
๐ Happy Reading ๐
Jaka membawa beberapa barang yang ia perlukan di rumahnya yang baru. Sebagian besar adalah peralatan kerjanya seperti laptop, printer dan beberapa hal lain. Ia sendiri tidak berniat menjual apartemen itu sekarang.
"Apa kamu sudah siap sayang?"
"Ya... hanya menunggumu..." jelas Sarah lagi.
Sarah mulai terbiasa dengan Jaka yang selalu memanggilnya sayang. Tapi ia belum berani melakukan hal serupa.
Mereka berdua meninggalkan apartemen itu. Jaka berharap, dengan kesempatan yang diberika Tuhan padanya untuk berkumpul bersama Sarah lagi, hidupnya akan lebih baik. Apalagi bapaknya sudah menerima Sarah dan melupakan dendamnya pada keluarga istrinya.
Satu hal yang diinginkan Jaka saat ini adalah menggelar resepsi pernikahannya dengan Sarah. Agar semua orang tau kalau mereka telah menikah secara resmi...
โปโปโป
Saat mereka masuk ke pekarangan rumah baru mereka, Sarah langsung tersenyum. Ia tidak menyangka akan menempati rumah yang jauh dari keramaian seperti ini. Suasananya membuat tenang. Mobil mereka berhenti tepat di depan rumah. Mereka langsung turun.
Cklek
Jaka membuka pintu rumahnya. Mereka berdua merasa takjub dengan pemandangan di depan mereka.
Kalila mengerjakan semuanya dengan luar biasa hebat. Nuansa putih yang dipilihnya, sesuai dengan keinginan Jaka. Ya, Jaka dengan khusus meminta Kalila untuk memberika nuansa putih yang lebih dominan. Alasannya simple, Sarah menyukai warna putih.
"Ini... cantik sekali..." gumam Sarah pelan. Tanpa sadar ia merangkul lengan Jaka. Namun saat sadar, ia langsung menariknya lepas "Ma-maaf... Saya lancang."
"Hhmmm apa? Aku malah senang kau melakukannya." Saat ini giliran Jaka yang merangkul pundak istrinya.
Ia mengajak Sarah beralih.
"Ini pasti ruang keluarga... Aku suka tanaman asli yang ia pakai... " Jaka menjelaskan.
Sarah hanya mengangguk-angguk tanda paham. Ia menyentuh tanaman itu. Benar sekali. Tanaman asli. Ia akan mengurusnya dengan senang hati...
Suasana cozy membuat mereka ingin bersantai sejenak. Tapi Jaka masih ingin melihat bagian lainnya.
"Ayo kita lihat dapurnya..." ajak Jaka lagi.
Mereka lalu menuju kedapur. Hal terakhir yang Jaka ingat adalah wallpaper yang terkupas dan meja makan tanpa kursi.
"Ini cantik sekali... Apa benar ini rumahmu?" tanya Sarah seakan tidak percaya.
"Ini rumah kita sayang... Aku senang kau menyukainya..." Jaka membenarkan. Ia senang temannya itu berhasil membuat Sarah bahagia.
Sarah menyalakan air keran dan mencuci tangannya.
"Airnya sejuk... Padahal cuaca sedang panas..." Sarah menjelaskan.
Jaka hanya tersenyum melihat istrinya, yang sedang mengeksplor dapur itu lebih jauh.
"Dilantai satu ada kamar tidur tamu. Apa kau ingin melihatnya? Kalau tidak, kita bisa langsung ke atas melihat kamar tidur kita..." Jaka menawarkan.
"Saya ingin lihat yang dibawah dulu..." jawab Sarah.
Mereka lalu kembali ke kamar tidur tamu di lantai dasar ini.
Cklek
"Hmmm... Simple dan elegan... Saya menyukainya..." jelas Sarah.
__ADS_1
"Yang ini kamar mandinya di luar..." Jaka menjelaskan.
Mereka keluar untuk melihat kamar mandinya.
Cklek
"Aku semakin suka melihat warna putih. Sangat bersih." Sarah tersenyum.
"Kau memang menyukai warna putih sejauh yang ku tau..." Jaka menambahkan.
Sarah tersenyum mendengar kata-kata Jaka.
"Ayolah, kita lihat kamar tidur utamanya. Aku harap kau suka. Karena kita berdua akan lebih sering disana..." jelas Jaka yang kemudian mengangkat tubuh istrinya.
Seperti tanpa beban, Jaka membawa Sarah menaiki anak tangga.
"Pa-pak! Saya bisa jalan sendiri... Turunkan saya..." jelas Sarah yang saat ini hanya bisa mengalungkan tangannya di bahu suaminya. Wajahnya tersipu menahan malu.
"Kau sedang hamil. Tidak boleh terlalu lelah." jelas Jaka lagi.
Setelah sampai di depan kamar tidur utama, mereka lalu membuka pintunya.
Cklek
Mereka berdua kagum dan tersenyum. Kamarnya menjadi agak berbeda karena nuansanya gelap disana. Mereka memasukinya dan membuka horden jendela yang pemandangan dari balkonnya langsung ke arah pantai.
Balkonnya sendiri sangat cantik.
Sepertinya aku akan sering berada disini. batin Sarah.
