
Sarah menarik koper hitam berukuran delapan belas inci itu mengikuti langkah Jaka. Ia tidak mengira kalau penerbangan malam lumayan ramai.
Sarah sudah menyiapkan fisiknya untuk penerbangan ini. Dua belas jam bukanlah waktu yang singkat.
Sebelum ke bandara, Jaka sempat mengajak Sarah untuk membeli beberapa cemilan di salah satu swalayan.
"Bapak tidak pernah memberi tau kalau ada Stevanie yang selama ini mengurus apartemen dan mobil bapak. Patas saja saya pernah lihat bapak dengan seorang perempuan naik mini cooper itu...",
"Oya? Kapan?",
"Saat aku masih tawanan Margo. Aku pikir sedang berhalusinasi...",
"Dia ipar dari kak Melisa. Dia membantuku mengurus mobil dan apartemen selama aku tidak di sini. Lagian itu apartemen keluarga. Bukan milikku pribadi...",
"Aaa... yang suaminya orang sini kan? Eemmm, bapak tidak mengunjungi mereka?",
"Sebenarnya ada rencana dia mau datang. Tapi sepertinya kesibukan suaminya lumayan padat. Melisa tidak pernah pergi sendiri. Begitulah...", Jaka menjelaskan.
Counter check in baru akan dibuka setengah jam lagi. Jaka menyibukan diri dengan membaca e-mail yang masuk.
Sarah sendiri asik dengan gamenya.
"Jaka!!!", suara teriakan itu sukses membuat beberapa orang mengalihkan pandangannya ke arah seorang perempuan dengan rambut sependek laki-laki. Perempuan itu melambaikan tangannya pada Jaka dan Sarah.
Jaka bangkit dan dengan cepat menghampirinya. Senyum terukir di wajahnya.
Ugh... Silau...
Sarah terpukau.
"Melisa...", Jaka memeluk perempuan itu.
"Aku minta maaf... tidak bisa mampir ke rumah... aku lihat, kau baik-baik saja...",
"Beginilah. Dimana suami mu?",
"Sedang parkir mobil. Aku meninggalkannya karena parkirannya penuh sekali...",
Sarah yang ada di belakang Jaka kemudian menunduk sedikit pada Melisa.
"Halo... Saya Sarah... Saya a-",
"Dia temanku", Jaka memotong kata-kata Sarah. Sarah tidak berani berkomentar.
Melisa mengulurkan tangannya.
"Aku Melisa. Kakak Jaka yang paling tua...",
Sarah tersenyum.
"Anda terlihat seperti adiknya...", Sarah terlihat kagum.
"Ehm... kau bisa saja... Benarkah?",
Sarah mengangguk lagi.
Jaka mengajak kakaknya duduk.
"Hampir setahun dan kakak tidak pernah pulang",
"Kakak selalu video call dengan bapak dan Ibu. Tenang saja...",
__ADS_1
"Ya, tapi rasanya berbeda. Tidak ada oleh-oleh lagi. Kau tau kan...",
"Dasar!! Oya, kakak pikir kau datang dengan Paul...",
"Iya memang. Tapi ia harus pulang lebih dulu karena Emerald Auto tidak boleh kosong. Aku juga buru-buru menyelesaikan urusanku disini. Kakak tau kan, aku tidak pernah suka datang kesini saat musim dingin...",
"I know...",
Sarah yang dari tadi hanya duduk sambil sesekali melihat tiket penerbangannya, dibuat kaget saat seseorang menyenggol kopernya.
"Sorry.. sorry..",
Marisa memanggilnya.
"Honey, disini...",
Wow... ganteng banget...
Sarah sampai speechless.
Keluarga apa ini...
※※※
Jaka menunggu koper sambil merenggangkan pinggangnya. Setelah perjalanan yang melelahkan, akhirnya mereka sampai.
Paul yang sudah menunggu mereka, mengambil alih koper yang dibawa Jaka dan Sarah. Ia memasukannya ke bagasi.
"Kalian sudah makan malam?", tanya Paul.
"Belum... Ke rumah makan yang paling dekat saja... aku sangat lapar...", Jaka menjelaskan.
Sarah hanya bisa menurut. Ia juga lapar.
"Jadi bagaimana selanjutnya?", Paul memulai obrolan.
"Daripada itu, aku lebih penasaran dengan kabar AntiQ Jaya... Bagaimana?",
Seorang prmusaji mengantarkan pesanan mereka.
