
π£π£π£π£π£π£π£π£π£π£π£π£π£π£
Jangan lupa di Like, koment & Vote ya...
Supaya saya makin semangat upload!
Terima Kasih πππ
ββββββββββ β ββββββββββ
π Apa dia sudah sudah sampai rumah?
π Belum... Kami masih menunggu montir menyelesaikan pekerjaannya. Tenang saja...
π Bagus. Setelah ini, tidak ada lagi kebahagiaan untuknya. Selamat bersenang-senang...
Sarah ingin membuka mata. Tapi rasanya berat. Namun ia mendengar semua kata-kata orang di sebelahnya.
Dimana ini... Siapa orang yang bicara tadi... Astaga... Kenapa kepalaku sakit sekali... Mau kemana ini...
Orang itu menepuk-nepuk pipi Sarah. Sarah hanya bisa berpaling. Mau membuka mata saja tidak bisa.
"Tidurlah yang lama. Aku akan membawamu ketempat yang jauh. Dimana tidak ada yang bisa menolongmu..."
Jahat sekali! Siapa dia? Eh... tunggu... Siapa aku? Kenapa aku tidak ingat siapa aku dan siapa dia?
Sarah menoleh ke kanan. Ia berusaha membuka matanya. Ia ingin melihat orang yang membawanya.
Samar. Tapi ia bisa melihat orang itu.
Aku tidak tau... Siapa dia? Apa dia suamiku? Tapi kenapa jahat sekali...
"Kau bangun? Tidurlah. Perjalanan masih panjang..."
Sarah menutup matanya. Memang itulah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan.
β»β»β»
Mobil yang membawa Sarah berhenti setelah perjalanan yang lumayan jauh. Mereka tiba di sebuah terminal bus.
Ia meninggalkan Sarah di mobil. Orang itu kemudian bicara pada seorang kenek bus yang sedang mencari penumpang.
"Jadi bagaimana? Apa bisa kau lakukan?"
"Kalau ada uangnya bisa saja. Asalkan setelah sampai tujuan, benar-benar ada yang menjemputnya..."
"Tenang saja. Teman saya akan menjemputnya. Pastikan saja ia tidak turun sebelum sampai ketujuan."
"Baiklah."
Orang itu kemudian memberikan sejumlah uang yang lumayan banyak. Ia kembali ke mobil dan membopong Sarah keluar. Mereka berdua menaikkan Sarah ke atas bus. Mendudukkan Sarah di bangku paling belakang agar si kenek bisa terus mengawasinya.
Sarah benar-benar tidak bisa apa-apa. Ia masih ada di bawah pengaruh obat bius yang di berikan padanya.
β»β»β»
Tit.. tit.. tit..
Sarah terbangun mendengar suara lampu sein bus. Ia kaget karena sudah berada di dalam bus.
Bukannya tadi naik mobil?
__ADS_1
Masih agak pusing, tapi Sarah berdiri dan merapihkan bajunya. Ia berjalan menuju pintu. Saat ingin turun, kenek bus menahannya.
"Eh?"
"Tunggu jemputanmu dulu. Oke?"
Sarah kembali ke bangkunya.
Jemputan? Siapa yang akan menjemputku? Apakah keluargaku?
Sarah menunggu. Setelah setengah jam, ada orang yang mencarinya.
"Ayo ikut aku." perintah orang itu. Sarah menurut saja.
"Apakah kita akan pulang?"
"Pulang? Apa kau gila?"
"Maaf. Tapi sepertinya tidak. Aku hanya merasa sangat lelah."
"Begitu? Kau tau dimana ini? Kau ingat siapa namamu kan?"
Sarah menggeleng. Orang itu memperhatikkan kepala Sarah dari depan hingga belakang.
Tidak ada luka. Kenapa dia? Sebaiknya aku tanyakan bos. Mana tau ini termasuk kedalam rencananya...
"Tunggu di sini."
Orang itu menjauh. Ia kemudian menghubungi seseorang melalui ponselnya.
π Hallo, Bos apa kau membuatnya hilang ingatan?
π Apa? Katamu dia hilang ingatan?
π Bagus. Jalankan sesuai rencana. Tapi jangan lepaskan pangawasanmu darinya. Bisa saja ia menipu kita untuk akhirnya kabur.
π Oke.
Orang itu kembali mendekati Sarah.
"Ayo. Kau harus segera pulang. Kakakmu sudah menunggu di rumah."
