
*
*
*
Saat menunggu diluar, Sean duduk dengan sabar, dia sama sekali tidak merasa keberatan menunggu Ana di rias, justru dia merasa puas dan selalu ingin menghabiskan waktu dengan Ana. Dia tidak akan punya waktu lagi selain hari ini.
Seraya menunggu, Sean mengeluarkan ponsel dari sakunya, dan melihat-lihat poto yang dia ambil saat bersama Ana. Senyum manis terukir dari wajahnya, dikala dia melihat poto Ana yang terlihat manis dan lucu dimatanya.
Ana terlihat sangat cantik di poto itu, bahkan Sean berniat mengencani nya ketimbang merubah penampilan nya.
Menurut Sean Ana cukup cepat mengerti tentang hal baru. Saat tiba Ana keluar dengan beberapa perias di samping nya, dia berjalan sesuai dengan apa yang Sean ajarkan sebelumnya. Dia sudah terlihat sangat mahir menggunakan sepatu hak tinggi dan gaya jalan yang sempurna.
Tetapi karena Ana sedikit gugup karena tatapan Sean, langkahnya sedikit tergelincir, beruntung nya Sean dengan cepat menangkap pinggang nya.
Cukup lama mereka saling memandang, hingga beberapa detik kemudian, suara Sean memecah keheningan.
"Kamu sangat cantik. Bagaimana menurut mu?". Tanya Sean sambil membenarkan posisi Ana.
Ana yang mendengar kalimat itu hanya bisa tersipu malu, jelas debaran jantung mereka masih terdengar satu sama lain. Ana menjawab dengan anggukan, "Ah, iya, terima kasih."
*
*
*
Mobil Ferari yang Sean gunakan meluncur kesebuah tempat makan termewah dikota itu. Ini pertama kalinya Sean membawa seseorang apalagi ini seorang wanita.
"Tempat ini indah bukan?." Tanya Sean namun dengan mata tertuju pada Ana.
Ana menelisik setiap sudut ruangan dengan pemandangan yang menyejuk kan mata, dia tersenyum manis seraya mengangguk, "Benar, Tuan, tempat ini sangat indah."
Sean tidak tahan melihat senyum dibibirnya, dengan cepat Sean mengeluarkan ponselnya dan memoto wajah Ana yang terlihat cantik dari samping.
Disaat mereka tengah menikmati suasana ruangan itu, tanpa mereka sadari ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka dari kejauhan, orang itu juga mengabadikan moment mereka berdua.
"Silahkan duduk." Titah Sean sambil menyiapkan kursi untuk Ana.
__ADS_1
Sean bersikap bak seorang pria sejati, dia rupanya sangat pandai bersikap manis. Ana tersipu malu diperlakukan demikian oleh putra majikannya.
"Terima kasih Tuan." Ucap Ana sambil duduk dengan pelan.
"Silahkan pilih menunya." Kata Sean menyodorkan buku menu yang ada diatas meja.
Ana dengan sungkan membuka buku itu, dia melihat harga dari setiap makanan disana, dia membolak balik buku itu namun tidak ada harga yang murah.
Sean memperhatikan setiap apa yang Ana lakukan, dia tersenyum mengerti apa yang tengah Ana pikirkan.
"Kenapa? Apa kamu tidak suka makanannya? Atau kamu mau pindah ketempat lain? Kita masih punya banyak waktu." Tanya Sean.
"Ti-tidak tuan, saya suka tempat ini. Tapi, makanan nya terlalu mahal, saya rasa saya tidak akan bisa membayar nya." Jawab Ana hati-hati diselingi dengan senyum cantiknya.
Sean tersenyum mendengarnya, "Aku yang mengajak mu kesini, jadi jangan sungkan dan pilih saja makanan nya. Ingat dokter bilang kamu harus makan makanan sehat, termasuk makanan mahal. Jangan terlalu dipikirkan tentang harganya."
"Terima kasih, Tuan." Ucap Ana menundukkan kepalanya dengan senyum yang tak pernah pudar.
