Lay With The Devil

Lay With The Devil
Acara Amal


__ADS_3

Jaka membuka pintu apartemen yang akan di tempati Sarah. Menyadari tempat tinggal calon istrinya hanya berbeda satu lantai dengan apartemennya, membuat Jaka merasa lega.


Sarah mengikuti langkah Jaka. Paling tidak, ia memiliki sedikit gambaran tentang bagaimana apartemen barunya ini. Mengingat ia sudah pernah singgah ke apartemen milik Jaka beberapa kali.


"Sebuah koper dan sebuah kotak. Hanya ini barang-barangmu?", Jaka meyakinkan.


Sarah mengangguk yakin.


"Aku bukan tipe wanita rumahan. Kau tau kan, aku bekerja dan hanya pulang untuk tidur... ",


"Aku tau. Letakkan saja dulu barangmu di situ, aku sangat lapar. Bagaimana jika kita makan nasi goreng di depan?", Jaka mengusulkan. Sarah mengangguk setuju.


Jam sudah hampir menunjukkan pukul sebelas malam. Ya, Jaka bersikeras agar Sarah pindah malam ini juga. Alhasil, mereka kelaparan dan baru akan makan sekarang.


※※※


Sarah telah menghabiskan teh hangat nya. Begitu juga Jaka yang sudah selesai makan dari tadi.


"Kenyang?",


"Tentu saja...",


"Bagaimana kalau besok kita belanja kebutuhan dapur?",


"Oke... tapi... ",


"Sudahlah... kenapa harus ada kata tapi. Apa kau sudah bosan bersamaku?",


"Bukan begitu... hanya saja... Bukankah besok malam keluarga Sanjaya mengadakan acara amal? Aku bahkan sudah menerima undangannya...",


"Oya? Aku lupa acara itu... dan masalah udangan yang kau bilang, dari mana kau mendapatkannya?",


"Bukankah seluruh karyawan di undang?",


Sarah terlihat bingung.


"Tidak, manis... Undangan itu hanya untuk kerabat dekat, partner bisnis dan kolega keluarga Sanjaya... Kalau aku sudah membawamu menghadap orang tuaku, aku percaya kalau kau mendapat undangan ekslusif... Tapi kan kita belum bilang siapapun?", Jaka menjelaskan.


"Apa benar begitu... Jadi siapa yang memberiku undangan ini?", tanya Sarah.


Jaka mengangkat bahu. Ia tidak tau. Hal itu masih PR untuknya.


※※※


Sarah sedang menyusun bajunya di dalam lemari. Jaka benar, tempat ini masih sangat rapi dan bersih. Perabotannya juga masih lengkap.


Jaka hanya berdiri di ambang pintu kamar sambil melipat tangannya di depan dada.


"Kau, jangan kesini. Tunggu saja disitu...",


"Apa yang kau takutkan? Aku bukan serigala jahat, nona...",


"Oya, benarkah? Kita tunggu dan lihat... Apakah bapak- kyaaa!!",


Sarah benar-benar terkejut. Ia bahkan belum selesai dengan kata-katanya. Jaka sudah memeluknya dari belakang.


"Kau bilang begitu, membuatku berinisiatif...", Jaka mencium tengkuk Sarah.

__ADS_1


Sarah berpegangan di pintu lemari, kakinya lemas. Perlakuan Jaka terlalu intim. Tangannya bahkan mulai berani menjelajah kedalam bajunya.


"Paaak... hentikan...", Sarah merasa kalau pertahanannya bisa saja luluh saat ini.


"Oh... oke....", Jaka menghentikan kenakalannya. Ia kemudian meninggalkan Sarah "Aku ada di depan jika kau mencariku...", Jaka pergi begitu saja.


Damn!! Aku tidak tahan. Aku harus segera memiliki wanita itu... uggh!


Kepala Sarah terasa berat. Orang itu sukses membuatnya hampir gila. Ia benar-benar harus menyuruhnya segera pulang. Ia tidak ingin hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.


Sarah keluar kamar dengan membawa selembar undangan yang baru ia terima lewat pos kemarin.


"Apa yang Bapak lakukan?",


"Hentikan memanggilku dengan kata: Bapak. Aku calon suamimu...",


"Bapak sangat yakin akan hal itu...",


Jaka menyipitkan matanya.


"Apa kau tidak percaya padaku?", jaka menarik Sarah tepat kepangkuannya.


