
''Sayang ,kan Juan udah tidur, kita ke kamar sebelah saja yuk!''pinta Rizal dengan berbisik di telinga Nadia,
Nadia yang merasa kegelian pun menghindar .
''Mas, geli, lagian mas nggak kasihan sama Juan ?''
''Sayang ini kan juga demi Juan juga, kita kan bikin adiknya Juan, supaya Juan punya teman lagi,
Sebelum menjawab, Nadia langsung merasakan badannya melayang ,ternyata Rizal sudah mengangkatnya dari atas ranjang.
''Mas, turunin, malu, kalau sampai nanti bibi lihat!''
''Sekarang sudah malam, dan bibi juga sudah tidur, jadi kamu diam saja sebelum aku melakukannya disini, ucap Rizal mengancam saat berada di depan kamarnya.
Akhirnya Nadia pasrah dengan apa yang di lakukan Rizal malam ini, malam yang penuh kehangatan tanpa sedikit beban yang menyelimuti hati,
Malam yang sangat panjang ,akhirnya di menangkan oleh Rizal, meskipun sedikit memaksa.
Akan tetapi Nadia tak pernah serius untuk menolak sang suami, hanya saja terkadang sedikit menggoda Rizal.
-------------------
Hoek... Hoek..... suara muntah selalu menghiasi kamar mandi Deny dan Lilis,
Semenjak di nyatakan hamil, Lilis selalu saja muntah muntah, apa lagi saat melihat Deny sang suami.
''Mas, mendingan mas tidur di luar aja, dari pada aku muntah lagi, pinta Lilis sambil merengek. karena setiap kali melihat Deny perutnya terus saja mual.
''Iya, aku tidur di luar, tapi anak ayah baik ya, sambil mengelus perut Lilis, namun Lilis pun tak mau melihat muka Deny yang sedikit mendekat.
Dan selama tiga bulan, itulah Deny selalu tidur di kamar lain tanpa berdampingan dengan Lilis.
''Apa semua istri yang hamil muda seperti itu ya? gumam Deny.
''Ah, perasaan Nadia dulu nggak deh, tapi kan orang beda beda apa aku harus tanya Nadia?'',
Dengan tidak sabarnya Deny mengambil ponselnya dan mengirim pesan untuk Nadia.
✉️
Nad, apa semua wanita hamil itu berbeda? ''kenapa Lilis tidak mau dekat dengan ku ,bahkan dia ingin aku menjauh darinya,
Itulah kira kira isi pesan Deny untuk Nadia .
Deny sesekali melihat ponselnya menunggu jawaban dari Nadia.
''Kok nggak di balas sih apa jangan jangan Nadia sudah tidur?'' pikir Deny.
Nadia mendengar bunyi notif pada ponselnya, tapi Saat Nadia hendak mengambil nya ,tangannya langsung di cengkal Rizal,
''Sayang kamu nggak usah ladeni ponselmu, kita lagi ritual, ucap Rizal
''Mas, kalau itu penting gi mana?''
''Sayang sudah diam, apa kamu mau mas marah?''
__ADS_1
Nadia menggeleng .
''Ya sudah diam.
Nadia hanya bisa menurut pada Rizal .
Sedangkan di sebrang sana Deny masih dengan penantiannya, menunggu jawaban Nadia .
Karena sudah menunggu terlalu lama, akhirnya Deny ketiduran.
Nadia mulai membuka matanya dengan perlahan , karena hari sudah mulai pagi,
Nadia memandang ke samping ternyata ada Rizal yang masih dengan mata yang tertutup.
''Mas, mas, ternyata aku memang nggak bisa menghindar dari kamu, kamu selalu bisa menang dariku, dan aku akui, kamu sangat lah pintar membuatku terlena akan semua perlakuan dan kata katamu, batin Nadia,
Nadya bangun dari tidurnya dengan perlahan ,karena takut membangunkan Rizal
Setelah Nadia sudah sadar sepenuhnya Nadia pun membuka ponselnya karena teringat bunyi notif yang belum sempat di lihatnya..
Setelah membaca ,Nadia langsung menekan tombol ponselnya untuk membalas
Ternyata kak Deny,
✉️
Maaf ya kak, baru balas, soalnya tadi malam aku sudah tidur, memang wanita hamil itu berbeda kak, dan yang di alami Lilis itu wajar,tapi setelah mualnya itu menghilang, emosinya pun ikut menghilang, kakak tenang aja, itu nggak apa apa kok.
