
''Zal kamu nggak ingat apa kata papa, kita tidak boleh membalas apa pun yang orang lain lakukan terhadap kita, umur itu di tangan Allah, apa pun yang terjadi sama papa nantinya kita harus menerimanya, dan kita harus bisa berbesar hati kepada orang yang lemah,
''Maaf kak, tadi aku hilaf, dia sudah menembak papa ,dan sekarang kita belum tau gi mana keadaanya.
''Makanya cepetan masuk, kita ke rumah sakit sekarang!!
Setelah Rizal masuk Rafi langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit, di perjalanan Rizal sibuk menghubungi Nadia dan yang lain .
Dalam telpon tidak ada percakapan, selain menyuruh Nadia serta yang lain datang ke rumah sakit,
Waktu yang sedikit lama, kini mobil yang di kendarai Rafi tiba di parkiran rumah sakit,
Rafi langsung turun dari mobil berlarian mencari dokter,
''Dok, tolong teman saya, dia terluka parah, dan kini masih berada di mobil.
Tak butuh waktu lama, dokter segera menghampiri mobil Rafi.
Baju yang penuh dengan darah bahkan sampai mengering,
Adit kini terkapar diatas brankar dan masuk ruang ICU
Sedangkan Rizal dan Rafi mengikuti dari belakang,
Sekelebat Deny yang melihat Rafi dan Rizal langsung memanggilnya.
''Kak, Zal, kalian mau kemana? Deny dengan kepanikannya.
Rizal dan Rafi hanya menunjuk brankar Adit,
''Papa gi mana keadaannya Den?
''Dokter belum keluar kak.
''Kalau Alea?,
''Dia sudah berada di ruang rawat inap,
''Syukurlah, hati Rafi sedikit lega.
''Ya udah kalau gitu tunggu aja,
Tak lama Nadia dan Mama Widya serta Lilis datang.
''Raf, Zal, sebenarnya ada apa, kenapa kalian nyuruh kami ke sini?
''Ma, mama yang tenang ya, jangan syok, jangan kaget, mama yang kuat,
''Sebenarnya ada apa ,apa yang terjadi, dan ini, apa ini ,kenapa banyak darah di baju kamu Zal, mama Widya sambil memegang baju Rizal yang masih penuh dengan noda .
''Mas, apa yang terjadi, papa mana?tanya Nadia
Rizal, bingung harus menjawab apa, Sedangkan Rafi segera merangkul sang mama, ''Papa tertembak''.. , satu bisikan namun terasa sangat menusuk di jantung mama Widya .
Tangis pecah, air mata membasahi pipi mama Widya,
Sedangkan Nadia hanya bisa menangis di pelukan sang suami.
__ADS_1
Tidak ada kata yang keluar lagi dari mulut mama Widya maupun Nadia.
Kini hanya terdengar tangisan dari orang orang yang sangat mencintai papa Doni.
Setelah kurang lebih satu jam ,dokter keluar dari ruangan papa Doni,.
Semua menyambut dokter dengan antusias,
''Gi mana kedaan papa saya dok?tanya Rafi antusias.
''Alhamdulillah ,tuan Doni baik baik saja, hanya saja beliau belum sadar ,karena masih terpengaruh obat bius, untung saja cepat di bawa ke sini, jadi beliau tidak kehilangan banyak darah, Dan pelurunya pun di punggung, mungkin kalau itu di depan, akan lebih berbahaya.
''Baik Dok, kalau gitu terima kasih, apa kami boleh masuk?
''Silahkan, tapi saya harap tidak mengganggu ketenangan pasien, Kalau begitu saya permisi dulu, karena harus menangani pasien lain .
''Kalian masuk dulu, aku mau lihat Alea. Rafi.
Rafi berlalu mencari di mana ruangan Alea.
Rafi membuka pintu dengan pelan,
''Om, gi mana keadaan Alea?tanya Rafi.
''Dia belum sadar Raf,kata dokter dia cuma syok aja,terus gi mana dengan pak Doni?
''Alhamdulillah papa juga baik, cuma saat ini beliau belum sadar.
