Lay With The Devil

Lay With The Devil
Keributan


__ADS_3

👾Selamat Membaca👾


Beberapa pelayan sudah mulai menyimpun sisa makan malam tadi. Beberapa tamu juga sudah meninggalkan kediaman keluarga Sanjaya. Hanya tinggal kerabat yang juga sudah kembali masuk ke dalam rumah utama untuk beristirahat.


Paul ditugaskan Jaka, untuk mengantar keluarga Sarah kembali ke rumah Jaka dan Sarah. Esme sendiri sudah pulang dengan jemputannya sejam sebelumnya.


"Bos, ada keributan di pintu depan!" jelas Vegas memberi informasi kepada Jaka.


Mendengar hal itu, Sarah merapatkan pelukannya di lengan suaminya.


"Ada apa?" Sarah merasa ngeri.


"Tenanglah. Kau kembalilah lebih dulu dengan Betty." Jaka mengusap rambut istrinya.


Sarah ingin menolak. Ia ingin kembali bersama suaminya. Tapi ia tau kalau suaminya hanya ingin melindungi istri dan calon anak-anaknya. Sarah masuk kedalam rumah bersama Betty.


※※※


Setengah jam berlalu.


tok tok tok


Betty membukakan pintu kamar, setelah yakin jika yang datang adalah tuannya.


Sarah yang melihat kedatangan Jaka, langsung menghampiri suaminya itu dan memeluknya.


Betty meninggalkan mereka.


"Apa anda baik-baik saja?" tanya Sarah yang masih enggan melepaskan pelukannya pada sang suami.


Jaka mengangguk. Ia lalu mengajak istrinya itu, untuk duduk di tepi tempat tidur.


"Apa? Apa yang terjadi di depan tadi?" tanya Sarah penasaran.


"Salah satu orangku diserang orang tak dikenal."


Sarah sontak menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia kaget.


"Apa ia baik-baik saja? Bagaimana pelakunya?" Sarah semakin khawatir.


"Sudah di bawa ke rumah sakit. Sepertinya tertusuk lumayan parah. Penyerangnya berhasil dilumpuhkan. Kata mereka, kejadiannya sangat cepat."


Mendengar cerita itu, perut Sarah tiba-tiba merasa ngilu. Ia memeganginya sambil menahan sensasi tidak menyenangkan itu.


Jaka yang menyadari perubahan raut wajah istrinya, ikut terlihat panik.


"Sayang? Apakah kalian baik-baik saja?" tanya Jaka yang sudah mengusap lembut perut istrinya.


Sarah menarik dan membuang nafas dengan teratur, untuk menghilangkan rasa sakit itu. Untungnya hal itu selalu ampuh.


Sarah tersenyum. Butiran keringat menghiasi keningnya.


"Apa keluarga saya baik-baik saja?" tanya Sarah yang sudah memainkan lagi ujung bajunya.

__ADS_1


"Aku sudah menambah penjagaan di sana. Tenang saja, yang tadi itu karena mereka kurang fokus. Aku janji tidak ada lagi hal seperti ini. Istirahatlah, aku akan disini menjagamu..." jelas Jaka menenangkan istrinya.


Menurut. Sarah lalu mengganti pakaiannya dengan baju tidur yang lebih nyaman. Ia juga sudah membersihkan make up-nya dan menyikat giginya.


Seperti kata Jaka, pria itu menjaga Sarah yang mulai terlelap.


※※※


Jaka meninggalkan kamar Sarah. Ada enam orang penjaga yang ditugaskan Jaka untuk menjaga istrinya dari luar kamar. Selain itu, Betty juga berada di dalam bersama Sarah.


Dengan langkah cepat, ia menuju ke gudang, tempat orang-orangnya menahan penyerang tadi.


.


.


Bugh!!


Jaka mendaratkan sebuah pukulan tepat di pipi kiri pria itu.


Bugh!!


Satu lagi di perutnya.


Padahal orang itu sudah babak belur akibat pukulan dari anak buah Jaka. Tapi Jaka masih saja memukulinya.


"Apa kau masih tidak mau bicara, hah? Dasar sampah! Beraninya mengusik keluargaku!" cerca Jaka yang sudah sangat marah.


Hening.


Jaka melangkah meninggalkan ruangan itu.


"Tu—tunggu... Jangan pukul lagi..." orang itu akhirnya bersuara, "Sa—saya... hanya disu—"


"Jaka! Ikut aku!" panggil Paul yang tiba-tiba muncul dari balik pintu gudang.


Jaka lalu memberi kode kepada anak buahnya untuk terus menjaga tawanan mereka, sementara ia mengikuti langkah Paul, yang membawanya kembali menuju ke pintu depan.