"Aku dan Herman sudah mengurusnya. Semua dana yang bisa kami tarik, sudah kami masukan kembali ke neraca keuangan AntiQ jaya. Pak Alfandi dipindahtugaskan oleh Bapak Ismail sendiri. Margo sudah di blacklist. Ia tidak akan bisa bekerja di perusahaan manapun. Paling tidak sampai satu tahun kedepan...",
"Itu sadis sih...", Sarah menyahut.
"Menurutku, apa yang mereka lakukan kepadamu lebih sadis...", Jaka menambahkan.
"Sudah beruntung mereka tidak di penjara...", Paul mengingatkan.
Sarah menyeruput esspreso hangatnya.
"Sebenarnya Pak Ismail sudah punya feeling yang kuat tentang anaknya, Pak Indra. Tapi beliau tidak ingin asal tuduh... Bapak bilang, kalau ada satu saja bukti yang mengarah ke anak nya itu, ia akan menghentikan semua aliran dana yang di berikannya untuk Seventh Street...",
"Perusahaan itu bahkan tidak ada. Ia malah mendirikan bisnis hiburan yang bercampur dengan kegiatan ilegal...",
Sarah hanya menjadi pendengar yang baik sambil menyuap iga panggangnya.
"Aku akan menemui bapak besok pagi. Dan menceritakan semuanya. Aku harap kau mau ikut...", Jaka memandang Sarah yang sedang menikmati iga nya.
"Uhuk..!! Iya... Saya masih punya cuti tiga hari... ", Sarah meneguk air putih.
"Bagus..."
__ADS_1
Mereka melanjutkan makan. Sampai selesai, tidak ada obrolan tentang perusahaan lagi.
※※※
Mobil Jaka sudah berhenti tepat di depan apartemen Sarah. Paul sudah turun dan mengeluarkan koper Sarah.
"Kamu yakin kembali kesini?", tanya Jaka yang menahan tangan Sarah yang akan membuka pintu mobil.
"Memangnya saya mau kemana lagi, Pak?",
"Aku tidak ingin kamu bertemu si brengsek itu lagi... Tinggallah di apartemenku. Aku akan ke rumah Pak Ismail", Jaka membujuk.
Sarah menepuk-nepuk tangan itu.
"Aku akan baik-baik saja, Pak. Tapi terima kasih sudah menawarkan... Manis sekali",
Baru kali ini, Sarah melihat wajah pria itu begitu memohon.
Jaka menarik wajah Sarah mendekat dan menciumnya sekilas.
"Sorry, tapi aku akan mengantarmu", Jaka menautkan helaian rambut Sarah yang terjatuh kembali ke belakang telinganya.
Jaka membuka pintu untuk mengantar Sarah.
Sarah keluar dengan perasaan, berbunga-bunga? Semacam itu.
"Ehm. Saya tunggu di mobil, Pak. Ini bukan tempat parkir, kan?", Paul kembali masuk dan mengunci pintu mobil.
Jaka tidak peduli kalau asistennya itu akhirnya tau. Ia bahkan baru tau, mungkin ia begitu tertarik dengan Sarah.
※※※
Sarah berbaring di ranjangnya. Ia kembali mengingat beberapa saat yang lalu saat abang iparnya membuka pintu dan menatap sinis pada mereka berdua.
"Hhhmmm... akhirnya anak ini pulang juga... Entah apa yang sudah dilakukannya...",
Sambutan yang kurang baik memang. Kata-kata itu membuat Jaka merasa geram. Ia bahkan sudah mengepalkan tinjunya, bersiap-siap.
"Sudahlah, Pak... tidak usah di dengar"
"Kau pindah ke apartemenku saja! Orang ini sangat memuakan..."
"Sstttthhh...", jari telunjuk Sarah tepat di depan bibirnya "Jangan biarkan orang berfikir macam-macam... Aku bisa mengatasi ini...",
"Tapi-",
"Hei!! Masuklah. Dasar wanita mur**an!! Sudah dua hari Bima sakit karena ingin bertemu...",
Mendengar itu, Jaka menjadi sangat geram. Ia maju dan menarik kerah baju orang itu. Sedangkan Sarah langsung masuk tanpa menghiraukan kedua pria itu.
"Hei!! Kau yang bekerja di Top Oil sebagai Manager Produksi, jabatanmu memang lumayan prestisius, tapi Isabell adalah sepupuku. Dan dia adalah pimpinanmu! Kalau kau berani menyentuh Sarah walau sehelai rambut, kupastikan kamu akan kehilangan pekerjaan... Dan akan di blacklist di seluruh perusahaan... bagaimana? Tertantang?",
Jaka melepaskan genggamannya dan kemudian meninggalkan orang itu.
Bisa-bisanya Sarah betah tinggal disana...
♡
♡
♡
__ADS_1
bersambung....