Tak lama Alea mengerjap ngerjapakan matanya,
''Aku di mana, Pa, mas, sambil mencoba bangun.
''Terus gi mana kedaaan papa Doni?
''Papa baik, beliau masih di ruang ICU, dan sekarang mama dan yang lain di sana.
''Aku juga mau ke sana, aku pingin lihat keadaan papa?
''Iya, nanti kalau kamu sudah benar benar sehat, sekarang kamu istirahat aja, aku temani,
Alea mengangguk.
Setelah Alea memejamkan mata, Rafi keluar karena masih banyak yang harus di urus.
Sedang di ruangan lain Dokter sangat sibuk dengan pasien yang kehilangan banyak darah, pasalnya stok darah di rumah sakit habis,
''Permisi, apa benar ini keluarga pasien atas nama Bapak Aditya,
Semuanya melongo, hanya Rizal yang mengangguk.
''Benar sus, memang kenapa dengan pasien?tanya Rizal.
''Sebelumnya saya akan memberi tau, bahwa pasien yang bernama Aditya kehilangan banyak darah ,dan membutuhkan donor, karena stok darah rumah sakit habis, Jadi apa dari keluarganya ada yang sama darahnya.
Memang darahnya apa sus? tanya Rizal.
''AB pak, dan kami butuh secepatnya, karena pasien saat ini sedang kritis
__ADS_1
''Ambil darah saya saja sus, darah saya sama AB, tiba tiba Rafi muncul dari balik pintu,
Semua hanya bisa diam, karena nggak mungkin untuk melarang Rafi untuk menyelamatkan seseorang meskipun orang itu sudah berbuat jahat .
''Kalau begitu silahkan pak, kami akan memeriksa bapak dulu,
Rafi mengekori suster nenuju tempat pemeriksaan.
Sedangkan Deny dan Lilis pamit untuk pulang,
''Mas, memang siapa sih Aditya itu, dan dia kenapa kok sampai kehilangan banyak darah,
''Sayang, dia itu teman kak Rafi, dan dia juga kena tembak seperti papa, cuma kita telat bawa ke sini nya.
''Ya udah sekarang mas ganti baju dulu nih, aku tadi bawain dari rumah mama. Nadia sambil menyodorkan paper bag.
''Juan di mana kok nggak dia ajak?
''Mas, Juan di rumah sama Bik Narti, soalnya tadi aku buru buru dan belum nyiapin apa apa.
Rizal langsung mengambil paper bag ke kamar mandi.
Sedangkan Mama Widya masih saja memandangi sang suami yang kini masih setia di alam tidurnya.
Nadia menhampiri mama Widya dan mengusap punggungnya.
''Mama yang sabar ya, pasti nanti papa sadar, lagian kata dokter kan papa nggak apa apa.
Mama Widya hanya mengangguk.
''Sekarang mama makan dulu, kan dari tadi mama belum makan. pinta Rizal.
''Kamu dan Rizal aja duluan, mama belum lapar,
''Ma, kalau mama nggak makan, siapa yang jagain papa,tiba tiba Rizal muncul dari balik kamar mandi,
Akhirnya dengan paksaan Rizal dan Nadia mama Widya mau makan meskipun sedikit,
Selang beberapa waktu Rizal pamit untuk keluar,
''Sayang, kamu di sini ya, mas keluar sebenatr, mas mau njenguk kak Rafi.
Nadia mengangguk.
Rizal berjalan mencari tempat di mana ruangan Rafi,
Setelah sampai, Rizal langsung masuk dan melihat Rafi dengan keadaanya yang lemas,.
''Kakak, nggak apa apa?
Rafi menggeleng, kakak baik baik aja, kamu jangan khawatir, gi mana papa, apa sudah sadar?tanya Rafi.
Rizal menggeleng.
''Tenang aja ,kakak yakin papa nggak apa apa,
Beliau orang yang kuat ,dan kita harus mengikuti jejaknya, kebaikan, serta kewibawannya itulah yang membuat papa semakin di segani.
__ADS_1
Rizal sebagai adik hanya bisa mengangguk apa pun yang di ucapakan Rafi sang kakak.