"Ada apa, sih? Bicaralah! Kau membuatku penasaran!!" omel Jaka yang masih terus melangkah.


"Kau harus lihat sendiri." Paul lalu menunjuk sosok wanita yang tengah pingsan beberapa meter dari pos security.


Jaka lalu menyuruh anak buahnya untuk melihat kondisi wanita itu.


"Apakah itu Debby?" tanyanya pada diri sendiri.


Saat anak buahnya membalikan tubuh wanita itu, barulah terlihat jelas kalau wanita yang pingsan di pekarangan rumah keluarga Sanjaya itu adalah Debby. Kondisinya sangat memprihatinkan. Seperti baru saja diperk#sa oleh beberapa orang tanpa ampun. Baju yang ia pakai bahkan sudah tidak layak. Selain itu, di wajahnya bahkan terdapat beberapa luka memar. Belum lagi di tangan dan bagian tubuh lainnya. Setahu Jaka, Debby sedang bersama dengan seorang bos kelompok geng, seperti kata Reza.


"Bagaimana ia sampai disini?" tanya Paul yang sudah berjongkok untuk memeriksa keadaan Debby.


"Dia diturunkan oleh sebuah mobil van hitam, Pak. Setelah menurunkannya, mobil itu langsung pergi. Setelah berjalan beberapa langkah, wanita ini jatuh pingsan. Sepertinya ia dalam pengaruh obat bius." jelas anak buah Paul yang sejak tadi berjaga di depan.


"Masalah apa lagi ini? Mengapa harus sekarang?!" tanya Jaka jengkel. "Bawa ia kedalam. Setelah itu hubungi dokter Fandy." jelas Jaka setelah melihat jam nya masih menunjukkan pukul sebelas malam.

__ADS_1


"Baik, Pak!" jawab beberapa orangnya kompak.


※※※


Jaka menengok kamar istrinya beberapa saat lalu. Ia masuk dan mendapati istrinya masih tertidur dengan pulas.


Sekilas diciumnya perut Sarah yang membulat.


Saat ini ia sudah berada di kamar lain di rumah itu. Selain Jaka, Paul dan dokter Fandy, sudah ada juga kedua orang tua Jaka. Mereka terlihat sangat khawatir. Apalagi mengingat gadis itu menghilang sebelum kematian ayahnya. Mereka sangat yakin, kalau Debby bahkan tidak tahu kalau ayahnya telah meninggal.


Doktet Fandy sudah mengobati luka-luka di tubuh Debby. Ia juga memberikan beberapa jenis obat untuk gadis itu.


"Ia dalam kondisi syok. Ia terlihat seperti habis di serang beberapa orang. Tapi, tanpa visum kita tidak bisa mengetahui penyebab pastinya..." jelas doker Fandy.


Setelah pemerikasaan itu, Debby masih belum sadar. Kata dokter Fandy, obat bius yang digunakan pada Debby lumayan kuat. Kemungkinan besar, gadis itu baru akan sadar kesokan harinya.


Setelah dokter Fandy pulang, Jaka memerintahkan dua anak buahnya untuk berjaga di depan kamar Debby. Mereka masih punya banyak pertanyaan untuk gadis itu dan ia tidak ingin Debby menghilang lagi sebelum ia tahu kebenarannya.


"Paul?"


"Aku akan berjaga di sini. Kau istirahatlah." jelas Paul sambil menepuk bahu bos nya.


"Kau istirahatlah juga. Aku memerlukanmu tetap waras, saat aku mulai hilang kendali." jelas Jaka yang sudah melangkah menuju kamar istrinya.


.


.


.


Tap tap tap...


Sam yang tadi bertugas mengintrogasi penusuk salah satu anggota mereka, datang dengan terburu-buru.


"Bos, Bos!"


"Sssthh! Apa?"


"Orang itu buka suara. Dia bilang mereka sewaan Aldo. Ketua dari Geng Macan."


Paul mengerutkan keningnya. Bukan nama yang pernah ia dengar. Itu artinya ada yang menggunakan jasa mereka. Bukan masalah pribadi antara Bos nya dan orang itu.


"Oke. Apa orang itu masih sadar?"


"Sedikit."


"Antar ia ke kantor polisi. Bilang saja di keroyok massa karena menusuk orang di tempat umum.


Sam beranjak untuk melakukan pekerjaannya.


Paul meraih ponselnya. Ia tau dengan siapa mereka berurusan. Dan ia juga tau, siapa yang bisa menyelesaikannya.


🌪bersambung...🌪

__ADS_1


Jangan lupa like dan VOTE ya... Dukung author agar semakin semangat upload 🤗.


Terima kasih 😄😄


__ADS_2