Majikanku Suamiku

Majikanku Suamiku
Selamat tinggal, Tuan


__ADS_3

HAPPY READING


*


*


*


Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya bahwa Tuan Sean pernah membawa ku berkencan atau aku harus melupakan semuanya?


Ana memutuskan untuk tidak memberitahukan siapa pun , orang tuanya saja gagal mengenalinya, apalagi Brenda bahkan bisa saja Brenda itu tidak mempercayainya.


"Jadi bagaimana dengan make-up, kapan kamu ingin aku melakukannya untukmu hum?", Tanya Ana berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Gadis pintar, mencoba untuk mengalihkan pembicaraan tapi tidak masalah, yang aku tahu kalian berdua adalah pasangan yang sempurna. Untuk make-up, aku ingin melakukannya Sabtu ini tapi bagaimana mungkin, Tuan Sean meminta ku untuk memberimu waktu cuti pada hari Sabtu dan Minggu." Ucap Brenda dengan cemberut.


Ana ingat dengan perkataan Sean pada hari mereka kencan. Ternyata Sean menepati perkataan nya.


"Jangan khawatir, aku akan ada di hari Sabtu untuk mu, aku bahkan tidak punya banyak pekerjaan hari itu."


"Kamu orang yang sangat baik Ana. Aku akan memberimu kue pada hari Senin, oke, aku hanya ingin terlihat lebih cantik kali ini dengan riasan yang akan kamu buat untukku.", Kata Brenda.


"Aku percaya padamu. Sekarang aku akan kembali ke dapur melanjutkan pekerjaannku." kata Brenda padanya lalu pergi.


*


*


*


Setelah selesai kerja, Ana memutuskan untuk pulang.


Ditengah perjalanan nya, Ana selalu teringat akan tubuh seksi Sean. Apalagi saat handuk yang melilit di pinggang nya. Hal itu membuatnya senyum-senyum sendiri.


Saat sampai dirumah, Ana masuk kedalam dan disambut langsung dengan tamparan diwajahhari


PLAKK


Tamparan itu membuat Ana kehilangan keseimbangan dan jatuh kelantai dengan tangan memegang sisi wajah yang ditampar.


"Bu, apakah aku melakukan sesuatu yang salah?" Kata Ana dengan air mata mengalir dari matanya.


"Kamu anak tidak berguna, kamu ingin merusak nama keluarga kita kan? Kamu sangat tidak berguna dan kamu bahkan tidak tahu kapan harus menutupnya." teriak


ibu.


Ana tidak percaya dia akan terluka hari ini tetapi dia masih tidak tahu apa yang terjadi pada ibunya.


"Bu, aku minta maaf atas apa yang aku lakukan, aku sangat menyesal ibu." kata Ana berharap ibunya mengasihaninya.


“Kamu berani main mata sama anak majikan mu sendiri, kamu menggoda nya, kamu tidak punya malu, jika aku mendapat telepon seperti ini lagi, atau uangmu dipotong dari gajimu yang sebenarnya, aku akan mencincangmu hari itu”, teriak ibunya pada Ana.


"Baik bu, aku tidak akan melakukannya," kata Ana dengan percaya diri tetapi dia baru saja dipukuli sebelum dia mengatakan hal lain.

__ADS_1


Ana tidak percaya Nyonya Altemose menelepon ibunya, tapi dia senang karena ibunya yang memukulinya bukan Nyonya Altemose, setidaknya dia bisa lega.


*


*


*


"Apa kamu sudah melakukan apa yang ibu minta?", Aghata bertanya dan Ana tahu kalau dia sedang berbicara tentang teman Sean tetapi Ana tidak melakukan apa-apa.


"Oh, itu, aku belum melihat satu pun temannya", kata Ana padanya tapi faktanya, Ana memang belum melihat satu pun temannya datang kerumah itu.


"Aku hanya berharap kamu mengatakan yang sebenarnya, mungkin aku harus memberi tahu ibu bahwa kamu belum siap untuk melakukan apa pun", kata Aghata.


Ana merasa ingin menarik rambutnya karena mengancamnya menggunakan ibu.


'Dasar wanita ular'


*


*


*


* Sabtu*


Setelah melakukan semua pekerjaan rumah di rumah, Ana tidak memberi tahu orang tuanya kalau dia tidak bekerja pada hari Sabtu ini, tetapi Ana pergi seperti biasa seperti dia akan bekerja hanya untuk merias wajah Brenda. Karena dia sudah berjanji padanya.


Sudah waktunya untuk merias wajahnya jadi Ana memfokuskan matanya dan sangat lihai menggunakan kuas-kuas itu ke wajah Brenda.


Brenda pun melihat dirinya di cermin dan berkata, "OMG Ana kamu sangat ahli dengan ini, aku sangat menyukainya, kenapa kamu tidak bekerja di studio saja dari pada menyia-nyiakan waktumu menjadi pembantu?". Brenda bertanya mengagumi wajahnya.


