Lay With The Devil

Lay With The Devil
Percakapan Kakak Ipar


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Sarah sudah menghubungi Pak Candra dan Anna untuk mengabarkan kalau ia demam dan tidak bisa masuk kerja.


πŸ“² Baiklah. Kau harus istirahat yang banyak agar lekas sembuh. Aku tidak tahan berdua saja dengan Anna di sini


Pak Candra jujur sekali. Sarah terkekeh mendengar jawaban Bosnya itu.


πŸ“² Duh... Kasiannya... cepat sembuh ya! Pekerjaanku menumpuk karena menggantikanmu...


Kalau Anna? Anak itu awalnya saja baik, ujung-ujungnya selalu tidak mengenakan.


πŸ“² Iya maaf! Namanya juga sakit siapa yang mau...


Mungkin jika orang lain mendengar obrolan mereka, akan berpikir mereka tidak akur. Tapi begitulah mereka... Kalau ngobrol selalu apa adanya.


β€»β€»β€»


Sarah mendengar kakak ipanya ngomel-ngomel di belakang. Padahal setaunya, Abang Aris sedang tidak dirumah. Sarah yang merasa penasaran mulai mendekati dapur sambil mengendap-endap. Ia mengintip kakak iparnya. Ternyata wanita itu sedang memasak sambil menelpon seseorang.


πŸ“ž Iya Bu... Sudah tiga bulan lebih dia tinggal di sini... aku jadi harus masak lebih. Kan capek!!


πŸ“ž ...


πŸ“ž Bukan, Bu. Entah dia anak siapa... Yang pasti Bang Aris itu dibayar supaya menampung wanita itu. Maunya aku ya, udahlah ya... disuruh pergi aja. Kan dia juga hilang ingatan, enggak bakal pulang ke keluarganya sendiri... Mana tau jalan...


πŸ“ž ...


πŸ“ž Maksud ibu apa? Bang Aris punya perasaan sama dia? Lah! Ibu jangan bercanda... Nggak mungkin lah...


πŸ“ž ...


πŸ“ž Iya dia cantik sih... Tapi kan aku nggak kalah cantik, Bu! Ck!


Sarah kembali ke kamarnya.


Obrolan apa itu? Dibayar? Manampungku? Bang Aris kan, abangku...


Tiba-tiba saja Sarah teringat seseorang di mobil, saat di perjalanan sebelum ia sadar dan sudah berada di dalam bus.


Siapa orang itu? Apa dia yang membayar Bang Aris? Atau dia juga keluargaku? tapi...


Tiba-tiba saja pandangan Sarah kabur. Kepalanya terasa berat. Ia pingsan di lantai kamarnya sendiri.


.


.


"Hei. Hei anak malas, bangunlah! Mau sampai kapan kau tiduran? Bantu aku menyiapkan makan siang!" Sinta menepuk-nepuk kasar pipi Sarah.


Sarah yang masih agak pusing, mau tidak mau terbangun.

__ADS_1


"Sebentar lagi abang mu balik. Dia ngamuk kalau makanannya belum siap. Bantuin dong. Jangan tiduran aja!" Sinta membentak.


Mengapa belakangan ini sifat Kak Sinta semakin berubah kepadaku?


Sarah bangun dari lantai tempat ia jatuh pingsan tadi. Ia lalu berjalan menuju ke dapur. Sambil menahan pusing, Sarah menyusun piring makan, menyalin sayur dari panci dan meletakkannya ke atas meja. Setelah dirasa cukup, Ia menutupnya dengan tudung saji.


Dan benar saja, tidak lama setelah itu Aris datang. Ia membawa sebuah bungkusan dan meletakkannya di atas meja makan.


"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah jauh lebih baik? Oh ya, itu nasi padang untukmu." jelas Aris menunjuk bungkusan yang tadi letakkan di atas meja. Ia membuka jaketnya dan meletakkannya asal.


"Terima kasih Bang." jawab Sarah agak kaku.


Sinta yang melihat pemandangan itu langsung merasa emosinya naik.


Aku saja tidak pernah dibawakan makanan dari luar. Ngirit katamu! Dasar laki-laki brengs*k!


Sinta meninggalkan jemurannya begitu saja. Ia masuk ke kamarnya dengan perasaan kesal. Ditutupnya pintu kamar dengan kasar.


