
Jaka mengamati orang-orang dari Bugs Stop melakukan pekerjaannya. Kadang pikirannya kembali mengingat beberapa kejadian tadi. Ia berdehem.
Jaka keluar. Dari yang ia lihat, ada lebih banyak kecoa dari yang mereka temukan semalam. Kecoa-kecoa itu berasal dari langit-langit apartemen. Mereka bilang perlu waktu dua atau tiga jam untuk melumpuhkan semuanya.
Jaka juga menghubungi tukang ledeng. Keran air itu memang berumur sama seperti bangunannya. Tidak heran kalau ia patah dan menimbulkan kekacauan.
Jam 12.47 PM
Tukang ledeng yang terlambat datang itu akhirnya pulang.
Jaka mengetuk kamarnya untuk memberitahukan Sarah, kalau ia sudah bisa kembali ke kamarnya.
Tok tok tok
"Sarah?",
Tidak ada jawaban.
"Sarah, kembalilah ke kamarmu. Kita akan ke rumah pamanmu kan?", Jaka mengecek jadwal di ponselnya.
Sarah yang tadi ketiduran, akhirnya bangun dan mendekati pintu.
"Pak, bisakah bapak mengambil koperku? Tolong?", Sarah memohon.
"Baiklah",
Koper itu Jaka letakkan di depan pintu. Ia kemudian kedapur untuk membuat cokelat hangat.
Setelah selesai bersiap, Sarah keluar kamar dengan membawa kopernya kembali ke kamar.
"Pak, anda memakai pakaian basah itu sepanjang waktu?",
"Ya, mau bagaimana lagi", Jawab Jaka yang sedang memegang dua gelas Cokelat hangat.
"Sebaiknya bapak ganti baju dulu. Saya akan buat sup", Sarah mengambil alih gelas yang dipegang Jaka.
"Ah, tidak usah... kita makan di luar saja. Setelah itu langsung ke rumah pamanmu. Aku takut cuaca hari ini tidak terlalu baik...", Jaka menunjuk keluar jendela.
°°°
Jaka sudah memilih restoran Jepang untuk makan siang mereka. Ia memesan sushi dan ramen. Sarah hanya mengikut, ia tidak terlalu kenal dengan makanan Jepang. Ia lebih suka masakan korea yang berkuah. Kimchi, Jjamppong, Sundubu Jjigae dan lainnya.
"Hmmm... ramen tidak buruk... ini enak...", jelas Sarah sambil melahap ramen nya.
"Yang terbaik di New York. Selain itu, es krim yogurt nya tidak kalah enak...",
"Eh, ya... tapi aku sedang tidak mau es krim di cuaca sedingin ini...",
"Aku tau...".
°°°
__ADS_1
Sarah turun dari mobil mini cooper milik Jaka. Ia cukup yakin disinilah rumah Paman Roger. Bangunan tiga lantai, dimana lantai pertamanya adalah restoran yang tengah tutup dan dua lantainya lagi adalah rumah mereka.
Sarah membuka email terakhir dari sepupunya, Karrie. Ia melihat foto yang ia terima.
Sama.
Tapi kakinya ragu untuk melangkah.
"Setelahmu, nona",
"Entahlah...",
Sejurus kemudian seseorang keluar dari pintu restoran.
"Aunty Clara...",
Yang disebut namanya menoleh.
"Sarah! Oh my God! Oh, Sarah... you here...",
Sarah mendekati wanita ramping itu. Wanita bernama Clara tadi langsung memeluknya. Seperti ibu yang akhirnya menemukan anaknya yang hilang
Aunty Clara mengajak Sarah dan Jaka masuk.
"And, siapa ini?",
"Saya Jaka, tunangan Sarah...", jawab Jaka enteng.
Sarah melotot.
"Oh, great... dimana kalian tinggal?",
"Apartemen milik Jaka. Di Binary Flat 67th", jawab sarah yang selalu melihat alamat rumah yang terpasang di depan pintu masuk rumah Jaka.
"Wah... eksklusif...",
Jaka hanya tersenyum.
Aunty Clara mengajak mereka naik.
"Bapak bukan tunanganku...", bisik Sarah.
"Saya kira kita masih memainkan peran itu...", Jaka ikut berbisik.
