Lay With The Devil

Lay With The Devil
Pertemuan Dengan Teman


__ADS_3

Sarah membuka pintu kaca toko kelontong yang sudah dilakukannya dua bulan belakangan ini.



Biasanya pagi-pagi sekali Sarah akan berjalan kaki menuju ke toko tempat ia bekerja. Lalu ia akan sampai dalam sepuluh menit.


Tapi jika ia bertemu dengan Rangga, perjalanannya hanya berlangsung sekitar tiga menit saja.


Ya, Rangga akan bersikeras mengantar Sarah. Awal mula perkenalan mereka karena tidak sengaja.


Rangga tidak sengaja meninggalkan dompetnya di rumah saat membeli minum di toko yang Sarah jaga. Toko Lengkap Jaya. Begitu namanya.


"Jadi gimana dong? Mana sudah saya minum dua botol mbak..."


"Saya bukan pemilik disini mas. Saya juga baru seminggu bekerja di sini... Bisa rugi saya kalau gini terus..."


Kala itu Rangga yang akan membayar minumannya, harus menahan malu saat menyadari kalau dompetnya tidak ada. Ia minta izin untuk pulang dan mengambil dompetnya. Tapi Sarah menolak.


Kejadian itu sangat lucu, sampai-sampai Sarah selalu tertawa saat ia dan Rangga mengingatnya.


"Hai Sar... Aku rokok Dunhill putih dong satu..." Rangga meletakkan selembar uang lima puluh ribu di meja kasir.


"Cck! Masih pagi sudah bikin polusi..." Sarah meletakkan uang Rangga kedalam cash drawer yang ia jaga. Tidak lupa ia memberikan kembalian dan rokok yang diminta Rangga.


"Bilang ibu, Kenapa kemaren sore gak kerumah?" tanya Rangga setelah menyimpan rokoknya.


"Itu... Abang ku marah kalau aku setiap hari kesana. Katanya kakak ipar ku sering kelelahan belakangan ini. Jadi aku harus membantunya dirumah..."


"Tapi gaji mu kan sudah kamu kasih ke mereka. Masa musti kerja juga di rumah... Pasti alasan orang itu saja..."


"Iya sudahlah... mau gimana lagi... Cuma mereka keluargaku..." Sarah menjawab santai.


"Aku heran dengan abangmu. Rasanya kok over protektif banget. Pacar juga gak bakal kayak gitu..." Rangga masih dalam pembahasan itu.


"Ehem!! Memangnya kamu tau rasanya?"


"Apa?" Tanya Rangga bingung "Di larang-larang gitu?"


"Enggak. Punya pacar? Hahahha... kamu kan jomblo abadi di kampung ini..."


"Buset dah. Mulutnya udah kayak cabe ya. Pedes!"


"Lah, kan bener. Mantan aja udah nikah minggu lalu... Kagak di undang pula... Hahahahah... hahahah..." Sarah tertawa sampai perutnya sakit.


Rangga lalu menutup mulut Sarah dengan tangannya.


"Ssth!! Buka aib aja sih!!" Omel Rangga. Padahal tidak ada yang mendengar obrolan mereka.

__ADS_1


"Ish!! Lepasin!! Tanganmu bau rokok tau!! Hueek!! Enggak banget!!" Sarah ngomel-ngomel. Ia berlari menuju toilet untuk membasuh wajahnya.


Saat kembali, Rangga sudah tidak ada di sana. Tapi sarah menemukan sebuah es cream dan selembar uang sepuluh ribu.


Pasti kerjaan Rangga... batin Sarah.


Ia lalu mengembalikan Es Cream itu dan mengantongi uang itu pemberian Rangga.


Sorry, Ga. Bukannya aku gak mau terima es cream darimu. Tapi aku punya rencana lain untuk uang-uang yang selalu kau beri setiap kau mampir...


Sarah kemudian membuka tasnya dan memasukkan uang tadi kedalam kotak kecil yang ia bawa setiap saat.


