
Masih di rumah sakit Nadia termenung di atas ranjang sambil memandang ke arah jendela, tatapan yang kosong, dan penuh tanda tanya,
Rizal yang menghilang bagaikan di telan bumi tanpa kabar tanpa pamit kepada Nadia.
Ibu yang melihat anak nya pun jadi prihatin, pasalnya sudah tiga hari Nadia terus saja melamun dan cuek kepada bayinya.
Sang Ibu menghampiri Nadia dan mengelus rambut anaknya.
''Nduk, kamu nggak boleh kayak gini terus, apa kamu nggak kasihan sama anak kamu, lihat lah dia sangat lucu sekali, Ibu sambil menunjukkan bayi Nadia yang di gendong Ibunya.
Nadia menoleh dan tersenyum tipis,
''Maafin mama sayang, mama nggak tau harus berbuat apa, mama sangat rindu dengan papa kamu, mama nggak tau sekarang papa ada dimana,sambil mengambil alih dari gendongan Ibunya.
''Nad, kamu itu sekarang sudah menjadi seorang Ibu, ada bayi kamu yang harus kamu urus, jadi kamu nggak boleh egois, biarlah waktu yang akan memjawab semua ini,
''Tapi Bu, aku ini semua nggak adil buat Nadia, mas Rizal pergi tanpa pamit, terus apa aku harus membesarkan anakku sendiri.
''Nad, apa Rizal nggak bilang kalau dia akan kembali? mama Widya dari balik pintu.
Nadia mengangguk.
''Kamu harus percaya kalau Rizal akan kembali untuk kalian, sekarang kamu sudah boleh pulang papa udah urus semuanya, Ibu membereskan Peralatan untuk di bawa pulang.
Se sampainya di rumah bibi dan pak satpam sudah menyambut di depan rumah.
''Selamat datang nona, wah bayi nya tampan sekali, seperti tuan. bibi yang melihat bayi Nadia dalam gendongan mama Widya.
Namun Nadia hanya diam tanpa senyum mendengar ucapan sang bibi.
Nona kenapa kok kayaknya sedih gitu, apa yang terjadi batin bibi sambil garuk garuk kepalanya yang tidak gatal.
Pak supir yang melihat istrinya langsung menariknya ke belakang.
''Opo sih pak.. kok Ibu di tarik gini
''Buk ne, jangan sebut tuan maneh nek omah iki ,tuan lungo ora balik, pak supir.
__ADS_1
Maksudnya pak ne iki gi mana?
''Iyo tuan Rizal lungo kawet nona ngelahirno sampek sak iki ora balik maneh,mboh neng endi pak ne yo kurang paham.
''Ya udah kalau gitu pakne, Ibu nggak tau soalnya, Terus kira kira Tuan kemana ya?
''Mboh, wes gak usah kepo, mungkin wae tuan keluar negeri mergo kerjaan, ndang mrono urusi nona seng lagek muleh, pak supir.
Nadia masuk kedalam kamar sang bayi bersama Ibu dan mama Widya.
''Nad, sudah tiga hari kamu belum kasih nama bayi kamu lo, kamu mau kasih nama siapa?
Nadia menggeleng.
''Nduk kamu nggak pingin kasih nama anakmu, biar ibu saja ya yang kasih nama.
''Nggak usah bu, kita panggil dede aja, biar nanti mas Rizal yang kasih nama, aku mau menunggunya,
''Sampai kapan Nad, mungkin butuh waktu yang lama untuk Rizal kembali,
''Nggak apa apa ma, sampai kapan pun Nadia akan tetap menunggunya.
Sedang di seberang sana Rafi sedang sibuk mencari pembantunya dulu yang bernama bik sri, sudah tiga hari kondisi Rizal menurun, karena tidak nafsu makan, sedangkan Deny yang menunggunya ikut cemas akan keadaan Rizal,
''Zal, sampai kapan kamu nggak mau makan kayak gini, sedang di sana Nadia menanti kepulangam kamu,
Rizal hanya diam dan sesekali menghembuskan nafas kasar.
