Lay With The Devil

Lay With The Devil
Disosiasi Kesadaran


__ADS_3

Hallo... Maaf saya telat Up. Semalam ketiduran... Mohon di maklumi yaaa... Semoga kalian gak kecewa πŸ˜₯. Lanjut ceritanya~~


————————————●————————————


Jaka hanya bisa memandangi Sarah dari tempatnya berdiri sekarang. Istrinya sedang bicara dengan pengacara Lee dan detektif Junot. Mereka juga sedang menunggu dokter Fandy untuk datang dan memeriksa keadaan Sarah.


"Apa kau sudah merasa lebih baik bos?" tanya Paul menepuk bahu Bosnya, yang dari tadi pandangannya tidak lepas dari Sarah.


"Lebih baik bagaimana? Jika melihat istri sendiri diborgol seperti itu?" Jaka memijat keningnya.


"Pengacara Lee itu terbaik se-Asia... Ibu yakin Sarah akan bebas. Kamu yang sabar ya..." Nyonya Ningsih memeluk anak bungsunya.


Pak Ismail yang ada disamping istrinya, hanya bisa mengiyakan kata-kata istrinya. Iya sendiri terenyuh melihat perempuan malang itu menghadapi masalah sebesar ini. Dendamnya selama ini tiba-tiba saja menguap entah kemana.


"Sebaiknya kamu duduk dan beristirahat. Ingat, perutmu masih kosong setelah kau mengeluarkan seluruh makan siang mu tadi." Paul menjelaskan.


Tiba-tiba Jaka merasa lapar.


"Sarah pasti belum makan, kan? Paul, beli makanan untuk kita. Sekalian untuk seluruh polisi disini. Ini sudah jam delapan. Seharusnya kita semua sudah makan malam..." jelas Jaka pada Paul.


Dengan sigap Paul menerima perintah itu. dia Lalu memesan dua puluh bungkus ayam bakar dan nasinya melalui ponsel aplikasi.


β€»β€»β€»


Sarah merasa aman berada di sekitar orang-orang ini. Tapi ia jadi tidak enak dengan Jaka karena tidak bisa mengingatnya. Padahal terlihat sekali kalau Jaka terus memperhatikannya.


"Maaf... Saya ingin bicara dengan Pak Jaka jika boleh..." ia meminta ijin kepada detektif Junot.


"Oh, iya... Tentu saja anda ingin bicaea dengan suami anda... Tunggu sebentar saya panggilkan..."


Detektif Junot lalu meninggalkan Sarah dan pengacara Lee di meja itu. Ia menemui Jaka yang dari tadi memandang mereka dari kejauhan.


"Maaf Pak Jaka, Nyonya Sarah ingin bicara dengan Anda..."


"Benarkah? Oke baiklah..."

__ADS_1


Pengacara Lee juga kemudian menjauh dari meja itu.


"Apakah kau ingin bicara denganku say- Sarah?" Jaka meralat kata-katanya.


"I-iya Pak... Eh... Maaf..."


"Panggil aku apa saja. Kau mengingatkanku saat sebelum kita menikah..."


Pipi Sarah tersipu malu.


Orang ini begitu tampan. Tapi terlihat lelah. Apa karena mencariku?


"Saya... Kata polisi yang membawa saya, yang melaporkan kehilangan saya adalah anda dan orang tua saya... Apakah... Saya bisa bertemu dengan mereka? Siapa tau saya bisa mengingat sesuatu..." jelas Sarah yang merasakan kerinduan kepada orang tuanya.


"Masalah itu... Jadi, setelah kau menghilang... Ayahmu sakit. Maka dari itu mereka tidak bisa datang kesini..."


"Apa saya boleh menghubunginya?"


Jaka bingung bagaimana lagi cara menolak permintaan Sarah. Kalau mereka tau Sarah sudah ketemu, pasti mereka akan datang secepat mungkin. Tapi Jaka takut jika kesehatan ayah mertuanya semakin memburuk saat mengetahui anaknya terjerat kasus pembunuhan. Seperti lolos dari mulut buaya, masuk ke kandang macan.