Ia kembali menyibukan dirinya. Setelah selesai menyapu, Sarah lalu membersihkan sedikit debu yang datang setelah di tinggal semalaman. Tidak lupa dinyalakannya blower agar debu-debu yang berterbangan tersedot keluar.


kling


Pintu kaca tokonya terbuka. Ibu Indy masuk sendirian.


"Ibu? Barusan Rangga kesini... beli rokok..."


"Iya. Tadi dia juga yang ngantar ibu kesini. Ibu mau belanja..."


"Gak di temenin, bu?"


"Ada orderan katanya. Nanti juga kesini lagi jemput ibu..." jelas ibu Indy yang sudah menenteng sebuah keranjang belanjaan. Ia memilih yang ukurannya agak besar.


Hari ini pasti akan melelahkan. Karena teman kerjanya - Anna, belum datang. Ia mengabarkan kalau ia ada urusan di bank. Jadi, baru masuk kerja jam satu nanti.


Ia meninggalkan meja kasir dan masuk kegudang untuk mengambil stok barang yang kosong. Tapi, saat Sarah baru saja ingin mengangkat kotak barang dari atas rak, tiba-tiba pandangannya kabur. Matanya berkunang-kunang.


Bruk!!


Sarah terjatuh. Ia sempat berpegangan pada tepi lemari, tapi tenaganya tidak cukup kuat.


Karena suasana toko yang masih sepi, ibu Indy mendengarnya jelas sekali.


"Astagfirullah!! nak Sarah!!" bu Indy buru-buru menyusul Sarah yang tadi dilihatnya masuk ke gudang.


Ia mendapati Sarah sudah tergeletak di lantai gudang.


Ibu Indy langsung sigap memberikan bau-bau yang menyengat. Untung saja mereka di toko, ibu Indy mengambil sebotol kecil minyak angin aroma therapy dan mendekatkannya ke hidung Sarah.


Beberapa saat kemudian, Sarah mulai sadar. Hanya sepuluh menit saja ia sempat tidak sadarkan diri.


Sarah bangun dengan perasaan bingung.


"Bu? Kok masuk ke sini? Sarah... kok duduk di lantai?" Sarah bingung.

__ADS_1


Bu Indy memberikan sebotol air mineral pada Sarah.


"Kamu pingsan tadi..."


"Pantasan kepala Sarah masih terasa berputar..."


kling


"Bu. Ada orang... Sarah-"


"SARAH?! SA-"


"Saya di gudang Pak!" Mau tidak mau Sarah menjawabnya dengan sedikit berteriak. Ia mengenali suara itu.


Orang yang memanggil tidak lain adalah Pak Candra. Pemilik Toko itu. Saat menemukan Sarah dan bu Indy, ia jadi kaget.


"Loh! Kenapa di sini Bu? Sarah kenapa?"


"Dia pingsan. Ini baru ibu bangunkan..."


"Wah, terim kasih ya bu!!" Pak Candra membantu Sarah berdiri. Ia meletakkan punggung tangannya di kening Sarah. Normal.


Duh! Pak Candra main tempel aja! Kan ada ibu-ibu disini... Entar mikir kemana-mana lagi...


Sarah mundur sedikit.


Bu Indy yang melihat gelagat Candra kepada Sarah hanya bisa berspekulasi.


Masa orang ini sih? Dia kan duda... Ck! Sarah... Sarah...


.


.


♡♡♡ bersambung~~♡♡♡


———————————★★——————————


Eheeem!! Kira-kira bu Indy mikir apa ya...


Oiya, ada revisi tambahan di eps. Visual pt.3...


Maafkan saya yang hanya manusia biasa....


Tempatnya salah dan dosa 😔😔😔


Please... jangan lupa like, koment & vote.

__ADS_1


Supaya saya makin semangat up 😆.


Terjma kasiih 🙏🙏🙏


__ADS_2