Lay With The Devil

Lay With The Devil
Tunangan


__ADS_3

Sarah kembali ke meja mereka dengan buru-buru. Dari kejauhan ia melihat Angel dan Pak Robert tertawa renyah. Di depannya ada Jaka yang hanya tersenyum. Tanpa sengaja ia menangkap kehadiran Sarah.


"Look at her... kenapa kamu tidak bilang sebelumnya...", jelas Pak Robert sambil berdiri dan menyambut Sarah.


Sebenarnya Sarah tau kalau semua ini karena Angel pasti mengatakan apa yang ia dengar tadi di toilet. Ia melihat ke arah Pak Jaka, ia takut kalau orang itu tidak suka dengan apa yang ia lakukan. Ia melihat orang itu tersenyum padanya sambil mengangkat gelas wine yang mereka pesan. Sarah tersemyum dengan terpaksa.


"Aku tidak ingin kalian membicarakan hal ini pada siapapun... Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan sebelum kalian mengejarku dengan pesta sana sini...", jelas Jaka yang sudah pasti mengikuti skenario yang dibuat Sarah.


Ia meraih tangan Sarah yang bebas di atas meja dan mengecupnya.


Orang ini memanfaatkan situasi? Dasar pria... Sarah menggumam dalam hati. Padahal ia sendiri yang memulai keisengan itu.


"Jadi, dimana kalian bertemu?", tanya Mr. Robert pada mereka berdua.


"Kantor",


"Acara amal", Sarah lirih.


Mereka berdua menjawab bersamaan. Sayangnya jawaban mereka meleset sangat jauh.


"Okey....", Angel tertarik dengan hal itu.


"Sebenarnya Saya lebih dulu melihatnya di sebuah acara amal. Saya terpesona dengan karisma yang ia ciptakan. Dan saat itu saya bekerja di AntiQ Jaya. Saya tidak tau kalau ternyata Ia adalah anak dari pemilik perusahaan itu. Dan kami bertemu secara resmi setelahnya...", Sarah berusaha menjelaskan. Curangnya, Jaka hanya memperhatikannya sambil meneguk minumannya.


Angel tidak terlalu memperhatikan. Ia masih juga menatap Jaka berlama-lama.


"Ehmm... ", Sarah memberi kode. Ia ingin agar Jak mengatakan sesuatu.

__ADS_1


"Aku melamarnya dua bulan kemudian...", jelas Jaka "Itu artinya sekitar seminggu yang lalu...".


"Kau tidak memberinya cincin tunangan? Jangan bilang cincin usang itu yang kau berikan... Dasar pelit...", Angel terlihat bercanda dan serius pada saat bersamaan.


Jaka menatap lurus kearah Sarah. Ia tau Sarahlah yang harus menjawab semuanya.


"Ada kejadian tak terduga kemarin... Aku sangat sial... Aku di rampok di jalan. Saat menunggunya menjemputku di depan hotel...", Sarah menjelaskan seadanya. Ia benci jika harus bohong berkepanjangan.


Inilah mengapa aku tidak suka berbohong...


"Aku sangat panik mengetahui hal itu. Untungnya ia baik-baik saja... Rencananya setelah ini kita akan melihat-lihat cincin lagi, mengingat kami akan menemui keluarganya...",


"Hahahah... kalian ini lucu...",


"Akting kalian lumayan...", tambah Angel. Wanita itu tidak pernah terima.


"Yah... itu urusanmu jika tidak mempercayai apa yang Sarah ucapkan... Tapi, aku akan melakukan apa saja agar wanita ini selalu ada bersamaku...", Jaka menjawab opini Angel. Ia menatap mata Sarah dalam-dalam.


Sarah duduk tegang di kursi samping kemudi. Ia tidak berani memulai pembicaraan. Ia tau kalau Jaka pasti langsung marah.


Lagi-lagi sarah melirik Jaka yang selalu mengamati kaca spion mobil. Dengan kecepatannya seperti ini, tindakan itu agak beresiko.


"Pak, tolong fokuslah pada jalan di depanmu...",


"Ada yang membuntuti kita semenjak keluar dari restoran tadi! Aku bersyukur kita tidak menggunakan Mini Cooper seperti saranmu",


Sarah menoleh kebelakang. Jalanan sangat sunyi. Hanya ada dua buah mobil dibelakang mereka. Yang satu berjalan normal dan yang satu lagi agak ugal-ugalan. Jalanan memang sudah tidak bersalju, tapi masih bahaya menurut Sarah. Ia hanya bisa menggenggam tali safety belt yang ia kenakan.

__ADS_1


Nafas Sarah tercekat saat ia melihat sebuah truk besar muncul dari persimpangan.


Jaka menekan klakson berkali-kali. Truk itu melambat, Hanya tersisa setengah jalan. Sarah menutup matanya.


Mobil mereka akhirnya masuk ke perkotaan. Mobil yang mengejar mereka tertinggal jauh. Jaka yang melihat kesempatan itu langsung membelokkan mobilnya memasuki sebuah gedung parkir yang lumayan tinggi.


Setelah sampai di lantai empat, Jaka memarkirkan mobilnya di salah satu lahan kosong yang agak kebelakang.


Sarah keluar dan langsung terduduk di lantai kotor dan berdebu. Kakinya lemas. Jaka membawa mobil itu sangat laju.


Jaka keluar dan langsung mendekati Sarah. Ia kemudian mengepalkan tinjunya dan meninju tembok yang ada di belakang Sarah. Ia sendiri kemudian meringis karenanya.


"Ma...maaf...", Suara Sarah bergetar. Ia tidak merasa saat air matanya mengalir. Ia ketakutan.


Jaka kemudian menariknya mendekat dan mencium bibir Sarah tanpa ragu. Ia kemudian memeluk Sarah.


"Sssthh... Jangan menangis. Ini semua salahku. Bagaimana kalau kita pulang saja? Tidak usah ke rumah keluargamu dulu malam ini? Aku tidak yakin siapapun yang mengejar kita sudah menyerah...",


Sarah hanya bisa mengangguk. Ia terlalu takut untuk mengambil keputusan sendiri. Dan seperti kemarin pun, ciuman Jaka mampu menenangkan Sarah.


"Bagaimana kita pergi dari sini?", tanya Sarah yang sudah lebih tenang.


"Aku akan panggil taksi. Terlalu bahaya jika kita keluar dengan mobil ini lagi...", Jaka menjelaskan.



__ADS_1



bersambung....


__ADS_2