
Acara amal per-tiga bulan yang selalu keluarga Sanjaya adakan sudah di mulai. Jaka bisa melihat beberapa rekan bisnisnya juga menghadiri acara itu atas undangan dari bapaknya.
Ia dan Sarah dihampiri oleh Pak Maulana dan anaknya, Debby. Sebenarnya Jaka malas bertemu sapa dengan mereka. Jika bukan karena desakan bapaknya, ia tidak akan pernah mau kenalan dengan Debby yang kelewat manja itu.
"Halo, nak Jaka... Bagaimana kabarmu?",
"Hai...", Debby ikut menyapa.
"Selamat malam. Saya baik-baik saja... Bagaimana dengan kalian?", Jaka basa-basi. Di sampingnya, Sarah agak ragu untuk ikut menyapa.
"Oya, kenalkan... Ini Sarah, teman saya...", Jaka memperkenalkan Sarah. Sarah merasa namanya di sebut, kemudian mengulurkan tangan. Tapi kedua orang itu terlihat mengacuhkan uluran tangan Sarah. Mereka hanya mengangkat gelas yang mereka pegang.
"Senang bertemu denganmu", Debby menyapa sekedarnya.
Sarah menarik lagi tangannya. Jaka kemudian menarik Sarah untuk menjauh dari kedua orang itu.
"Mereka menyebalkan. Aku tidak pernah suka berbisnis dengan perusahaan mereka...",
"Apa yang mereka jalankan?", Sarah penasaran.
"Waralaba. Anaknya Debby adalah pewaris satu-satunya. Sayangnya anak itu sangat manja...",
"Haaa... kau mengenalnya dengan baik...",
"Ya, aku pernah kencan dengannya beberapa kali...",
Sarah melepaskan genggaman tangan Jaka di tangannya.
"Kau cemburu?", tanya Jaka yang kaget dengan penolakan Sarah.
"Tidak. Aku baik-baik saja...",
"Aaaah... kau benar-benar cemburu ya...", Jaka mulai menggoda Sarah.
"Hentikan. Aku tidak berhak cemburu",
"Tentu saja kau berhak, manis...", Jaka mengecup bibir Sarah sekilas. Sarah bahkan tidak sempat menolak.
"Hentikan. Orang-orang melihat kemari...", Sarah melotot ke arah Jaka. Jaka melemparkan senyum terbaiknya. Ia tidak ingin kekasihnya marah.
※※※
Pak Ismail dan istrinya menemui para tamu. Seperti biasa, dandanan Nyonya Ningsih terlihat simple namun elegan. Wajahnya yang selalu tersenyum membuat kecantikannya semakin terpancar. Di sampingnya, ada Pak Ismail dengan setelan jas hitam yang dipasangkan dengan dasi kupu-kupu berwarna putih.
Pak Ismail membuka acara itu dengan memberikan sambutan seperlunya. Pada acara kali ini, donasi yang mereka kumpulkan akan langsung disalurkan ke beberapa Panti asuhan dan panti jompo yang tersebar di kota ini.
__ADS_1
Sebenarnya acara amal hanyalah pembukanya saja. Biasanya acara seperti ini akan dilanjutkan dengan membicarakan bisnis dan menemukan rekan kerja baru. Kegiatan ini menguntungkan banyak pihak. Pak Ismail hanya menyiapkan tempat karena ia juga suka berkumpul dengan rekan-rekan bisnisnya.
Acara sudah berjalan selama kurang lebih satu jam. Jaka juga sudah memberikan donasinya. Sekarang ia sedang bersama Paul dan Esmeralda.
Esmeralda sendiri merupakan pendiri layanan pesan antar terbesar di Indonesia. Ternyata wanita itu masih ingat dengan Paul yang merupakan Adik kelasnya saat Sekolah Menengah Atas dulu.
Sarah meninggalkan Jaka untuk mengambil air minum. Saat akan mengambil gelas terakhir yang dibawa oleh seorang pelayan, tangannya bersentuhan dengan tangan seorang wanita.
"Ah, maaf...", Sarah menarik tangannya.