Ana sangat berharap dia mengerti akan nasib yang dijalaninya, dia pasti berpikir apa yang dia katakan itu tidak mudah.


Ana mendengar suara Sean, dia tidak tahu mengapa dia menjadi kepo, dia tidak merasa merindukannya, jadi mengapa dia terburu-buru untuk melihatnya sekarang.


*


*


*


Sean bersiap untuk mengajak Callista keluar, mengenakan setelan desainer profesional, dan pergi menjemputnya dari rumah.


Callista berdiri di dekat pintu mobil mengharapkan Sean menjadi seorang pria dengan membukakan pintu baginya untuk duduk.


Sean merasa mudah melakukannya untuk Ana tetapi melakukannya untuk Callista sangat terlihat seperti neraka, Sean melihat dia belum siap untuk masuk kecuali Sean membukakan pintu mobilnya.


Sean menekan kemudinya dan turun dari mobil untuk membukakan pintu untuknya, dia masuk dan berkata, "Terima kasih cintaku", Sean hanya tersenyum singkat tetapi dia benci cara Callista memanggilnya.


Sean masih mengemudi ketika dia perhatikan Callista ingin memegang tangannya saat dia mulai tersenyum kepadanya, Sean merasa sangat tidak nyaman dengannya jadi Sean memutuskan untuk melepaskan tangannya dan fokus pada kemudi.


"Bukankah aku terlihat cantik hari ini, kamu tidak pernah memuji pakaianku atau menghargai kecantikanku, mengapa tidak membuat hari ini sedikit romantis untukku?" Tanya Callista memutar matanya.

__ADS_1


"Oh, maaf, aku tidak fokus karena aku sedang memikirkan pekerjaan sehingga aku tidak memperhatikan gaun indah yang kamu pakai dan kamu juga terlihat cantik dengan gaun ini.", Sean mengatakan apa yang hanya perlu dia dengar tetapi itu bukan dari hatinya.


"Aku tidak percaya saat kamu bersamaku kamu masih memikirkan pekerjaan hum, aku sedikit tersinggung", kata Callista.


"Oh maaf, tapi bisakah kamu diam agar aku bisa fokus mengemudi?", Kata Sean untuk membuatnya berhenti berbicara padanya.


Mereka sampai di restoran mewah dan satu hal yang Sean benci tentang Callista, dia mulai bertingkah seperti kekasih nya bahkan dia memesan sesuatu seakan aku menyukai pilihan nya.


"Seperti nya, kamu menyukai makanan yang aku pilih." Ucap Callista tersenyum.


Sean terus makan tanpa memperdulikan nya sementara Callista asik melihat Sean dengan senyum kembangnya.


“Ada masalah apa?”, tanya Sean karena dia sangat tidak nyaman dengan tatapannya.


"Aku hanya mengagumi kekasihku, selain aku bosan pada kencan ini, kamu bahkan tidak mengatakan apa-apa, kamu bahkan tidak mau repot-repot bertanya tentang keseharian ku, kamu membiarkan aku yang berbicara terus, kenapa?", Tanya Callista.


"Oh Callista, kita sedang makan, aku tidak ingin tersedak jadi aku tidak banyak bicara saat makan, oke," kata Sean padanya tapi sebenarnya Sean hanya mengada-ada.


Sena hanya ingin pergi dari sana.


*


*


*


Callista memaksakan diri untuk pulang bersama Sean untuk menghabiskan waktu bersama, "Aku ikut pulang dengan mu, ibumu akan senang melihat kedekatan kita."


"Hmm" jawab Sean singkat.


Sesampainya dirumah, Sean menyuruhnya duduk disofa ruang tamu sementara dia mengambil sesuatu dalam kamar nya.


Saat turun ke bawah, Sean mendengar dia berkata, "Kamu terlihat sangat tidak asing, aku merasa pernah melihat mu di suatu tempat."


"Tidak nona, saya hanya pembantu baru disini." Suara Ana.


"Oh, kamu seorang pembantu, di rumah kekasihku, entah kenapa aku mulai merasa tidak aman".


"Maaf, saya tidak mengerti", kata Ana.


Sean memutuskan untuk bergegas menghampiri tetapi Callista terlalu cepat untuk mengatakan, "Maksudku adalah agar kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu sebagai pembantu disini kamu jangan dekat-dekat dengan Sean, kekasihku".


“Cukup Callista, berhenti membuatnya merasa tidak enak, ayo masuk”, hanya itu cara Sean untuk membungkamnya.


Mata Sean bertemu dengan mata Ana, Sean melihat kesedihan di matanya, ingin rasanya Sean membuatnya mengerti bukan seperti yang dia pikirkan tapi Sean tidak berutang penjelasan padanya, Ana bukan kekasihnya, namun entah Kenapa Sean merasa bersalah.


"Selamat tinggal, Tuan", Ucap Ana


*


*


*

__ADS_1


TBC😘


__ADS_2