Lay With The Devil

Lay With The Devil
Tempat Tidur Sarah


__ADS_3

Jaka merasakan tangan Sarah yang halus menyentuh dadanya. Jari-jari kecil itu menyelip melalui celah di kemejanya.


"Apa Bapak sudah lebih baik?", Sarah bertanya. Tangannya masih sibuk menemani Jaka di dadanya yang bidang.


"Aku berharap, aku lebih baik jika bersamamu....",


"Apa ada keributan? Kau terlihat lain...", Sarah mulai khawatir lagi.


Jaka menggeleng. Ia menangkap tangan Sarah yang mulai menggodanya.


"Apa yang kau inginkan miss?", tanya Jaka yang terkejut dengan perilaku Sarah.


Otaknya mulai berpikir kalau Sarah mungkin punya niat lain.


"Aku berusaha menenangkanmu... Apa kau ingin tidur disini? Aku akan tidur di luar...", Sarah menawarkan tempat tidurnya.


Jaka menggeleng. Ia bangkit dan berbalik. Ditangkapnya bahu Sarah. Dengan kasar diciumnya wanita itu dalam. Sarah hanya bisa bertumpu pada dada bidang Jaka. Posisinya yang masih berlutut di atas tempat tidur membuat Jaka harus sedikit menunduk untuk dapat menikmati bibir Sarah.


Eeemmpph... eehh...


Sarah berusaha mendorong Jaka. Tapi orang itu tidak terpengaruh. Ciumannya lumayan lama. Jaka bahkan tidak mengijinkan Sarah untuk bernafas.


Setelah beberapa menit, akhirnya Jaka melepaskan ciuman itu. Sarah terduduk lemas. Nafasnya berat. Sekilas ia melihat tatapan marah Jaka. Sarah kemudian turun dari tempat tidurnya dan meniggalkan Jaka disana.


Sarah menyeka air matanya. Kepalanya pusing. Sarah menarik nafas panjang dan membuangnya.


Jaka benar-benar dalam masalah... Tapi bagaimana cara agar ia mau cerita...


Sarah meneguk habis air dalam gelas.


°°°


Jaka terbangun dengan kepala yang masih berat. Ia sadar betul dimana ia tidur. Ini kamar Sarah. Sarah bahkan belum menempatinya sama sekali.


Jaka menatap lama jam di dinding.


Masih jam enam lewat... mungkin aku tidak akan ke kantor hari ini...

__ADS_1


Jaka keluar dan mencari keberadaan Sarah. Ia lalu menemukan wanita itu masih meringkuk di atas sofa yang terlihat kurang nyaman. Jaka tidak tega dan berinisiatif untuk mengangkatnya ke dalam kamar.


Sarah merenggangkan tubuhnya saat Jaka meletakkannya di atas tempat tidur. Baju tidurnya sedikit terbuka sehingga memperlihatkan kepolosan kulitnya. Hal itu membuat Jaka merasa sangat tergoda. Ia mengelus kulit itu, membuat Sarah bergeser. Jaka kemudian menutupkan selimut yang tadi dia pakai ke atas tubuh Sarah. Ia keluar.


Jaka meraih ponselnya dan langsung menghubungi nomor Paul.


📞Halo!


Paul, Aku ingin kau melakukan sesuatu. Ingatkan, apa yang tadi malam terjadi... kamu selidiki kebenaran berita itu. Kalau perlu, langsung dari sumbernya. Tapi jangan bilang kalau ada hubungannya dengan keluarga Sanjaya


📞Eemmm... okey. Tidak masuk kerja?


📞No, aku lagi tidak mood


📞Baiklah. Aku akan membatalkan rapat management. Besok saja..


📞Atur saja baiknya bagaimana... Aku ingin kejelasan. Aku tidak bisa mengetahui masalah ini dari satu pihak saja..


📞Oke


°°°


Lupakan saja. Jaka selalu bilang begitu. Sarah akhirnya menyerah dan membiarkan Jaka menelan sendiri masalahnya. Ia memutuskan untuk menyudahi sarapannya dan masuk kembali ke kamar.


"Apa kau meninggalkanku sendiri disini?", Jaka mengerutkan dahi. Ia tahu kekasihnya itu masih marah karena ia menolak untuk berbagi cerita.


"Apakah terlihat seperti itu? Ah, tidak... aku hanya mengantuk. Semalam aku tidak bisa tidur dengan nyenyak...", Sarah berbalik dan memeluk Jaka. Ia lalu mengecup sekilas bibir manis pria itu.


°°°


Tidak perlu waktu lama untuk membuat Sarah memejamkan matanya lagi. Ia baru tahu kalau ternyata tempat tidur ini sangat nyaman. Sarah bahkan tidak menyadari saat Jaka ikut naik ke atas tempat tidur itu. Jaka ikut menyelinap masuk ke dalam selimut Sarah.


Sarah membiarkan pria itu melakukannya. Jaka memeluk Sarah dari belakang. Dibenamkan wajahnya nya di leher Sarah.


"Kau membuatku mabuk",


"Aku bukan candu... hentikan itu... geli...",

__ADS_1


Jaka makin berani. Dimainkannya daun telinga Sarah dengan bibirnya. Tangan Jaka mulai menarik keatas gaun tidur Sarah yang berenda.


"Kau tau aku laki-laki normal kan, Sayang...",


Sarah mengangguk. Ia tidak bisa bicara saat ia sendiri tengah menahan nafasnya. Jari tangan Jaka menelusuri tepi celana dalamnya.


Jaka tidak sanggup lagi. Ia sudah berada di atas Sarah. Tangan kanannya memegang kedua tangan Sarah dan menguncinya di atas kepala wanita itu. Baju Sarah tersingkap memperlihatkan sebagian renda celana dalamnya.


"Jangan...", Sarah berusaha menghentikan. Tapi sepertinya ia sendiri tidak bersungguh-sungguh mengatakannya.


Jaka mendaratkan ciuman panasnya di bibir Sarah yang tebuka. Ciuman itu semakin dalam. Tangan Jaka tidak tinggal diam. Ia meremas bukit kembar Sarah yang mengenakan bra satin tipis senada dengan bawahannya. Begitu pas dalam tangannya. Sarah mengerang manja membusungkan dadanya menahan kenikmatan.


"Hentikan aku sekarang, atau ini akan berakhir lebih jauh lagi...", Jaka mengingatkan.


Jaka merunkan wajahnya ke dada Sarah. Sarah semakin gila dibuatnya. Ia tidak ingin semua berakhir. Tapi ini sudah terlalu jauh.


Sarah menggeleng. Ia menginginkannya. Ia tidak ingin Jaka mengacuhkannya.


Namun, suara bel yang berulang-ulang membantu kesadaran mereka kembali.


Jaka melepaskan tangan Sarah. Tersisa bekas merah disana. Ia membiarkan Sarah dengan pakaiannya yang sudah tidak karuan. Miliknya terasa sakit menekan dibawah sana.


"Damn it!!", Jaka menutup pintu kamar dan menuju ke pintu depan.


Jaka melihat Paul tersenyum sambil membawa sekotak pizza.


Aku ingin membunuh orang ini sesekali...


Jaka membuka pintu. Ia harap Paul tidak datang hanya untuk membawakan Pizza itu.





bersambung....

__ADS_1


__ADS_2