
Readers: Thor, baru up?
Author: (hehehhe) iya...
Readers: Baguus... Itu cover ganti lagi?
*Author: Iya (garuk-garuk kepala) Gak sreg aja sama yang kemaren... Maaf ya semuaa* π
Happy Reading π
ββββββββββββ‘β‘β‘ββββββββββ
Bergantian ku tatap bu Indy dan Bidan Risty.
"Jadi? Maksud kalian, aku hamil? Anak siapa? Aku berani bersumpah, aku tidak pernah berbuat asusila dengan siapapun!!" Sarah berusaha menahan air matanya.
Sakit rasanya. Berani sekali mereka berfikir kalau aku hamil... Aku tidak hamil. Ini konyol!!
Bu Indy menangkap sorot mata Sarah. Wanita itu herkata jujur. Tapi ia tau pasti kalau Sarah sedang mengandung. Perubahan-perubahan fisik yang terlihat, membuatnya berfikir begitu.
"Bagaimana kalau test pack dan kita semua akan tau?" tanya bidan Risty sambil menyodorkan sebuah testpack pada Sarah.
Sarah terlihat berpikir. Ia mengambilnya dan lalu meletakkan testpack itu ke atas meja.
"Memangnya ada urusan apa kalian menyuruhku melakukan tes kehamilan? Aku tidak mau! Lagipula aku tidak pernah melakukannya..." Sarah sudah akan beranjak pergi, saat kemudian tangan Ibu Indy menahan nya.
"Sarah, Kamu tahu kan ini kampung kecil? Aib apapun, sekecil apapun, akan menjadi besar dan ramai diperbincangkan orang sekampung. Ibu hanya ingin melindungimu. Karena kau sebenarnya anak yang baik..."
Sarah melepaskan cekalan tangan Bu Indy.
"Maaf Bu. Bukannya Sarah tidak sopan atau tidak menghormati ibu. Tapi Sarah menolak. Permisi!" Sarah meninggalkan tempat itu.
Di luar, ia melihat Rangga yang sedang mengelap motornya. Laki-laki itu kemudian tersenyum padanya, tapi Sarah mengacuhkannya dan terus berjalan.
β»β»β»
Jaka dan Paul sudah sampai di sebuah kampung yang paling dekat dengan terminal bus yang mereka tuju.
"Bagaimana kalau kita berpencar? Kampung ini tidak terlalu luas. Aku akan jalan saja dari sini..." jelas Jaka yang kemudian turun dari mobil. Ia sudah mempersiapkan foto Istrinya yang paling baru di ponselnya. Ia juga sudah mengirimkannya kepada Paul.
Paul mengangguk setuju.
"Aku akan lebih ke ujung lagi..." Paul menjelaskan. Ia menjalankan mobil kembali.
__ADS_1
Jaka mulai bertanya pada orang-orang yang ia temui. Tapi semuanya hanya menggeleng dan bilang tidak tahu.
Lebih dari sejam sudah ia berkeliling. Jaka sudah sangat kehausan. Ia masuk kesebuah toko untuk membeli minuman dingin. Matanya kemudian tertuju pada sosok wanita yang sedang berdiri di dekat box es krim.
degh!
Seakan lupa dimana ia berada, Jaka memanggil nama istrinya sambil mendekati sosok itu.
"Sarah!" Jaka menangkap bahu wanita itu dan membuatnya berbalik.
Sosok itu bukan Sarah. Dengan wajah jengkel, wanita itu meninggalkan Jaka. Jaka bahkan belum sempat meminta maaf.
Pemilik toko yang dari tadi hanya mengamati apa yang dilakukan Jaka, kemudian mendekatinya.
Si pemilik toko menepuk bahu Jaka.
"Mas, Kalau boleh tau... ada apa ya?" pria itu berusaha agar pelanggannya yang lain tidak kabur.
"Saya... Saya sedang mencari orang..." Jaka menjelaskan. Ia lalu memperlihatkan foto Sarah dari ponselnya.