"Tidak ada yang tau kalau kita bersama... selain Paul...",


"Aku yang urus itu... Kita akan mengumumkannya...", Jaka memastikan "Apa itu?", Jaka meraih kertas dari tangan Sarah.


"Undangan yang ku terima... Entahlah... mungkin ada yang bercanda dan mengirimkan undangan palsu ini padaku...",


Jaka mengamati undangan itu.


"Apa aku akan datang?", Sarah tidak ingin terjadi kesalahan lagi.


Jaka memandangi Sarah. Pada awalnya ia pikir Indra lah yang membuat Sarah hadir ke acara-acara itu. Tapi saat ini, saat Indra sudah tidak akan mengganggu mereka lagi, dan Sarah masih menerima undangan itu, membuat Jaka berpikir kalau ia pasti melewatkan sesuatu.


"Tentu saja kau akan datang, Sayang... Kau akan datang bersamaku... Apakah kau mau?", Jaka mengecup punggung tangan Sarah.


Wanita itu mengangguk.


※※※


Jaka dan Sarah sudah sampai di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Merek langsung menuju ke supermarket untuk membeli keperluan dapur Sarah.


Ia membeli ikan, telur dan daging. Sarah juga membeli beberaoa jenis sayuran. Wortel, kentang, tomat, cabe, bawang dan lain-lain. Ia yakin, kalau ia akan lebih sering masak makan malam mulai sekarang. Ia juga tidak lupa membeli beberapa jenis bumbu dan makanan instan. Untuk jaga-jaga...


Jaka menggandeng tangan Sarah.


"Sepi sekali...", Jaka melihat sekeliling.


"Karena ini baru jam delapan, Pak... Hanya supermarket ini yang sudah buka. Toko lain bahkan masih tutup...", jelas Sarah.


"Sayang sekali... Padahal kita harus membeli baju untukmu...",


"Hah! Lagi? Baju kemarin kan masih bagus Pak...",


"Sayang, ayolah... ini acara keluarga Sanjaya. Aku ingin kau terlihat spesial... Karena kau adalah calon istriku... Bolehkah?", Jaka merangkul bahu Sarah.


Sarah tau ia tidak akan bisa menolak keinginan orang itu.

__ADS_1


"Baiklah... Tapi aku akan membayarnya sendiri...", Sarah tidak ingin selalu bergantung pada Jaka.


Laki-Laki itu hanya mengacungkan jempolnya. Ia tidak ingin Sarah berubah pikiran.


※※※


Jaka dan Sarah sudah sampai di depan rumah Keluarga Sanjaya. Paul yang menjadi sopir mereka malam ini juga terlihat sangat keren dengan setelannya.


"Apa kalian sudah siap?", Paul memastikan.


"Tentu saja aku siap...",


"Aku tidak siap... bagaimana kalau... Mereka tidak menyambut baik keputusan bapak?",


"Ini keputusanku... Aku yang akan menjalaninya? Aku yakin mereka paham akan hal itu...", Jaka berusaha menenangkan Sarah.


Wanita itu mengangguk. Ia menarik nafas panjang.


"Oke... Aku siap...",



※※※


Beberapa pasang mata memandangi kedatangan Jaka. Tidak hanya karena ia adalah anak paling sukses di keluarga Sanjaya, tapi juga karena malam ini ia menggandeng seorang wanita yang tidak pernah dikenal publik sebelumnya.


Beberapa wanita bahkan sudah mulai berkumpul dan bergosip.


Jaka bahkan melihat beberapa wanita yang pernah secara terang-terangan mendekatinya, sedang melihat Sarah dengan pandangan tidak suka.


"Sepertinya aku tidak berani jauh-jauh darimu..", bisik Sarah.


"Kalau begitu jagan jauh-jauh dariku...",


※※※


"Berjanjilah sama Bapak, bu... Ibu akan mendukung apapun yang bapak lakukan malam ini... ", Pak Ismail memohon pada istrinya.


"Tapi Pak... ini Jaka. Wataknya seperti itu... Apa bapak yakin ini tidak apa-apa?", Ibu Ningsih agak keberatan dengan rencana suaminya.


"Ini demi kebaikannya dan keluarga kita...",


"Entahlah, Pak... ibu takut ia malah memberontak...",


"Nanti bapak yang jelaskan ke dia. Bapak yakin Jaka masih bisa berfikir logis...",


Ny. Sanjaya geleng-geleng kepala. Ia tidak suka dengan rencana suaminya. Ia tau sekali watak Jaka.


Ia hanya berharap malam ini tidak ada keributan...





bersambung....

__ADS_1


__ADS_2