Sarah mengangguk. Ia mengikuti langkah orang itu.
β»β»β»
(Kembali beberapa jam, di kediaman Jaka)
Jaka menghubungi Paul melalui telepon rumah. Ia panik sekali karena Sarah tidak ada dan ponselnya tidak bisa dihubungi.
β Paul! Kau kusuruh mengawasi Sarah! Dimana dia? Dia tidak ada dirumah.
β Benarkah!? Aku ada di depan. Dan ia tidak pernah keluar.
β Siapa yang berjaga di belakang?
β Simon. Aku akan menghubunginya.
Jaka sudah mencari kesetiap sudut rumahnya. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Sarah. Istrinya juga tidak meninggalkan pesan apa-apa.
Jaka tidak bisa diam saja menunggu. Ia harus melakukan sesuatu.
Ting Tong!
__ADS_1
Bell apartemen Jaka bunyi. Itu Paul. Jaka membuka pintu dengan tidak sabar.
"Bagaimana?"
"Pasti lewat belakang. Simon sempat ke toilet. Dimana ponselmu?"
"Hilang saat keluar restoran. Apa mungkin Debby bagian dari masalah ini? Aku akan membunuhnya jika ia benar-benar terlibat."
Paul memperlihatkan pesan yang tadi dikirimkan Sarah padanya.
"Kapan-"
"Kita kesana sekarang. Siapapun yang mengirimkan pesan itu, pasti tau keberadaan Sarah."
Mereka pergi menuju penginapan Xaheed.
β»β»β»
Jaka menggebrak meja resepsionis. Ia jengkel karena pihak penginapan menolak memberi informasi.
"MANA MANAGER KALIAN? APA PERLU KUBELI TEMPAT INI DAN MEMECAT KALIAN SEMUA?!!"
Mereka semua diam. Akhirnya salah satu dari mereka mengetik keyboard komputer dihadapannya.
"Ti-dak ada reservasi atas nama Sarah... Tapi memang ada yang datang atas nama Sarah. Ia menemui seseorang bernama Jaka Sanjaya yang memesan kamar nomor tiga puluh satu di lantai dua. Apa-" belum sempat orang itu menyelesaikan pertanyaannya, Jaka dan Paul sudah meninggalkan tempatnya.
Tidak sampai lima menit, mereka sampai di depan kamar nomor tiga puluh satu.
Paul membukanya. Gelap. Selain itu, bau amis mulai menyergap. Jaka merinding. Ia takut melihat sesuatu yang tidak ingin dilihatnya. Ia mengurungkan niatnya untuk memanggil Sarah.
"Apa kau ingin aku menyalakan lampunya?" tanya Paul sesaat setelah menutup pintu dan menguncinya.
Jaka tidak bersuara.
Lampu dinyalakan. Ruangan itu kosong. Tapi ada noda darah yang lumayan banyak di atas bantal. Selain itu, ada sebuah asbak kristal dengan bercak darah.
Wajah Jaka terlihat pucat saat menemukan tas istrinya dilantai. Isinya berserakan. Yang membuatnya semakin geram adalah baju istrinya yang telah koyak di atas tempat tidur.
Apakah ada yang melecehkan istriku? Darah siapa itu? Aku akan membunuh siapapun yang melukai Sarah!!
Saat Jaka akan memungut baju istrinya, Paul melarang. Ia lalu mengambil gambar ruangan itu, posisi tas sarah, darah di atas bantal, semuanya.
Jaka mendekati jendela yang terbuka. Saat itulah ia melihat sesosok tubuh tinggi besar tergeletak di antara semak-semak.
"Paul! Lihat ini. Apakah dia orangnya?"
Paul mengambil fotonya dari atas. Sudah pasti jatuh dari kamar itu.
"Sebaiknya bereskan tempat ini. Jangan sampai ada jejak Sarah disini. Ia bisa terseret kedalam kasus pembunuhan."
Paul mengambil bantal yang berlumuran darah dan baju Sarah. Ia lalu membawanya ke kamar mandi. Paul kemudian membakar bantal itu di dalam bathtub. Setelah yakin tak bersisa, Paul menyalakan blower dan membersihkan sisanya.
"Bersikaplah natural. Kita pergi sebelum mayat itu ditemukan..."
Jaka hanya bisa mengangguk. Dibawanya barang-barang milik Sarah bersamanya.
_β _
_β _
_β _
.tbc.
__ADS_1
πΌImages: Google Searchπ‘