Sejenak orang itu memandang foto Sarah. Ia kemudian menggeleng yakin.
"Ini kampung kecil, mas... Saya yang menjaga toko ini dari buka hingga tutup, tidak pernah melihatnya... Maaf ya mas!"
Masih ada beberapa jam lagi sebelum tengah malam. Mereka masih punya waktu untuk mencari Sarah di tempat lain.
π Bagaimana?
π Negatif. Semua orang yang sedang keluyuran sudah ku tanya satu-persatu. Tapi semua mengaku bahwa tidak ada Sarah dengan foto seperti yang kutunjukkan...
π Kembalilah. Kutunggu di tempat tadi.
hubungan terputus.
Jaka menyandarkan tubuhnya di senderan kursi di depan toko tempatnya membeli minuman tadi.
Ia kemudian kembali menghubungi seseorang.
"Masih jam sebelas kurang. Seharusnya ia masih terjaga..."
π Hallo...
π Ya, ada apa malam-malam begini, bro?
__ADS_1
π Aku mau minta tolong.
Jaka kemudian menceritakan semuanya. Orang itu -Nathan- memang sudah mengetahuu tentang hilangnya Sarah. Tapi Jaka tidak pernah meminta bantuannya. Namun kali ini, Jaka sudah tidak lagi bisa bergerak sendiri. Perusahaannya bisa tumbang jika ia atau Paul tidak mengurusnya.
π Aku kira kau tidak akan meminta. Tenang saja, mulai sekarang orang-orangku yang akan mencarinya. Kamu urus saja perusahaanmu agar tidak bangkrut.
π Thanks Nath.
Jaka langsung masuk ke dalam mobil setelah Paul sampai.
"Aku sudah menghubungi Nathan." jelas Jaka pada Paul yang sedang menyetir sambil sesekali meneguk kopi dingin yang Jaka beli.
"Berarti kau sudah rela kehilangan Emerald Auto."
"Aku rasa begitu. Aku lebih memerlukan Sarah daripada perusahaan itu. Aku akan mendirikan lagi yang lainnya..."
"Kau tau, aku juga akan melakukan hal yang sama jika jadi kau..."
"Yah... Bagaimana kabar Esme dan anaknya?"
"Baik. Kurasa setelah Sarah kembali, aku akan melamarnya."
"Baguslah. Kau tidak akan menemukan wanita hebat setiap hari..."
Mereka melanjutkan perjalanan pulang dalam diam. Kepala Jaka sudah mulai buntu.
Kemarin, Axel memberi tahu kalau ayahnya terserang stroke ringan karena terus memikirkan Sarah. Ia jadi semakin merasa bersalah. Ia hanya bisa mengirimkan dokter terbaik untuk mengurus mertuanya itu. Ia tidak bisa kesana. Tidak jika sendirian.
Sarah... Pulanglah! Keluargamu membutuhkanmu... Aku membutuhkanmu!
β»β»β»
Sarah terbangun karena mimpi yang sangat aneh. Keringatnya mengucur deras.
Ia mimpi melihat dirinya melahirkan. Bayi itu bahkan tidak menangis. Ia diam saja namun air matanya mengalir. Bayinya sangat bersih tanpa noda sedikitpun. Tapi kemudian sepasang suami istri merebutnya. Membawanya menjauh. Ia mengejar tapi terlalu banyak yang menghalangi.
Sarah menyeka keringatnya. Diminumnya air mineral yang ia sediakan di atas nakas. Jantungnya bahkan masih berdebar.
Mimpi ini seperti memperingatkanku... Masa iya aku bener-bener hamil... Astaga...
βbersambung...
βββββ β β ββββ β β ββββ β β ββββ
__ADS_1
Note: Nathan Anggara saya selipkan lagi di Visual pt. 3. Silahkan langsung cek jika kalian penasaran dengan wajahnya. Trims...