
Jaka baru saja melakukan pemesan meja di salah satu restoran langganannya. Ia berencana mengajak seseorang makan malam. Ia sudah cukup muak dengan kegiatannya selama beberapa minggu ini.
"Jadi, saya akan menjemputmu jam tujuh malam ini. Bagaimana?", Jaka menghubungi Sarah.
"Eem... karna anda menepati janji dengan tidak lagi datang kekantor... mungkin saya akan pergi. Apa anda benar-benar selesai?",
"Entahlah... itu urusan Bapak sekarang. Saya punya Perusahaan sendiri yang harus di urus...",
"Baiklah... Jam 7 saya akan siap", jawab Sarah.
Jaka melemparkan saja ponselnya ke atas ranjang. Sudah sejak lama ia mengamati wanita pembawa masalah itu.
"Kalau tidak ada masalah ini, mungkin kami sudah kencan...",
"I know... anda terlalu mudah di tebak. Tapi, sebaiknya jangan sampai pendekatan Bapak ini menjadi masalah baru... Yang ada masih belum usai...", jelas Paul.
"Tenanglah. Aku tau harus sampai sejauh mana... Lagipula, aku sangat penasaran alasan ia sangat terikat dengan orang ini... Kalau ia di ancam, ia bisa lapor ke polisi. Jadi pasti ada hal lain...",
"Anda benar. Hanya saja, jangan terlalu melibatkan emosi anda...",
"Apa maksudnya itu?",
"Well, anda kencan terakhir kali, hampir setahun yang lalu... jadi...",
"Hei, baru beberapa minggu lalu aku kencan dengan Debby",
"Pfftth... Debby itu masih ingusan, Pak. Ia hanya anak seorang klien yang tergila-gila dengan orang kaya dan tampan. Apa itu termasuk kencan?",
"Entahlah. Sama saja kali ini. Bagiku, tampan dan kaya memang prioritas wanita jaman sekarang. Bukankah begitu?", Jaka bertanya balik.
Paul mengangkat bahunya. Ia tidak ingin mengkritik bos nya lebih jauh. Tugasnya sebagai asisten hanya mengingatkan. Tapi jika sudah terlalu jauh, ia akan menarik Jaka kembali ke tujuan hidupnya sebagai teman.
°°°
Jam menunjukkan pukul enam lewat dua puluh, dan Sarah masih tidak mempersiapkan dirinya.
Sudah sepekan lebih Jaka tidak muncul di kantor. Begitupula dengan Paul. Dan selama itu juga Mr. Black tidak pernah memberi perintah baru.
Selain itu, Margo juga tidak pernah lagi terlihat. Itu bagus. Tapi ia tau kalau dirinya belum betul-betul terbebas dari lingkaran setan itu.
"Mungkin bertemu dengan Pak Jaka bukan rencana yang baik. Bagaimana jika mereka kembali menyuruhku untuk melakukan hal buruk? Bagaimana jika Pak Jaka dan Paul jadi target selanjutnya? Ya Tuhan... bisa gila aku...", Sarah memainkan ponsel ditangannya karna bingung.
Sarah kemudian menekan layar ponselnya. Ia berusaha menghubungi ponsel Jaka dan membatalkan pertemuan.
__ADS_1
°°°
Jaka melaju dengan tenang. Walaupun malam ini sangat ramai, tapi tidak seperti malam lainnya, ia bisa melewati macet tanpa mengumpat.
Seikat bunga tulip kuning tergeletak di sebelahnya. Mungkin agak berlebihan. Tapi ia ingin semuanya terlihat nyata. Bukan hanya sesuatu dengan tujuan lainnya.
°°°
10 Menit kemudian mobil Jaka berhenti tepat di depan lobi. Ia kemudian meraih ponselnya dan kaget karena ponselnya mati.
Setelah dihidupkan, ia mendapati tujuh missedcalls dan dua unread chat.
Jaka membuka chat dari Sarah. Jantungnya mulai rusuh.
