
Sarah keluar dari kantor dengan langkah tergesa-gesa. Ia ingin segera naik bus tanpa harus bertemu dengan Margo. Orang itu menjengkelkan.
Seharusnya, sesuai dengan perjanjiannya kepada Mr. Black, Margo akan berjarak paling dekat dua ratus meter dari dirinya. Tapi belakangan ini, Margo menjadi lebih intens. Ia kerap meminta untuk bertemu dengan Sarah di cafe atau di restoran hanya untuk menyampaikan pesan dari Mr. Black.
Sarah menyapukan pandangannya ke seluruh area. Ia tidak bisa menemukan keberadaan Margo. Biasanya orang itu akan muncul di ujung jalan, di luar kantor, atau tengah duduk di cafe seberang sambil menikmati secangkir kopi.
Sarah masuk ke dalam bus yang baru berhenti. Biasanya ia akan pulang dengan berjalan kaki, tapi sore ini gerimis sudah mulai berjatuhan. Ia tidak ingin bolos kerja besok karena demam. Dan melewatkan kesempatan untuk bertemu Pak Usman. Tidak ada yang tau kapan orang itu akan muncul kembali.
Sarah duduk di bangku deretan kedua dari belakang. Ia memasang headset yang terhubung oleh ponselnya. Ia baru saja memejamkan mata saat sebuah sentuhan di tangannya sedikit mengejutkannya.
"Hai manis... mau ditemani pulang?",
°°°
📞Bagaimana keadaan disana, Sam?
Tanya Jaka pada Paul yang masih pergi kerja seperti biasa.
📞Selain Sarah yang terus-terusan menanyakan bapak? Oke, Entah perasaanku saja atau si Alfandi itu sering sekali meminta Sarah melakukan revisi. Aku juga pernah sekali memergoki Sarah berada di ruang kerja Alfandi sendirian. Saat aku menegurnya, ia sempat tergagap sebelum menjelaskan kalau ia sedang mencari file yang tercecer... Entahlah... aku sangat ingin mempercayai kalau Sarah itu simpanannya Alfandi, tapi disisi lain, wanita itu juga melakukan sesuatu dibelakang Alfandi...
Paul melaporkan pengamatannya.
📞Baiklah, aku sendiri masih belum bisa kembali ke sana. Ada hal yang harus ku selesaikan di sini. Kalau ada hal yang mencurigakan lainnya, segera laporkan kepadaku.
Jaka memerintahkan. Ia kemudian menyudahi panggilan.
Jaka kembali memfokuskan diri ke jalan yang mulai berbatu.
Damn Sist!! Mengapa jalan menuju rumahmu sangat menyebalkan seperti ini?
Jaka mengumpat pada diri sendiri. Jaka tahu keputusan kakaknya untuk pindah ke rumah ini bukan tanpa alasan. Suami kakaknya memerlukan rumah spesial yang memiliki ruang bawah tanah super luas untuk menyimpan koleksi anggurnya, yang juga merupakan salah satu investasi terbesar nya.
__ADS_1
"Kau tidak angkat teleponku, sebaiknya kau ada di rumah, kak",
°°°
Sarah merasa bulu kuduknya meremang. Ia tahu kalau Margo masih manusia, tapi sifatnya itu membuatnya takut. Ia selalu muncul dimana saja meskipun Sarah sudah berusaha waspada.
"Berhenti mengejutkanku! Atau aku akan lebih dulu mati ketimbang menyelesaikan tugas dari Mr. Black!", Sarah masih menenangkan degub jantungnya yang berhamburan.
"Sudahlah, jangan berisik. Mr. Black memintaku untuk memberikan ini. Sebaiknya kau membuka rekaman ini di rumah", Margo memberikan sebuah flash disk Mini berwarna putih.
"Apa lagi sih... Astaga!! Perintah darinya terus-terusan membuat kepala sakit...", omel Sarah.
Margo mengabaikan ocehan wanita itu.
"Aku pergi dulu cantik...", Ia memasang tudung jaketnya dan buru-buru pergi sesaat setelah pintu bus terbuka. Ia mengambil jalan kembali.
Sarah memasukkan benda itu ke dalam tasnya. Ia akan turun di pemberhentian berikutnya dan berjalan kaki selama dua menit ke apartemennya.
°°°
Seperti biasa, Citra terlihat selalu elegan dengan busana apapun. Citra adalah saudari favoritnya. Citra lah yang selalu membantu Jaka mengerjakan PR-PR nya dulu.
"Bagaimana kabarmu, kak?", Jaka mengikuti wanita itu berjalan ke ruang tamu.
"Aku baik... Hanya sedikit kaget saat kau bilang ingin mampir ke rumah. Aku kira kamu tidak suka jalan menuju kemari...", Citra menyindir saudaranya.
"Aku masih tidak menyukainya... Tapi ada hal penting yang harus ku tanyakan langsung padamu...",
"I knew it... as always... kamu langsung to the point... paling tidak tanyakan kabarku, bro..",
"Hahaha... kau tahu aku, kak...", Jaka tertawa "Bagaimana kabar saudariku yang paling menawan ini...",
__ADS_1
Jaka mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Ia mengeluarkan sepasang Pearl Hairpin berwarna putih mengkilap.
"Aku melihatnya dan teringat padamu... Mungkin kamu akan menyukainya",
Citra menyambut pemberian adiknya itu dengan suka cita.
"Kamu selalu tau cara mengambil hatiku... Baiklah kalau begitu, aku tahu kamu menginginkan sesuatu... Jadi apa yang ingin kamu tanyakan?",
Jaka tidak membuang waktu. Ia kemudian mengeluarkan print out gambar saudarinya dan Sarah dalam satu frame. Ia menanyakan perihal dia dan wanita itu.
"I swear to God, I have no idea... aku hanya melihatnya saat itu dan kami hanya tersenyum satu sama lain. Apakah kau percaya?",
"Aku percaya... Hanya saja, siapa wanita itu... bagaimana ia ada di acara keluarga kita...",
"Entahlah dik... kalau kau masih menyelidiki masalah di perusahaan Bapak, sebaiknya kau mencari ahlinya. Kudengar Emerald Auto mengalami krisis beberapa minggu ini... Kau kan Bos nya. Sebaiknya kau lebih bertanggung jawab...",
"Aku tau kak... tapi dibandingkan AntiQ Jaya, Emerald Auto hanya lima persennya saja... Kerugian yang dialami AJ, mendekati nilai modal awal EA loh kak... Dalangnya pasti gak main-main...",
"Justru itu, lebih baik kau serahkan ke ahlinya, Jak...",
Pembicaraan mereka kemudian terhenti saat Jaka menerima pesan singkat dari Paul.
[Wanita mu baru saja bertemu seseorang di bus. I think, dia korban pemerasan...]
♡
♡
♡
bersambung....
__ADS_1