
Berpenampilan seksi dan sangat cantik, itulah gambaran tubuh Alea, saat ini Alea sedang memasuki lift menuju ruangan Rafi, setelah lift terbuka, Alea menanyakan pada staf bagian atas, di mana ruangan Rafi .
''Mbak, ruangan pak Rafi di mana ya?
''Apa mbak sudah punya janji?
''Belum,hanya itu jawaban Alea, Alea memang tak memberi tau Rafi, karena maksud hati ingin membuat kejutan.
Akhirnya staf pergi ke ruangan Rafi untuk melapor.
Rafi yang penasaran langsung keluar mengikuti staf tersebut.
''Alea, kamu ngapain disini?
''Jadi ceritanya nggak jadi cari sekretaris nih.
''Apa kamu mau, jadi sektetaris aku?
''Heem, Alea mengangguk.
''Kalau gitu silahkan masuk dulu ke ruanganku!
Alea berada di ruangan Rafi, dan Rafi menjelaskan tentang tata cara pekerjaan di kantornya.
Sedangkan di rumah sakit.
Kali ini mama Widya tak berani melihat putranya yang menjerit kesakitan, mama widya yang berada di luar kamar Rizal sambil menutup telinganya.
Hanya Deny yang menunjukkan wajah kuat dan tak mau mengeluarkan air mata, Deny selalu berada di samping Rizal saat menjalankan kemo, seperti laut dan pantai, deny selalu berada di samping Rizal dalam keadaan susah maupun senang.
''Kamu yang kuat Zal, demi anak dan istri kamu, Deny sambil menggenggam tangan Rizal.
sesekali Rizal masih bisa mengangguk dengan ucapan Deny.
Setelah dokter keluar dari ruangan Rizal barulah mama Widya masuk dan memeluk Rizal .
''Nak, maafin mama ya, mama nggak bisa berada di samping kamu saat kamu sedang kesakitan ,mama nggak tega.
''Ma, Rizal tau kok, kalau mama nggak akan bisa lihat Rizal kesakitan, lagian di sini sudah ada Deny yang membantu Rizal.
''Terima kasih ya Den, kamu memang yang terbaik.
Deny hanya mengangguk dengan ucapan mama Widya.
Bagaiman tidak Deny hanya mengurus kesembuhan Rizal dan tak memperdulikan dirinya sendiri,
Di rumah Rizal Nadia sedang asyik bermain main dengan sang buah hati di taman belakang,
Bibi yang melihat nona mudanya semakin tegar langsung menghampirinya.
__ADS_1
''Non,apa bibi ganggu, bibi yang duduk di samping Nadia
Nadia menggeleng.
''Bik, apa bibi tau, sebenarnya yang terjadi dengan keluarga ini,
Bibi menggeleng,
''Maaf non, bibi nggak tau apa apa, bahkan bibi juga nggak tau kalau tuan muda pergi dan belum kembali.
''Bi, aku merasa semua ini hanyalah mimpi, aku nggak nyangka kalau mas Rizal pergi dan nggak balik, bahkan nggak kasih kabar sama sekali.
'' Non yang sabar ya, pasti nanti akan indah pada waktunya.
Rasa bosan, sepi tanpa ada Rizal di samping Nadia membuatnya jenuh. sering Kali Nadia memeluk baju Rizal yang sering di pakainya, Bahkan Nadia selalu melekukan apapun hal yang di sukai suaminya itu.
Rizal yang merasa semakin hari semakin kurus pun tak luput dari cermin, Rizal selalu memandang wajahnya yang jelek menurutnya.
Seperti kali ini Rizal tak mau berbaring, Rizal masih saja memandang wajahnya.
Sayang apa kamu masih mau sama aku yang memiliki wajah jelek seperti ini, mas takut, kalau kamu nggak mau lagi sama mas, batin Rizal.
Setelah bosan melihat wajahnya kini Rizal beralih ke rambutnya yang mulai rontok, setiap Rizal memegang rambutnya pasti ada yang menempel di tangannya, itu pun membuat Deny tak membiarkan Rizal untuk ke depan cermin.