"Ah, sudahlah...",
°°°
Mereka masuk mengikuti langkah Aunty Clara. Ternyata restoran mereka sedang dalam renovasi.
Di lantai dua, mereka bertemu dengan Uncle Roger.
__ADS_1
"Oh my lord... Sarah... Ini benar-benar Sarah yang om kenal? Wah...wah... sudah besar ya... terakhir kamu disini saat senyum itu masih memamerkan gigi kelinci...", Uncle Roger membuka tangannya menyambut serbuan Sarah.
Sarah memang lumayan dekat dengan pamannya itu.
Ia ingat saat mereka belum memiliki Karrie, Sarahlah yang selalu di gendong di pundak pamannya. Bibi Clara suka sekali menguncir rambutnya yang tebal menjadi beberapa bagian.
"Apa kabar, uncle? Perkenalkan, ini Jaka...", Sarah berusaha mengenalkan sesingkat mungkin. Ia ingin tidak ada pertanyaan tentang siapa Jaka. Karena berbohong dengan bibi Clara sudah lumayan ekstrim, ia tidak ingin mengulanginya. Tapi kalau ia meralat kata-kata Jaka, ia takut orang itu malah tersinggung.
"Dan ini adalah tunangannya... See that Roger, mungkin sudah waktunya Karrie memiliki pacar...", Bibi Clara yang malah memperkenalkan Jaka.
Jaka lalu mengulurkan tangannya pada Jaka. Tapi bukan hanya menyambut, paman Roger malah menarik Jaka kedalam pelukannya.
"Kalian sangat cocok..."
"Thank you, sir", Jaka tersenyum.
Kadang Sarah berfikir kalau ia suka dengan senyuman Jaka.
Ah, tidak. Ia suka segalanya tentang laki-laki itu. Caranya membuat Sarah merasa aman, merasa diinginkan...
"Ehm.. oke... dimana Karrie dan Matt? Apa mereka di atas?", Sarah berusaha fokus.
"Ah, tidak... Sayangnya mereka sedang ada kegiatan. Karrie sedang melakukan penelitian di New York Hospital. Bulan depan ia akan sidang akhir kuliahnya...", bibi Clara menjelaskan. Paman Roger kembali dengan empat botol soda.
"Benar, ia sempat menyinggungnya saat terakhir kali kami berbalas e-mail. Hal itu mengingatkanku betapa tuanya sudah usiaku... Bagaimana dengan Matt?",
"Ia di rumah temannya. Biasa anak laki-laki... selalu main game. Apalagi sedang booming game online seperti saat ini...", jelas bibi Clara lagi.
Obrolan mereka sangat akrab. Bahkan Jaka sendiri mampu masuk kedalam obrolan itu dan membuat dirinya terlihat sebagai bagian dari keluarga.
°°°
"Kalian yakin tidak akan menunggu hingga makan malam", bibi Clara sangat ingin keponakannya itu ikut makan malam dengan mereka.
"Sayang sekali, aunty... Sarah harus menemani Jaka. Ada urusan yang masih harus kami selesaikan... Sarah hanya ingin, sebelum kembali ke Indonesia besok, Sarah sudah mampir kesini...",
Paman dan bibinya hanya bisa mengiyakan.
Sarah dan Jaka pergi.
"Mereka sangat ramah. Mengapa kalian tidak makan malam saja? Aku bisa menjemputmu lagi nanti",
"Jangan. Aku terlalu merepotkan. Lagipula kita juga sudah pergi dari sana. Tidak usah dipermasalahkan lagi...",
Mereka kembali menuju apartemen. Mereka memutuskan untuk take away burger dan kentang untuk makan malam.
Di Apartemen Jaka
Sarah meletakkan bungkusan makanan mereka di dapur. Ia lalu membuat dua gelas cokelat panas. Sarah meninggalkannya dan bergegas masuk kamar dan mengganti pakaiannya. Ia juga membersihkan wajahnya lalu menggunakan pelembab. Cuaca hari ini membuat wajahnya kering.
Sarah keluar dengan baju tidur selutut. Sarah merasa nyaman sekali mengenakan baju selonggar itu.
__ADS_1
Sayang jika tidak di pakai...