Sarah terlihat kecewa dengan jawaban Jaka.


"Kalau begitu, kapan aku bisa menemui mereka?" tanya Sarah yang masih berharap.


"Kalau sidangnya berjalan dengan lancar, paling lama sebulan lagi... Jadi kita harus fokus menghadapi sidang ini dulu. Apa kau baik-baik saja?" tanya Jaka memastikan keadaan istrinya.


"Baiklah kalau begitu. Eemm... aku, Bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Tentu saja. Kau boleh menanyakan apa saja..."


"Apakah aku istri yang baik?" tanya Sarah dengan suara yang lebih pelan.


Jaka hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan istrinya itu.


"Kau Istri terbaik di dunia. Aku minta maaf karena telah lalai menjagamu... Aku bersumpah, mulai sekarang aku tidak akan melepaskan pandanganku darimu. Aku tidak ingin berpisah lagi denganmu... Okey?" mendengar kata-kata orang dihadapannya itu, membuat Sarah tersenyum.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku akan percaya padamu. Aku lega karena ternyata anak ini memiliki keluarga yang utuh... Dan ayah yang baik..."


Jaka meraih tangan Sarah dan mengecupnya. Ia tidak lagi segan karena Sarah yang tidak mengingatnya. Paling tidak, Sarah tau kalau ia orang baik.


β€»β€»β€»


Dokter Fandy yang baru datang langsung menemui Sarah dan Jaka. Ia lalu menyampaikan beberapa pertanyaan untuk Sarah. Sarah menjawab semua pertanyaan dokter Fandy sebisa mungkin. Dokter Fandy kemudian menjelaskan tetang kondisi Sarah saat ini.


"Dalam kondisi stres yang amat berat atau keterkejutan, kesadaran individu menjadi terdisosiasi maksudnya terpisah atau terpecah, dari pengalaman-pengalaman dan ingatan sebelumnya..."


Ketiga orang di hadapannya diam.


"Lalu intinya?" tanya Jaka yang semakin penasaran.


"Bisa saja terjadi sesuatu malam itu, yang membuat kesadaran nyonya Sarah menjadi terpecah. Biasanya stres atau syok yang sangat berat. Kalau detektif Junot berhasil mengetahui masalahnya, kita akan tahu inti dari terpisahnya ingat Sarah ini. Ia tidak kehilangan ingatan. Ingatannya hanya terkunci seperti menyimpan satu kenangan buruk dalam sebuah kotak. Namun sayangnya, kenangan itu terikat dengan kenangan-kenangan lainnya.


Sebenarnya, saya agak curiga kalau nyonya Sarah Ini pasti mengingat beberapa hal dari masa lalunya. Seperti keluarga masa kecilnya.


Nyonya Sarah, apa ada nama yang kau ingat selain orang-orang yang baru kau kenal disini?" dokter Fandy menyelidik.


"Entahlah... Kadang beberapa nama muncul di pikiranku. Axel, Mutia, Sandra, Billy... Nama-nama seperti itu. Tapi semakin jauh saya memikirkannya, malah tidak ada apa-apa Akhirnya saya berspekulasi kalau mereka hanya sebuah nama yang lewat di pikiran saya saja..." Sarah menjelaskan.


"Mungkin kau benar dokter, mereka keluarga Sarah..." Jaka membenarkan ucapan dokter Fandy.


"Kalau begitu, apa yang saya duga benar. Dan jika nyonya Sarah bisa bertemu mereka, Saya yakin ia akan mengingatnya..." jelas dokter Fandy.


Sarah tersenyum mendengar penjelasan dokter itu. Artinya ia tidak sepenuhnya kehilangan semua memorinya.


Tapi Jaka malah merasa khawatir. Itu berarti tidak ada jalan lain selain mempertemukan mereka. Namun Jaka masih takut kalau kesehatan Ayah mertuanya semakin memburuk saat mengetahui Anaknya berada di balik jeruji besi.


.


.


✩bersambung...✩

__ADS_1


__ADS_2