''Den, apa nanti Nadia masih mau sama aku
''Kamu ini bilang apa sih, kenapa sekarang kamu jadi kayak gini, mana Rizal yang gagah, mana Rizal yang selalu kelihatan tampan, dan mana Rizal yang selalu percaya diri.
''Itu hanya sementara Zal, pasti nanti akan kembali seperti semula.
Akhirnya Rizal mengambil ponsel nya ysng tersbung dengan cctv di rumahnya, Rizal sedang melihat anak dan istrinya sedang tidur,
Bagaikan langit dan bumi, itulah yang di rasakan Rizal saat ini,tak bisa bersatu, tapi sebenarnya saling melengkapi,
Sore hari .....di rumah sakit.
Kak Rafi datang ke rumah sakit dengan Alea ,karena Alea yang memaksa Rafi untuk mengajaknya.
Akhirnya Rafi mau menuruti keinginan kekasihnya itu.
Rafi dan Alea masuk ke ruangan Rizal,
Rizal yang melihat kedatangan kakaknya langsung menyapa.
''Sore kak,
''Sore juga, gi mana kemonya lancar.
''Heem, kamu Kak Alea kan anaknya pak John?
__ADS_1
''Iya, aku Alea kamu masih ingat aja
Rizal menggeleng,mana mungkin aku lupa dengan calon kakak iparku.
''Kamu bisa bercanda juga ya?
''Gi mana keadaan kamu?
''Aku baik baik saja kak,
percakapan demi percakapan pun terjadi di kamar Rizal,itu membuat Rizal sedikit terlupakan akan penyakit yang menyerang tubuhnya.
Hari hari pun di lewati Rizal dengan menjalankan kemo terapi dengan di temani Deny, sedangkan hari hari Nadia hanya mengurus sang buah hati, dan kuliah dari rumah karena permintaan sang papa mertua supaya tidak meninggalkan putranya
.
Sesekali Lilis datang sekedar bermain, dan Lilis juga meyakinkan, Supaya Nadia berpikir positif pada Rizal, karena pesan dari Deny waktu itu.
Selama tujuh bulan Nadia dan lilis tak pernah bertemu dengan Deny maupun Rafi ,bahkan kabar pun tak mereka dapat,
Sungguh membingungkan untuk menghadapi masalah seperti ini, baik Nadia maupun Lilis tak ada sedikit pun rasa untuk meninggalkan pasangan masing masing, karena keyakinan mereka sungguh kuat,
Nadia pun tak pernah berpikir untuk meninggalkan ruamh Rizal, karena Nadia yakin Rizal akan kembali
apa lagi dengan hadirnya sang buah hati membuat Nadia menjadi perempuan yang semakin tangguh.
Kini tujuh bulan sudah umur dede bayi.
Dan kini waktu Nadia untuk praktik ke salah satu rumah sakit karena sebentar klagi semester akhir, Nadia selalu saja loncat demi mempercepat sarjananya.
Mau tak mau kali ini Nadia harus meninggalkan sang buah hati, karena tuntutan dari pihak kampus, meskipun kampus itu milik mertuanya Nadia harus profesional untuk melakukan kerja kampus.
Mama Widya yang kali ini sering ke rumah Nadia saat Nadia mulai pergi ke kampus,
Nadia selalu memakai jasa supir untuk pergi ke kampus,
Sanpai di depan kampus mata Nadia melihat seluruh bagian kampus,
Sudah berapa lama aku nggak ke kampus ini, ternyata masih sama, aku sangat kangen dengan kampus ini, apa lagi aku mengingat awal aku ketemu mas Rizal, dia sedang memarahiku, Mas, apa kamu kangen sama aku, aku sangat merindukanmu, pulanglah mas, aku ingin melihat wajahmu saat ini, batin Nadia.
Nadia tersenyum senyum sendiri mengingat awal pertemuannya dengan Rizal.
Nadia masuk ke ruangan Dosen untuk meminta keterangan tugasnya di rumah sakit.
Tak lama Nadia keluar ,dia bertemu dengan Putri, mengingat terakhir ketemu di rumah Rizal putri sudah menunjukkan kebaikannya,
Nadia langsung memanggil putri.
''Putri... teriak Nadia.
__ADS_1
Sedangkan putri masih saja clingak clinguk mencari siapa yang memanggilnya.