
''Tak perlu menanggapi setiap apa yang kamu lihat ,meskipun itu menyakitkan .
''Lebihlah bersabar untuk menghadapinya, bila kita berada di posisi yang benar,
tak perlu gelisah, orang yang membenci dan memusuhimu akan menelan apa yang dia lakukan selama ini padamu.
Rizal memeluk Nadia dari belakang ,saat melihat sang istri dengan wajah yang gelisah
Nadia di ambang kegalauan saat ini,
''Pulanglah bersamaku, apa kamu nggak kangen sama anak kita,
''Nggak usah mas bilang, bahkan terkadang aku nggak bisa tidur karena ingat pipi gembulnya,
''Makamya kita pulang,
''Tapi aku takut,
''Apa yang kamu takutkan, apa gunanya diriku ,kalau kamu masih saja merasa takut, anggap saja aku tameng yang akan melindungimu,meskipun aku nggak sekuat itu, aku akan melindungimu, bahkan dengan nyawaku.
Nadia tersenyum melihat Rizal yang sangat serius mengucapkan kata katanya.
Nadia membalik badannya dan mencium kedua pipi Rizal.
''Baiklah aku akan pulang dengan suamiku tercinta.
''Jangan mancing ya, kamu nggak tau mas sudah nggak tahan lagi,
''Maaf,
Nadia menyetujui ajakan Rizal untuk pulang bersama.
Nadia dan Rizal bersiap untuk pulang ke rumah,
''Bu, kita pamit pulang ya, dan Ibu jaga diri baik baik,
Bu Lela tersenyum.
''Kalian juga jaga diri baik baik, Ibu yakin kalian akan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya, jika kalian bisa melewati cobaan demi cobaan.
Rizal dan Nadia mencium punggung tangan Ibunya.
Sampai di depan mobil ,Rizal melihat bangunan rumah sakit yang masih berbentuk kerangka.
Ini akan mas jadikan kado terindah buat kamu sayang, batin Rizal sambil mengelus kepala istrinya.
Perjalanan yang sangat jauh dan membutuhkan waktu yang lama membuat Nadia tertidur pulas, Rizal pun tak berniat membangunkan Nadia, sampai mobil berhenti pun Nadia tak bergeming.
Kelihatannya kamu sangat lelah, mas tau apa yang kamu rasakan setelah melihat foto itu, kali ini mas akan bertindak, mas nggak mau kamu tersakiti lagi.
Rizal keluar dari mobil dan memanggil pak satpam .
''Iya tuan,
''Pak ,buka pintunya ?
__ADS_1
Pak satpam menghampiri pintu utama dan membukanya.
Rizal menggendong tubuh mungil istrinya dan langsung membawanya ke kamar.
Rizal tak memperdulikan siapa pun yang melihatnya.
Sampai di dalam kamar Rizal langsung merebahkan Nadia di ranjang.
Rizal langsung turun kembali.
''Zal, Nadia nggak apa apa kan?tanya mama Widya yang sedikit cemas.
Rizal menggeleng,
''Ma, papa mana?
''Ada di kamar,
Rizal berjalan menuju kamar dan langsung masuk setelah mendapat izin.
''Kamu sudah pulang Zal, gimana keadaan Nadia?
''Baik pa,
''Kamu ada apa, tumben nyari papa ?
''Pa, apa Rizal boleh minta tolong, ini memang bukan soal kerjaan, tapi soal pribadi Rizal dan Nadia.
''Kelihatannya serius, memang kalian ada masalah apa ?
''Pa, aku yakin kalau penculikan Nadia itu di dalangi oleh Putri,
Rizal menyodorkan amplop yang berisi foto foto yang di kirim preman kepada Nadia, dan itu memang di bawa Rizal.
''Pa, Nadia di culik oleh dua orang preman. dan Nadia di suruh menjauhi ku,dan saat Nadia memilih tinggal di kampung sepanjang malam dia selalu menerima foto itu,apa ini belum jelas kalau ini semua adalah ulah Putri.
Papa Doni mengangguk anggukkan kepalanya.
''Baiklah, papa akan urus semuanya.
Papa Doni langsung melakukan panggilan suara setelah Rizal meninggalkan kamarnya.
Rizal memang tak mau bertindak sendiri, karena menurutnya itu membuang buang waktu saja,
Lebih baik papa Doni, selain papa Putri rekan kerjanya, juga perusahaan papa Putri masih di bawah naungan papa Doni.
