
Jaka menarik istrinya keatas pangkuannya.
"Terima kasih sayang..."
"Untuuuk??"
"Semuanya... Kau istri yang hebat..." Jaka lalu mencium kembali bibir istrinya yang lembut. Posisi mereka kini saling berhadapan.
Jaka melepaskan ciumannya dan langsung pindah lebih kebawah. Di angkatnya baju kaos bergambar kartun itu. Istrinya bahkan tidak memakai bra-nya kembali.
"Emmphh... Sayang... Sudah dong... kan mau pergi kerja..." Sarah berusaha menyelesaikan kalimatnya.
"Kau membuatku ketagihan. Jadi, kau harus tanggung jawab..." Jaka meneruskan kegiatannya.
ddrrrtttt... ddrrrtttt...
"Sayang. Ponselmu bergetar." Sarah berusaha mengalihkan perhatian Jaka. Diraihnya ponsel suaminya dari atas meja.
"Abaikan saja... Ini masih terlalu pagi... Paling juga Paul..."
"Eem... bukan... ini ibu... Ibumu..."
Mendengar siapa yang menelpon membuat Jaka berhenti menggoda istrinya. Ia lalu menerima ponsel dari tangan istrinya.
Sarah lalu menjauh. Ia masuk ke kamar mandi yang berada di luar kamar untuk mandi pagi.
Harus selesai sebelum suamiku mengacaukannya...
Sarah mulai menyalakan shower.
Astaga... dingin sekali... Aku lupa kalau pemanas disini rusak...
※※※
Jaka masuk ke ruang kerjanya tanpa memperdulikan Debby yang sedang menelpon seseorang.
Sepertinya Paul tidak berhasil mengusirnya...
Jaka meraih telepon di mejanya.
☎ Paul, coba kesini sebentar.
☎ Okey.
Paul masuk tanpa mengetuk pintu. Baginya hal itu memperlambat gerakannya saja.
"Mengapa anak manja itu masih ada di meja Chloe?" Jaka ingin penjelasan.
"Dia bilang dia akan pergi jika kau yang suruh. Dia berjanji."
Jaka mengerutkan keningnya.
Benarkah? Semudah itu?
Jaka lalu meminta Paul untuk meninggalkannya. Ia akan bicara langsung dengan Debby.
☎ Debby, keruanganku sebentar.
☎Baik.
Debby masuk. Seperti biasa, pakaiannya terlalu minim. Jaka sampai bingung bagaimana bisa ia duduk atau berjalan.
__ADS_1
"Apa kau betah bekerja di sini?"
"Tidak. Aku lelah."
"So? Apa yang kau tunggu. Tinggal resign dan kamu bebas."
"Aku tidak akan pergi hingga kau mau dinner denganku."
"Sampai situ saja?"
"Huuh... aku tau aku sudah kalah dari wanita itu. Tapi aku yakin, Pak Ismail masih mendukungku. Jadi, kalau kau ingin aku pergi dari meja sekertaris, dinnerlah denganku malam ini."
"Setelah itu kau akan keluar?"
"Ya. Aku capek mendekatimu dengan cara ini. Aku jadi tidak bisa jalan-jalan dan shoping dengan teman-temanku."
"Baiklah, aku akan menghubungimu nanti."
Debby keluar. Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya.
Jaka baru akan menghubungi Sarah saat telepon di mejanya berdering.
☎ Apa lagi?
☎ Aku yang menentukan tempat ya.
☎ Terserahmu saja.
Jaka menyandarkan tubuhnya ke kursi empuk yang ia duduki. Pikirannya tidak disini. Ia mengingat apa yang ia dan istrinya lewati semalam. Menyenangkan.
※※※
Sarah meringkuk kedalam selimutnya. Ia tidak mengira kalau suaminya akan menanyakan hal seperti itu. Ia marah. Tapi apa yang di minta Jaka sebenarnya untuk kepentingan perusahaan juga. Ia merasa serba salah.
Bagaimana mau mengijinkan, jika suamimu minta ijin untuk dinner dengan wanita lain...
Jaka yang hanya mengenakan boxer dan kaos dalam, ikut menyusup masuk kedalam selimut.
"Go away... this is my place."
"Sayang... Berikan jawaban. Aku akan menerima jawaban apapun,"
"Kau memberi pertanyaan yang sulit!!"
"Oke... Aku rubah pertanyaannya... Sayang, apa aku boleh keluar sebentar dengan Debby? Jangan pikirkan apa yang akan kami lakukan..."
Sarah menyibak selimut yang menutupi mereka berdua.
"Itu terdengar lebih menakutkan!! Kamu gimana sih..." Sarah memeluk tubuh suaminya. Ia tidak ingin Jaka pergi. Apalagi dengan Debby itu. Orang yang dijodohkan Pak Ismail dengan suaminya.
"Oke. Aku disini saja denganmu..." Jaka meletakkan kepalanya di pangkuan Sarah.
"Berarti besok Debby datang ke kantor lagi?"
"Ya begitu..."
Sarah menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.
"Sana, pergilah. Aku akan nonton Netflix sampai kau pulang."
Jaka mencium kening istrinya.
"I love you. My queen..."
__ADS_1
"Gak usah ngegombal. Awas aja kalau sampai terbawa suasana..."
Jaka terkekeh mendengar ancaman Sarah.
Dengan begitu, ia akan membuat Debby pergi dari kantor untuk selamanya.
※※※
Jaka menjemput Debby sesuai permintaan wanita itu. Jaka mengenakan setelan jas berwarna hitam tanpa dasi. Debby sendiri mengenakan gaun malam yang sepertinya sudah dipersiapkan sejak lama. Dan seperti Debby di kantor, ia sangat suka dengan gaun mini. Debby masuk ke dalam mobil Jaka tanpa dipersilahkan.
"Restoran Empire Diamond ya Sayang..."
"Jangan panggil aku Sayang. Atau aku tidak akan mendengar kata-katamu."
"Oke.. oke.. Sensitif sekali..." Debby tersenyum.
Gara-gara ini Sarah kecewa padaku. Bagaimana tidak sensitif??
※※※
Jaka merasa wanita ini telah menipunya. Mereka bukanya akan makan malam. Mereka menghadiri pesta ulang tahun teman Debby.
Debby merangkul lengan Jaka. Tapi Jaka enggan melangkah lebih jauh.
"Kau penipu licik."
"Ayolah... Besok kau tidak akan melihatku lagi. Aku janji. Kau tidak ingin aku ada di kantor lagi kan..."
Ck! Dasar bocah. Awas saja kalau omongannya tidak bisa dipegang!!
Jaka melangkah masuk. Ia membiarkan Debby menggandeng lengannya.
"Hai Debby!! Oh my God!! Gue gak salah liat nih? Lo jalan sama Jaka Sanjaya??"
"Hai Sil... Iya nih. Dia partner gue malam ini..."
Ugh!! Nyesel banget aku nerima tawaran ni anak!!
※※※
Jaka menghubungi Paul. Perasaannya tidak enak. Ia ingin agar Paul mengawasi Sarah dan rumahnya.
📞 Awasi saja dari jauh. Aku tidak ingin Sarah malah jadi khawatir.
📞 Kau nekat. Untung Sarah pengertian.
📞 Aku tau. Tapi sudah terjadi. Biar ku selesaikan. Aku muak melihatnya di kantor.
📞 Baiklah.
Jaka kembali menemui Debby. Ia kembali mengajak wanita itu untuk pulang. Kepalanya seperti ingin pecah.
.
.
.
bersambung...
Image: Google Search ✌
__ADS_1