Lay With The Devil

Lay With The Devil
Dinner Dengan Mertua


__ADS_3

✨Selamat Membaca...✨


Jaka sudah melajukan mobilnya ke arah rumah makan terdekat. Setahunya, memang ada beberapa rumah makan di sini, karena lokasinya yang berdekatan dengan tempat wisata pantai.


Setelah menelusuri jalan dan memilih rumah makan yang tepat, mereka akhirnya berhenti di depan sebuah rumah makan yang menjual ayam bakar dan ayam lalapan. Mereka turun dan langsung masuk menuju ke sebuah meja kosong.


Setelah memesan makanan, mereka kembali ngobrol ringan.


"Eeemmm... Apakah saya boleh bertanya?" tanya Sarah pada Jaka yang tidak pernah mengalihkan pandangan dari istri di depannya.


"Tentu saja boleh, Sayang. Akan ku jawab jika aku tau jawabannya..." Jaka menjelaskan.


"Apakah tempat kerjamu jauh dari rumah?"


"Hhhmmm... mengapa bertanya?"


"Tidak... Hanya saja, rumah begitu besar... Aku takut sendirian..." Sarah menjelaskan kekahawatirannya sejak tadi.


"Tenang Sayang, aku sudah memikirkan semuanya... Aku sudah menyuruh Paul mencarikan kita asisten rumah tangga untuk di rumah. Seorang Bodyguard untuk menjagamu dan seorang Security untuk menjaga rumah. Apakah itu cukup?" Jaka mengecup punggung tangan Sarah.


Sarah agak kaget dengan penjelasan Jaka. Ia merasa itu agak berlebihan. Tapi ia paham kalau laki-laki didepannya ini agak trauma setelah kehilangan dirinya.


Dengan tersenyum, ia mengangguk.


"Walaupun saya lebih suka kalau anda yang menemani..." jelas Sarah.


Ia berkata jujur. Karena bertemu dengan orang baru lagi akan membuatnya agak sulit. Terlalu banyak hal baru.


Jaka yang mendengar penjelasan itu menjadi sumringah.


"Benarkah? Aku akan selalu ada saat malam. Tenang saja..." Jaak tersenyum usil.


Hal itu sukses membuat Sarah tersipu malu.


※※※


Jaka memutuskan untuk mangajak isrtinya mampir ke rumah orang tuanya jika ia tidak lelah. Dan Sarah menyanggupinya.

__ADS_1


"Aku sangat senang kita kesana. Mereka sangat baik padaku..." jelas Sarah.


Jaka tersenyum saja. Ia tidak ingat kalau bapaknya tidak menyukainya dulu. Biarlah Sarah tidak tau. Bukannya itu lebih baik?


"Ayo, kita harus buru-buru agar bisa ikut makan malam... Jelas Jaka yang sudah siap.


Sarah mengambil ponsel lamanya yang diberikan Jaka setelah Sarah bebas. Sayangnya ada beberapa fitur yang tidak bisa ia buka karena ia menguncinya dengan pola. Jaka berjanji akan meminta Paul mengurusnya.


Di dalam mobil, Sarah berkali-kali mencoba jenis pola yang mungkin dibentuk oleh kesembilan titik itu.


"Haiiish..." Sarah mendengus kesal.


"Kenapa sayang?"


"Tidak... Saya hanya frustasi saat mencoba membuka pola ini... Untuk apa juga galeri sendiri, saya beri pola? Kepala saya tiba-tiba sakit..." jelas Sarah yang kemudian meletakkan ponsel itu ke atas dashboard.


"Tidak udah dipaksakan... Paul akan melakukannya. Ia genius..." Jaka menjelaskan.


※※※


Jaka memeluk ibunya. Bergantian, wanita itu kemudian memeluk Sarah.


"Baik bu... Kata dokter kandungan, besok saya harus datang lagi untuk USG. Ia ingin memeriksa baby..." jelasku lagi.


"Ibu ikut ya... Kalian tidak perlu menjemput ibu. Ibu akan datang sendiri... dengan bapakmu jika ia mau ikut... Boleh?" wanita itu terlihat sangat antusias. Padahal cucu nya sendiri sudah banyak.


Jaka dan Sarah tersenyum.


"Tentu aja ibu boleh ikut... Sarah malah senang... Terima kasih ya bu..."


Mereka lalu beralih ke ruang makan keluarga yang sangat luas.



Sarah sampai terkagum-kagum dibuatnya. Jaka lalu menarik sebuah kursi di tengah untuk istrinya. Ia sendiri duduk di sebelah Sarah.


Tidak lama kemudian, dua orang ART mulai mengeluarkan jamuan makan malam secara bergantian.

__ADS_1


Hidangan tadisional. Ada rendang jengkol, ayam pop, daging asam manis dan berbagai jenis lalapan. Dan yang membuat sarah kagum adalah nasi merah yang khusus dimasak untuk bapak dan ibu mertuanya.


"Eeemmm... bapak dan ibu sudah tidak makan nasi putih ya?" tanya Sarah yang berbisik pada Jaka.


"Iya... Sudah lama sih. Sejak aku masih sekolah menengah atas. Mereka sangat mementingkan kesehatan..." jelas Jaka singkat.


Sarah hanya mengangguk-angguk. Walaupun begitu, nasi putih juga disediakan oleh mereka.


"Silakan makan... Jangan malu-malu..." Pak Ismail mempersilahkan.


Sarah tersenyum mendengar kata-kata bapak mertuanya.


Ditengah makan malam, ibu Ningsih bertanya pada anaknya, "Sayang, kamu sudah tidak ngidam kan? Usia kandungan Sarah kan sudah empat bulan lebih..."


"Iya bu. Sudah hilang... Kata dokter Fandy faktor stress juga mempengaruhi acara ngidam kemarin..." Jaka menjelaskan.


Tidak lama kemudian, seorang ART mendekati ibu Ningsih dan berbisik padanya. Ibu Ningsih mengangguk paham.


"Suguhkan minuman dan cemilan. Bilang saja kami masih makan malam. Nanti kami menemui mereka..." ibu Ningsih menjelaskan.


ART itu kembali ke dapur untuk mengerjakan perintah majikannya.


"Siapa bu?" tanya Pak Ismail penasaran. Ia telah selesai makan.


"Pak Maulana dan Debby. Katanya, ingin membicarakan sesuatu..."


Mereka saling beradu pandang. Mereka tau betul maksud kedatangan kedua orang itu...


🌻bersambung...🌻


————————————🎭———————————


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya...


Love kalian yang masih mendukung karya ini...


Like & koment supaya aku juga semangat mengunjungi karya-karya kalian. Thanks!!

__ADS_1


🎨Image: Google Search


__ADS_2