
Jaka sudah lelah mengganti saluran TV dihadapannya.
tok tok tok
Cklek
Ardi masuk ke kamar Jaka dengan sebuah bungkusan dan piring.
"Ini tuan... Gado-gado yanh di warung ujung..." jelas anak itu seraya menyodorkan bungkusan gado-gado.
"Akhirnya... Antrinya panjang ya?"
"Iya tuan... kok tau..."
"Langganan saya dan Paul. Memang hari-hari begitu. Terima kasih ya. Saya mau makan dulu. Sudah ngiler nyium baunya..." jelas Jaka yang sudah tidak memperdulikan Ardi.
Dibukanya bungkusan itu.
Oh my lord... Cantik banget...
Dengan tanpa basa-basi Jaka melahapnya. Ia bahkan tidak sadar kalau Ardi masih berada disana. Asisten rumah tangga muda itu terpesona dengan cara makan Jaka yang sangat lahap.
Tidak perlu waktu lama untuk Jaka menghabiskan sebungkus gado-gado itu.
"Kenyang tuan?" tanya Ardi mengagetkan Jaka.
"Shyt! Ku kira kau sudah keluar. Eemm... belum sih." jelas Jaka sambil memasukkan kertas sampahnya kedalam plastik.
"Ini masih ada sebungkus lagi jika tuan mau..."
"Itu punyamu? Tidak usah lah. Kamu saja yang makan..."
"Saya akan makan nasi goreng yang tadi tuan..." jelas Ardi.
Jadilah Jaka menyantap bungkus gado-gado keduanya. Ia sangat kenyang. Dan ajaibnya, perutnya menerima tanpa ada penolakan.
"Saya permisi tuan..." Ardi meninggalkan Jaka dengan membawa piring kotornya.
Ia menghubungi Paul.
π Paul, jemput aku jam sepuluh ini ya. Aku akan ke kantor.
π Apa kau sudah sehat?
π Yah, lumayan. Sekarang sudah lebih baik.
π Oke. Jam sepuluh ku jemput.
Jaka mengetik sebuah pesan untuk Nathan.
__ADS_1
π¨ Bagaimana? Apa ada kemajuan?
Tidak perlu waktu lama, Jaka menerima balasan.
π© Aku akan menginfokan jika ada kabar penting. Tunggu saja.
Itu artinya tidak ada kabar. Tidak ada progress. Ck! Bahkan orang seperti Nathan saja tidak bisa menemukannya... Aku tidak ingin berfikir kalau kau... Tidak!! Kau tidak boleh, Sarah!!
β»β»β»
Sarah tidak sengaja menjatuhkan kotak berisi pouch minyak goreng saat akan mengangkatnya. Perutnya terasa nyeri. Tapi hanya sebentar saja. Sekarang sakit itu sudah hilang.
"Duh, Sar... Kenapa? Kakimu gak apa-apa?" tanya Anna yang kemudian meletakkan kotak yang ia bawa.
"Iya, gak apa-apa. Tadi tiba-tiba perutku nyeri. Terus ngerasa kalau akan pingsan. Tapi enggak jadi... aneh sih..."
"Ih... ada-ada saja loh kamu ini... Apa mau ke klinik dulu? Periksa. Mana tau parah..."
"Anna!! Jelek banget doa nya..." Sarah manyun.
"Heheheh... maksudnya bukan gitu. Periksa aja. Mana tau harus di obati gitu loh..." Anna meralat kata-katanya.
"Iya-iya. Nanti sore aku periksa. Bawel banget sih..." Sarah menjawab ketus.
Sebenarnya dari kemarin ia ingin periksa. Tapi ia lupa jika sudah jamnya pulang kerja.
Sudah beberapa hari semenjak pertemuannya dengan bu Indy, membicarakan tentang keluarga Sarah. Rencana mereka untuk melapor ke polisi juga harus tertunda karena beberapa hari ini ia di antar jemput oleh bang Aris. Ia harus punya alasan agar bisa ke klinik...
β»β»β»
"Apa kau sudah siap?" Tanya Paul saat Jaka tidak kunjung keluar dari kamarnya.
Namun tidak ada jawaban dari dalam. Paul langsung menghampiri kamar Jaka. la menemukan bos nya itu tergeletak tidak sadar di lantai kamarnya.
"Ardi! Kemari! Bos mu pingsan!" Panggil Paul. la tidak bisa mengangkat bosnya itu sendirian.
Tidak lama berselang, Ardi datang. Mereka berdua lalu mengangkat Jaka ke atas tempat tidurnya. Paul langsung menghubungi dokter Fandy, dokter yang biasa ditemui Jaka.
π Hallo! Dokter Fandy! Jaka pingsan. Bisa kau datang dan memeriksanya?
π Oke. Saya kesana
π Lalu saya harus apa?
π Ada luka atau memar di kepala?
Paul memeriksanya. Syukurlah tidak ada.
π Tidak ada dok!
π Oke oke. Berikan minyak kayu putih di depan hidungnya. Seharusnya berguna.
__ADS_1
π Baiklah. Cepat kemari. Pasti ada haΕ yang
menyebabkan ia pingsan. Kami tunggu, dok!
"Coba cari minyak kayu putih. Buat dia sadar dulu." Paul memerintahkan.
Ardi langsung kembali ke kamarnya. la punya
minyak kayu putih. Daripada ribet mencari di kamar tuannya, lebih baik gunakan yang ada.
"Ini Pak" Ardi memberikan botol minyak itu pada Paul.
Paul kemudian membalurkan nya di bawah hidung Jaka. Benar saja, setelah beberapa kali dioleskan, Jaka mulai sadar.
"Uuh... Bau apa ini. Hidungku panas."
"Kau kenapa pingsan? Tanya Paul to the point.
"Eemmm... andai aku tau. Kalau tidak salah tadi perutku nyeri sekali. Tiba-tiba balckout."
"Kau ini kenapa sih?! Minta jemoput ke kantor segala lagi..."
"Ya, tadi kan aku sudah baik-baik saja. Malahan aku bisa makan dua bungkus gado-gado Simpang." jelas Jaka menyebutkan nama warung gado-gado di ujung komplek. Gado-gado Simpang Bik Surti.
Paul kemudian duduk di ujung tempat tidur. Ia melepaskan sepatu Jaka.
"Hei. Aku akan ke kantor." Jaka protes.
"Ssth!! Bawel banget. Diam disana sampai dokter Fandy datang." jelas Paul yang terus melakukan kegiatannya.
Setelah itu Paul keluar dan menemui Ardi yang sedang melakukan kesibukannya di dapur.
"Ar, tolong buatkan teh cinnamon. Bisa?" tanya Paul pada Ardi.
Pemuda itu mengangguk.
"Oke. Biasanya Sarah membuatkannya teh itu agar Jaka merasa lebih baik. Sebaiknya aku hubungi Nyonya Ningsih..." Paul bicara pada dirinya sendiri.
π Hallo...
π Selamat siang nyonya... Saya...
β‘bersambung...β‘
π¨Image: Google Search
βββββββ β βββββββββ β ββββββ
Jangan lupa kasih like nya, komen nya, rate nya, vote nya terus di jadiin favorite deh!!
Terima kasih juga saya haturkan untuk segala jenis dukungannya. Semoga kalian gak jera yaa...
__ADS_1
Tunggu episode selanjutnya ya... ππ