06.45 pm
📩Maaf sebelumnya Pak. Sy coba tlpon tp pnsl bpk tdk aktif. sy tidak bisa pergi dg bpk mlm ini. ada pkrjaan dn sy harus mngurusnya dulu
📩Maaf beribu maaf
06.57 pm
📩bpk blm pergi kan. shrusnya sy infokan lbih cept. sy krg enk bdan. jgn marah pak 🙏🙏
Jaka mengerutkan keningnya. Satunya lagi chat dari Paul. Ia menebak kalau Paul juga di telpon oleh wanita itu.
Jaka menuju apartemen Sarah dengan bunga di tangan kanannya. Jantungnya kurang tenang. Tidak biasanya. Tapi ia mengabaikannya.
°°°
Sarah mengecilkan api kompor dan mengangkat mie instan yang baru selesai ia masak. Sudah dua hari ia sendirian di rumah. Kakak dan suami serta anaknya mendapatkan voucher liburan dari kantornya. Sarah kangen. Tapi juga cukup bahagia karena bebas dari kehadiran abang iparnya.
Sarah baru saja akan menyuap mienya saat seseorang menekan bel pintu apartemennya.
"Okey... tunggu...", gumam Sarah tanpa curiga siapa yang akan muncul di sana. Ia meletakkan sumpitnya.
"Hai ", Jaka mengerutkan keningnya lagi. Spontan ia menempelkan lengannya di kening wanita itu.
"Apa~",
"Apa kau demam?", tanya Jaka merasakan wajah wanita itu agak panas.
Sarah yang kaget hanya bisa mundur dan menggeleng.
__ADS_1
"Tidak!",
"Kau bilang tidak enak badan?",
"Ia. Eh... saya... Saya sibuk. Saya kan sudah bilang saya tidak bisa pergi...",
"Well, saya menerima pesan itu saat berada di bawah. Bagaimana lagi. Sekalian saja saya jenguk. Kan anda sakit...",
"Saya tidak...",
Mata Jaka menyipit. Ia tau wanita ini berbohong. Siapa saja akan tau. Tapi mempermainkannya menjadi hal lucu untuk Jaka.
"Boleh saya masuk?",
"What? Tidak... Tidak ada orang lain. Sebaiknya anda di luar saja. Kita tidak ingin orang berfikiran yang macam-macam",
"Oke. Sungguh tidak sopan... Hei... Apa kau menyalakan api??", tanya Jaka saat melihat bayangan merah dari arah ruangan yang kemungkinan dapur.
Saat itu juga wajah Sarah berubah. Ia langsung balik badan dan berlari kedalam. Jaka mengikutinya.
Sarah hanya bisa terdiam melihat api sudah naik keatas kompor dan menjangkau tumpukan kain lap.
Jaka yang muncul dibelakang Sarah tak kalah panik. Tapi ia lebih bisa menguasai pikirannya dan langsung mendekati kompor dan mematikannya. Matanya mencari-cari sesuatu tapi kemudian ia membuka jas nya dan langsung membasahinya dengan air keran. Jaka memadamkan api itu dengan Jas basahnya.
Jaka tersandar di dinding dan bernafas lega karena api itu telah padam. Sekilas ia melihat Sarah terduduk di lantai dan menutupi mulutnya.
"Seharusnya kalian punya APAR* disekitar sini...", Jelas Jaka sambil ikut duduk dilantai dan melonggarkan kemejanya.
Jaka terlalu kaku untuk masalah seperti ini. Walaupun tindakannya tidak salah, tapi ia cukup was-was karena ia tidak pernah menghadapi api sebesar ini sendirian.
"Apa anda terluka?", Sarah mendekati Jaka dan memandangi Jaka dari atas sampai kebawah.
Hal itu cukup membuat Jaka tegang dan salah tingkah.
Hari macam apa ini...
Note:
APAR* (Alat Pemadam Api Ringan)
♡
♡
__ADS_1
♡
bersambung....