"Mau lihat kamar mandinya?" tawar Jaka pada Sarah.
Jaka membuka pintu kamar mandinya dan mereka berdua tidak henti-hentinya tersenyum.
"Bathtub? Apa anda punya waktu hanya untuk berendam disana?" tanya Sarah yang sudah masuk kedalamnya.
"Apa kau tidak suka? Aku bisa merubahnya." Jaka menjelaskan.
"Hei... ini keren. Saya hanya sedang terkagum-kagum..." Sarah khawatir Jaka akan merubahnya jika ia salah bicara "Rumah ini sempurna..." gumam Sarah menahan haru.
Ia tidak mengira kalau memiliki kehidupan yang sangat luar biasa. Suami yang menyayanginya saja sudah cukup. Tapi limpahan perhatian yang diberikan Jaka membuatnya teramat bahagia.
"Di samping kamar ini, ada satu kamar lagi kan? Apa itu ruang kerjamu?" tanya Sarah pada Jaka.
Bukannya tadi Pak Jaka membawa beberapa alat kerjanya? Sarah membatin.
"Yang itu masih kufikirkan. Belum direnovasi, baru dikosongkan saja. Tapi saat melihatmu, aku jadi berfikir untuk menjadikanya kamar bayi. Bagaimana?" tanya Jaka meminta persetujuan Sarah.
Wanita itu lagi-lagi tersenyum bahkan hampir melompat kegirangan.
"Benarkah?" Sarah seakan tidak percaya.
"Terserah padamu sayang..."
"Terima kasih ya... Padahal saya belum bisa mengingat apa-apa, tapi..."
"Hm, tapi? Tapi apa?"
"Tapi anda begitu baik pada saya..."
__ADS_1
"Sayang, mungkin kau tidak mengingat apa-apa... Tapi aku selalu mengingat rasa cintaku padamu yang begitu besar. Aku akan sabar dan menunggumu mengingat cinta kita kembali..." Jaka memeluk Sarah lembut. Ia sangat bersyukur untuk moment ini lebih dari apapun.
Ding Dong!!
Ding Dong!!
Ada tamu... Ada tamu..
Suara bel itu sukses membuat mereka berdua saling pandang-pandangan dan kemudian tertawa bersama.
"Itu lucu sekali..."
"Ya, itu bel model lama rumah ini. Aku tidak mengira suaranya masih bagus dan Kalila tidak menggantinya. Ngomong-ngomong, itu pasti Kalila. Aku memintanya datang saat kita kemari tadi..." Jaka menjelaskan.
Mereka berdua lalu turun untuk menemui sang designer rumah ini.
Cklek
"Hai Jaka..." Kalila maju dan langsung cipika-cipiki pada Jaka "Hai Sarah..."
Sarah tersenyum tipis.
"Ehem! Saya tidak suka cara anda memperlakukan suami orang," Sarah to the point.
"Maaf? Siapa yang suami orang?" Kalila terlihat bingung.
"Oke. Ayo kita masuk saja. Diluar panas." Jaka mencoba meredam pertikaian yang mungkin akan terjadi "Jadi begini Kal, sebenarnya kami sudah menikah sekitar empat bulan yang lalu..."
Mata Kalila melotot kaget. Tapi kemudian ia tersenyum dan kembali terlihat profesional.
"Selamat ya, untuk kalian..." Ia menyalami Jaka dan Sarah bergantian.
"Jadi, tentang ruang yang ku minta untuk dikerjakan nanti, kurasa tidak jadi untuk ruang kerja... Kami ingin membuat kamar bayi saja..."
"Hah? Bayi?" Kalila kaget.
Secepat itu? batin Kalila lagi.
"Ya..." Jaka lalu mengelus-elus perut Sarah yang membuncit. "Apa kau bisa mengerjakannya?"
"Oh.. oh- tentu saja mudah bagiku. Kau tau aku siapa..." Kalila menyombongkan dirinya.
Sarah tidak ingin mengomentari obrolan mereka. Ia menjadi pendengar yang baik kali ini.
"Bagus." Jaka tersenyum.
"Aku akan mulai mengerjakan designnya malam ini. Lusa akan kami mulai. Bagaimana?" tanya Kalila meminta persetujuan keduanya.
Jaka mengangguk setuju. Ia merangkul pundak istrinya.
Kalila semakin panas melihat kelakuan sepasang suami istri itu. Ia lalu pamit pulang dengan alasan ada urusan lain.
"Terima kasih ya..."
Jaka dan Sarah melambai pada mobil Kalila yang semakin menjauh.
.
.
Jaka melihat jam. Sudah pukul dua siang, pantas saja ia merasa kelaparan. Ia mengumpat dalam hati.
Ck! Pasti Sarah lebih lapar. Dia kan sekarang membawa seorang bayi di dalam perutnya!
"Kita makan dulu yuk..." Jaka lalu menggandeng istrinya keluar rumah untuk makan siang.
๐bersambung...๐
__ADS_1
๐จImage: Google Search (Tanpamu apalah arti episode ini ๐)
Next Episode: Ada Jaka dan Sarah yang ketemu lagi dengan Debby. Terus, rencana mereka untuk pulang ke rumah orang tua Sarah. Stay disini yaaa... Terima kasih ๐