"Oh, tidak... silahkan ambil... Eh, kamu kan... wanita itu...",
"Wanita itu, apa?", tanya Sarah bingung. Saat itulah ia baru sadar kalau wanita yang sedang bicara dengannya adalah Citra Sanjaya.
"Ibu Citra... Ah, maaf.. maaf... Saya tidak melihat...",
"It's okey... Saya deluan ya...", Wanita itu beranjak. Ia menghampiri suaminya yang Sarah kenal sebagai pengusaha anggur terbesar di Indonesia. Koleksinya pernah masuk dalam liputan majalah Newz. Majalah bisnis besar di Asia Tenggara.
Sarah masih memandangi kedua orang itu, saat ia dikagetkan dengan seseorang yang menggenggam tangannya.
"Pak Jaka... Aku tidak melihatmu datang...",
"Kau bertemu Citra? Aku bahkan belum menyapanya...",
"Dia memang begitu... Bagaimana kalau kita menemui bapak dan ibu?", Jaka menawarkan. Sarah tidak keberatan, karena pandangan mereka pada Sarah pada pertemuan terakhirnya lumayan baik.
Mereka berdua melewati beberapa tamu dan rekan bisnis untuk bisa sampai ke tempat tuan dan nyonya besar Sanjaya berada.
"Saya rasa saya harus ke toilet dulu, Pak... Bolehkah?", Sarah merasa agak gugup.
"Baiklah, aku akan ada disini...",
Sarah terburu-buru. Ia tidak ingin Jaka menunggu terlalu lama.
※※※
Pak Ismail memanggil Jaka untuk menghampirinya.
Jaka sudah berdiri di samping nyonya Ningsih. Ia mencium pipi ibunya sekilas.
"Apa kabarmu nak...",
"Aku baik, bu... Jaka ingin mengumumkan sesuatu jika boleh...",
"Tapi bapakmu... Bicaralah dengannya nanti...",
__ADS_1
Pak Ismail mengambil mic yang sudah disediakan sebelumnya. Ia ingin membuat pengumuman.
"Saya sangat bahagia dengan kedatangan rekan-rekan semua... Selain acara yang sudah kita selesaikan barusan, saya sebagai tuan rumah ingin menyampaikan suatu pengumuman bahagia tentang putra bungsu keluarga Sanjaya... Jaka Sanjaya...", Pak Ismail merangkul bahu anaknya.
Jaka agak bingung. Ia bahkan belum bilang. Sarah juga belum kembali.
"Dengan perasaan bahagia, kami mengumumkan perjodohan Jaka Sanjaya, putra saya sendiri, dengan anak gadis dari kolega saya... Mereka juga sudah beberapa kali bertemu. Silahkan kemari nak Debby Maulana...",
Jaka syok dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia tidak yakin dengan apa yang dikatakan bapaknya.
"Apa ini, Pak?" Jaka berusaha tenang. Ia melihat Debby mendekati mereka. Orang-orang tidak berhenti tepuk tangan.
Paul yang juga kaget dengan pengumuman itu mendekati bos nya yang terlihat agak tegang.
"Pak, anda baik-baik saja?",
"Paul, antar Sarah pulang lewat samping. Ia sedang ke toilet. Jangan sampai ia mendengar apa-apa!", perintah Jaka sangat jelas "Nanti aku menemuinya".
"Jaga emosimu, Pak...", Paul mengingatkan.
Paul langsung mengerjakan apa yang disuruh Jaka.
Tepat saat ia sampai di depan toilet, pintunya terbuka dan Sarah keluar.
"Eh, Paul... Mengapa ramai sekali?",
"Entahlah. Mereka melakukan permainan konyol. Aku akan mengantarmu pulang, ini sudah lumayan malam...",
"Ba..bagaimana dengan Pak Jaka? Aku tidak pulang dengannya?",
"Pak Jaka sedang bicara dengan Ibunya. Sepertinya hal penting. Aku saja tidak boleh ikut mendengar...", Paul mencari alasan.
"Oh, oke...", Sarah hanya bisa mengikuti langkah Paul karena orang itu memegangi tangannya.
Semoga Pak Jaka tidak memulai keributan...
Paul benar-benar hanya bisa berharap.
♡
♡
♡
bersambung....
__ADS_1