Aris yang melihat kelakuan istrinya bahkan tidak peduli. Ia mengambil piring dan menyendok nasi untuk makan siangnya.


"Makanlah denganku. Biar saja kakak mu itu. Paling juga lagi datang bulan." jelas Aris sok tau.


Sarah yang mengerti mengapa Sinta marah, jadi semakin tidak enak. Tapi ia lebih takut kalau Aris marah padanya.


"I-iya bang." Sarah duduk dan mengambil bungkusan yang dibawa Aris tadi.


"Oya, itu titipan Candra. Katanya semoga lekas sembuh. Toko sepi kalau kamu gak masuk." Aris berusaha meng-copy kata-kata temannya itu.


"Kalau begitu aku akan mengucapkan terima kasih padanya lewat telepon..."


Sekarang ia merasa lega, karena ia tahu kalau makanan itu bukan dari Aris melainkan dari Pak Candra. Setidaknya apa yang dicurigakan pada dirinya oleh Sinta, tidaklah benar.


β€»β€»β€»



Jaka meneguk kembali kopi hitamnya. Dengan enggan ia mendengarkan tamunya berbicara. Semangat kerjanya menguap entah kemana.


"Oke Pak, Saya akan jadwalkan rapat kita untuk berikutnya, beberapa hari lagi..." orang itu masih menjelaskan dengan penuh antusias.


"Terima kasih."


Mereka bersalaman. Dan tamu itu kemudian pergi.


Jaka menyandarkan tubuhnya ke belakang. Ia menjadi gila kopi, kurang tidur dan stress. Mungkin jika tidak ada Paul yang selalu sigap disampingnya, ia akan tumbang saat ini juga.


drrrttt... drrttt....


Sebuah pesan dari ibunya, Nyonya Ningsih.

__ADS_1


πŸ“© Bagaimana kabar anak ibu? Sayang, main-mainlah ke rumah... Ibu akan masak makanan kesukaanmu. Oke?


Jaka sadar kalau selama beberapa bulan ini ia belum pernah mengunjungi rumah orang tuanya lagi. Hal itu karena Ia masih menyembunyikan pernikahannya dengan Sarah dari bapaknya. Tapi sekarang, Pak Ismail sudah tahu dan Sarah tidak ada. Jaka memutuskan untuk mampir ke rumah orang tuanya siang ini.


πŸ“¨ Aku baik-baik saja Bu. Jika boleh, aku akan makan siang disana...


β€»β€»β€»


Sarah sudah duduk dihadapan Bu Indy, Rangga dan bidan Risty. Ia nekat datang kesini setelah memikirkan kata-kata Sinta tadi siang.


"Sa-saya ingin minta tolong... Saya ingin menemukan keluarga saya..." jelas Sarah. Tanpa sadar air matanya mengalir. Ada dorongan kuat yang menghantam dadanya saat ia mengucapkan kata keluarga.


Mereka bertiga bingung dan saling bertukar pandang.


β€»β€»β€»


Ibu Mutia sedang berusaha menyuapi suaminya makan. Baru saja dokter yang memeriksanya pergi.


Pak Arnold memalingkan wajahnya. Ia menolak untuk mengisi perutnya.


"Pak, makan dulu. Lekaslah sembuh... Jangan sampai anak kita melihatmu dalam keadaan begini saat ia pulang..." jelas ibu Mutia dengan suara yang bergetar.


Ia sedih melihat suaminya begini. Ia sedih karena belum ada kabar baik dari menantunya.


Dengan lembut, diusapnya pipi suaminya.


"Makan ya..." bujuk ibu Mutia.


Terlihat anggukan kecil disana. Ibu Mutia tersenyum dan kembali menyuapkan bubur yang ia masak sendiri.


Sarah... Pulanglah nak...


.


.


✩bersambung✩


β€”β€”β€”β€”βœ©β€”β€”β€”β€”


Terima kasih atas perhatiannya terhadap karya ini... Semoga tulisan ini bisa berkembang menjadi lebih baik...


Dan semoga Sarah cepat pulih ingatannya dan bertemu lagi dengan keluarganya... Aamiin...


Jangan lupa Like, koment & Vote ya teman...


Love youuu 😘😘😘


.

__ADS_1


.


πŸ”Images: Google SearchπŸ”Ž


__ADS_2