Aku juga mau cepat sembuh Den, tapi kamu lihat sendiri kan kalau aku makan selalu muntah, dan aku nggak bisa memaksa mulutku untuk mengunyah, rasanya sangat pahit, sebenarnya aku ingin masakan Nadia Den, tapi aku tau pasti dia saat ini belum pulih.
''Ni kamu lihat aja, kemarin kak Rafi udah pasang cctv di kamar bayi kalian.
Akhirnya Deny memberikan ponsel yang terhubung dengan cctv di rumah Rizal.
Rizal melihat bayinya dalam gendongan ibu mertuanya, sedangkan mama duduk dengan Nadia.
Sayang maafkan mas, kamu harus mengurus sendiri buah hati kita, mas berjanji akan menebus semuanya nanti untuk kamu, Rizal sambil memegangi gambar istrinya yang tersorot cctv.
__ADS_1
Sambil menitihkan air mata Rizal memandangi ponselnya.
Akhirnya dalam tiga hari pencarian kak Rafi membuahkan hasil Rafi datang ke rumah sakit dengan membawa bik sri yang khusus merawat dan membuat makanan untuk Rizal.
Bik sri sangat terkejut melihat Rizal dalam keadaan buruk.
''Aden, kenapa jadi begini, maafkan bibi den, yang nggak bisa menjaga aden,bik Sri sambil menangis.
''Bi, bibi nggak perlu merasa bersalah ini takdir, ini jalan hidup yang harus Rizal jalani, Cukup bibi mendoakan Rizal biar cepat sembuh,
''Den doa bibi akan selalu memyertaimu, bibi alan merawat aden sampai aden sembuh,
''Terima kasih ya bik.
Sebenarnya bik sri juga nggak mau diajak Rafi, tapi setelah mendengar penjelasan Rafi, bik sri langsung saja mau dan terpaksa meninggalkan keluarganya di kampung lagi, karena bik Sri sudah tau bagaimana watak Rizal dari kecil.
Seperti Nadia Lilis juga merasakan kehilangan Deny saat ini, Deny tak pernah memberinya kabar,
''Sebenarnya apa sih yang terjadi, kak Deny juga ikut ikutan pergi terus kak Rafi juga nggak bisa di hubungi sama sekali, ah aku coba hubungi aja deh.
Lilis mengambil ponselnya yang berada di meja.
Sebelum Lilis menekan tombol, sudah ada notifikasi masuk.
✉️
Lis, kamu nggak usah mencariku, kamu cukup menungguku kembali, jangan pernah berpaling dariku, aku akan tetap setia meskipun kita tak saling sapa, biar angin yang menyampaikan rinduku padamu, kalau kamu kangen sama aku bukalah jendela kamar kamu, dan rasakan angin yang berhembus maka kamu akan merasakan kehadiranku,kamu jaga diri baik baik, karena aku akan sedikit lama untuk pulang.
I LOVE YOU
Lilis membaca pesan dari Deny dan tersenyum sendiri, akhirnya Lilis mempercayai bahwa kepergian Deny bukan untuk berpaling melainkan kerjaan.
Seketika itu Lilis membuka jendela kamarnya dan menghirup angin yang berhembus .
Benar juga kak Deny ,aku jadi merasa kehadirannya, semoga kamu baik baik saja kak aku akan menunggumu sampai kapan pun, aku nggak akan meragukan kesetiaan kamu. batin Lilis.
Di rumah sakit Rizal menjerit kesakitan ,Rafi sang kakak yang melihatnya pun semakin tak tega, Rafi menggenggam tangan Rizal dan mengelap keringat adiknya, sesekali Rizal menangis,
__ADS_1
Menjalani kemo terapi memang tak semudah mengatakannya ,kemo terapi sangatlah menyakitkan belum lagi efek samping yang di rasakan pasien, dan itu sudah dua kali di alami Rizal, waktu dia kecil dan sekarang terulang lagi.
Seperti tak ada habisnya kesakitan yang Rizal rasakan saat ini, pasalnya bukan hanya sakit karena kemo, tetapi juga sakit karena harus meninggalkan anak dan istri tercintanya.