemmm.... Sayang, sebenarnya ada yang ingin kami sampaikan kepadamu, terkait dengan kondisi kesehatan mu berapa hari ini..." nyonya Ningsih sudah duduk di sisi Jaka, di atas tempat tidurnya.
"Oke... apa dokter Fandy sudah menemukan masalahnya?" tanya Jaka sambil terus melahap Cinnamon roll yang diberikan padanya.
Hhhmmm... aku menyukainya dan ia tidak membuatku mual.
"Kamu ngidam, nak..." jelas Nyonya Ningsih dengan senyuman terukir di wajahnya.
Jaka yang dari tadi asik makan, seketika menghentikan kegiatannya.
"Kalian bercanda ya? Aku kan laki-laki. Memangnya bisa hamil? Pake acara ngidam segala..." elak Jaka.
Namun kini wajahnya menjadi pucat. Mulutnya terasa pahit. Ia memandangi ibunya dan Paul bergantian.
"Kau tidak hamil bos, tapi istrimu. Itu artinya Sarah sedang hamil muda saat ini..." jelas Paul lagi.
Jaka hanya mematung. Ia tidak tau apakah harus gembira atau sedih mendengar kabar itu...
Apa ini??!!
.
.
β‘bersambung...β‘
.
π¨Image: Google Search
.
βββββββββββββββββββββββββ
Terima kasih saya haturkan kepada semua teman-teman pembaca dan author yang sudah mau mampir ke karya ini...
Saya berharap kedepannya tulisan ini menjadi lebih baik.
Jangan lupa untuk memberi dukungan kepada author dengan cara like, komen, rate dan vote. Sekali lagi terima kasih...
Jangan lupa tunggu episode selanjutnya ya!!
__ADS_1