Sedang di seberang sana, ada yang marah habis habisan, setelah tau kelakuan anaknya,
''Kalau kamu mau berbuat sesuatu itu mikir dulu, untung keluarga Pratama itu baik, kalau mereka itu orang kejam ,kita pasti sudah menjadi gembel, apa kamu nggak mikir sampai ke sana?
''Tapi pa, aku masih mencintai Rizal, aku nggak rela kalau dia menjadi milik orang lain, apa lagi Nadia si cewek kampungan itu,
''Apa kamu bilang cinta, kalau kamu memang benar benar mencintainya, kamu nggak mungkin memutuskan hubungan kalian, kalau kamu cinta mestinya kamu menerima apa yang Rizal mau, tapi apa, kamu menolak untuk menikah dengannya, apa itu yang di namakan cinta ?
Sedangkan mama Putri hanya diam mendengar suaminya yang marah.
__ADS_1
''Tapi waktu itu aku nelum siap pa,
''Itu namanya bukan cinta, itu egois, kamu hanya memikirkan diri kamu sendiri dan tak memikirkan pasangan kamu,
''Besok kita akan pergi ke keluarganya Pratama, papa harap kamu minta maaf dengan keluarga mereka terutama istri Rizal.
Apa minta maaf sama cewek kampungan itu, apa nggak salah, mau di taruh mana muka ku,batin putri jengkel dengan kata papanya.
''Kenapa, kamu nggak mau, kalau nggak mau papa akan mengantarkan kamu ke pesantren biar di didik akhlak kamu,
''Iya, iya aku besok aku akan minta maaf. Putri dengan muka yang cemberut.
''Dan satu lagi,kalau sampai kamu mengulangi tingkah konyolmu itu ,papa akan berangkatkan kamu ke pesantren ingat itu.
Akhirnya Putri tak bisa mengalahkan kata kata papanya kalau menyangkut pesantren, pasalnya Pesantren adalah hal yang sangat tak di sukai Putri.
Selesailah sudah perdebatan antara anak dan papanya itu, sedangkan sang mama kini baru berani menghampiri Putri,
''Papa benar Put, kamu nggak boleh mengulangi itu lagi, Mungkin aja Rizal memang bukan jodoh kamu, relakan dia, masih banyak laki laki di luar sana yang baik yang masih mau sama kamu. mama Putri menenangkannya.
Akhirnya dengan sedikit kesadarannya Putri memeluk mamanya.
Sedangkan Di dalan kamar mewah, Nadia mulai mengerjap ngejapkan matanya dan mulai mengumpulkan nyawanya,
''Siang cantik, apa kamu sudah kenyang tidurnya? tanya Rizal yang meledek sang istri.
Sedangkan Nadia malah membelalakkan matanya tanda kaget,
Apa, tadi kan di mobil, dan ini aku sudah sampai di kamar, berarti mas Rizal yang membawaku ke sini, aduh gi mana nih, pasti di bawah banyak yang melihatku saat di gendong mas Rizal, aduh mau di taruh mana nya mukaku, kalau sampai aku ketemu mama dan yang lain, batin Nadia.
Nadia tersenyum malu dan mulai menutup sekujur tubuhnya dengan selimut tebal.
''Kenapa kamu tutup lagi, apa kamu nggak mau lihat muka suami mu yang tampan ini!
Rizal sambil menarik selimut yang menutupi istrinya.
Kini tubuh Nadia sudah terbuka tanpa selimut,
Rizal menghampirinya dan menindihnya
''Bukan gitu, kenapa mas tadi nggak bangunin aku aja, kenapa harus sampai di gendong segala, aku kan jadi malu,
''Malu sama siapa, memang siapa yang menggendong mu?.
Hah, masih nanya lagi, kalau bukan dia memang siapa lagi ?
''Jangan mikir kalau yang gendong kamu mas, ya ?
''Terus siapa yang gendong aku?
''Pak satpam di depan tu yang gendong kamu ,
Lain di mulut, kini di hati Rizal sedang cekikikan melihat ekspresi Nadia,
''Apa, pak satpam? Nadia langsung bangun dan menjambak rambutnya.
__ADS_1
''Mas beneran?
Rizal mengangguk anggukkan kepalanya.