Setelah membaca isi pesan Nadia, Deny menghela nafas panjang dan segera membersihkan diri, meskipun Lilis selalu menyuruhnya menjauh, namun saat Lilis tidur Deny pun selalu mendekatinya, bahkan sering kali mencium keningnya .
''Mas, bangun ini kan udah pagi, apa mas nggak masuk kerja, tanya Nadia sambil mengelus lengan Rizal.
Namun yamg di bangunkan masih setia dengan matanya yang terpejam.
''Mas, ayolah, bukan mas saja yang harus aku urus, ada Juan, dan aku harus datang ke rumah sakit.
Karena memang Nadia sudah bekerja di salah satu rumah sakit terbesar atas rekomendasi papa Doni.
Karena mendengar sebuah bentakan ,Akhirnya Rizal membuka matanya dengan sempurna, dan pergi ke kamar mandi, tanpa melihat Nadia yang duduk dengan muka cemberut.
--------------------------
tin.... tin.... bunyi klakson di depan rumah Alea membuat Alea tergesa gesa.
''Pa, Alea berangkat dulu ya, itu pasti suara mobil mas Rafi.
''Iya, kalian hati hati ya, salam buat Rafi.
Alea mengangguk
''Kok lama banget sih, ngapain aja?''
''Lama, perasaan mas baru aja bunyiin klakson dan aku langsung keluar, mana ada lama, jawab Alea sebel
''Kan aku mau ngajak kamu jalan jalan, ucap Rafi
__ADS_1
''Ke mana? ''bukannya kita mau ke kantor?''.
Rafi menggeleng..
''Mas Rafi mau mengajakku kemana, bukannya hari ini bukan hari libur, kenapa dia mengajakku jalan jalan?'' batin Alea.
Setelah kurang lebih tiga puluh menit, mobil Rafi sudah terparkir di depan rumah sakit,
Alea pun mengernyitkan dahinya.
''Mas,, katanya jalan jalan kenapa kita ke sini ?''Alea
''Sudah, ayo turun nanti kamu juga tau.
Alea mengikuti Rafi menuju ruangan Adit
Tok... tok.. tok... permisi
''Masuk, sahutan dari dalam
''Bagaimana Dit, apa kamu lebih baik sekarang?''
Adit tersenyum simpul sambil memandang Rafi dan Alea.
Namun Alea malah bersembunyi di belakang Rafi.
''Kenapa kamu sembunyi Al, apa kamu takut sama aku ?''tanya Adit.
''Al, sini, Rafi mensejajarkan dirinya dengan Alea.
Namun Alea masih saja menunduk
''Kamu nggak usah takut, sekarang aku nggak akan ganggu kamu lagi, maafkan aku karena sudah menyakiti kalian ,terutama kamu Al, ucap Adit dengan tubuhnya yang masih terbaring.
''Jadi kamu sudah menyetujui kami untuk menikah Dit?'', kata Rafi antusias,
Adit mengangguk.
''Alhamdulillah, akhirnya aku menikah juga, ucap Rafi keceplosan membuat wajah Alea memerah.
''Mas, kenapa harus kenceng banget sih ngomongmya, kan malu sama Adit, bisik Alea di telinga Rafi.
''Sayang nggak apa apa ini adalah rasa syukur yang harus mas ucapkan, dan sekarang juga aku akan bilang sama papa tentang pernikahan kita.
Perasaan bahagia menyelimuti hati Rafi, Rafi langsung saja menghubungi papa Doni,
Ternyata jalan jalan mu ada untungnya juga mas, batin Alea.
Karena penantiannya selama ini sudah membuahkan hasil, Rafi terlihat sumringah dam selalu menampakkan senyumnya di depan para suster yang sedang lewat,
'Dari kamar Adit menuju mobil saja, entah berapa suster yang heran dengan tingkah mas Rafi, apa lagi nanti di kantor, batin Alea,
''Mas, kita pulang saja ya, mas nikmati saja senyumnya di rumah, aku nggak mau dikira punya calon suami gila, ucap Alea ragu.
''Hai, aku nggak gila, ini wajah yang bahagia, sambil menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
Lama lama kamu juga persis Rizal mas, Batin Alea lagi.