Sean terasa panas setiap kali mendengar kata 'Tuan' dari mulut Ana, "Berhenti memanggil ku tuan."
Ana langsung menegakkan kepalanya menghadap Sean, dia tersenyum kikuk.
"Maaf, tapi itu bentuk rasa hormat saya karena anda majikan saya." Ucap Ana sungkan.
"Saya pikir saya tidak bisa memanggil anda dengan sebutan nama tuan, itu tidak sopan." Ana begitu keras kepala dan mengulang kata tuan berulang kali.
"Kalau begitu mulai lah belajar mencobanya, Ana. Apa kamu ingin aku mempermalukanmu disini, dengan memanggilmu pelayan?." Ancam Sean mulai geram dan ternyata berhasil membuat Ana takut.
"Maafkan aku, Se-Sean." Jawab Ana kikuk.
Sean mulai memakan makanannya sambil berkata, "kamu tidak akan mati memanggil nama ku."
Sean sangat suka saat Ana memanggil namanya, terdengar sangat indah dibibir Ana.
"Makan lah, makan yang banyak biar tubuhmu sehat." Ucap Sean sembari menyuap makanan nya.
Ana mulai memakan makanannya, sesaat kemudian hanya suara dentingan sendok yang terdengar, sampai ketika Sean membuka suara, "Siapa nama lengkap mu?."
"Anastasia Steele." Jawab Ana.
__ADS_1
"Kau punya kerabat atau orang tua?" Tanya Sean lagi.
"Iya, orang tua ku masih hidup dan aku juga punya saudara perempuan." Jawab Ana sambil meminum airnya.
"Oh begitu, apa yang terjadi padamu, kenapa tubuh mu banyak luka?." Sean bertanya penuh selidik. Ana yang minum hampir saja dia tersedak.
Ana tidak menjawabnya, dia seakan bungkam, Sean tidak mau bertanya terlalu jauh tentang kehidupan pribadinya, namun Sean merasa sedih karena Ana belum sepenuhnya percaya padanya.
"Apa kamu masih sekolah.?" Sean mengalihkan pertanyaanya, "Jangan tersinggung, aku hanya ingin mengenal mu lebih jauh." Lanjut Sean setelah melihat raut berbeda dari wajah Ana.
"Iya, tidak apa-apa. Sebenarnya, aku diterima disalah satu universitas tapi aku tidak bisa melanjutkan nya karena adikku yang melanjutkan pendidikannya." Jawab Ana.
"Jadi, kamu?." Tanya Sean menggantung, Ana yang paham maksud pertanyaan itu pun tersenyum dan menjawab, "Aku membantu orang tua ku mencari uang untuk biaya pendidikannya dan urusan rumah."
Sean berhenti menyendok makanannya, Sean sangat salut dengan Ana. Bukan tanggung jawabnya melakukan itu semua, tapi Ana melakukan nya. Pria yang bersama nya kelak pasti akan sangat beruntung memiliki Ana, wanita yang penuh tanggung jawab. Dia rela menukar kebahagiaannya demi kebahagiaan orang lain.
"Apa kamu tidak punya rencana untuk kuliah lagi atau kamu hanya ingin menjadi pelayan ditempat ku.?" Sean ingin tahu jawaban Ana.
Ana diam beberapa menit sebelum menjawab pertanyaan dark Sean. Ana melihat kedalam mata Sean dan berkata, " Aku ingin melanjutkan pendidikan ku tapi tidak sekarang."
Sean mengangguk dia paham satu hal, mungkin karena ini Ana diserang stress. Tapi, jawaban Ana belum membuat Sean puas hingga dia bertanya lagi." Katakan yang sebenarnya padaku, Ana. Apa ini yang membuatmu stress?."
"I-iya." Jawab Ana. Sean tahu Ana berbohong padanya, tapi dia tidak mau terlalu menekan Ana.
Mereka kembali melanjutkan aktivitas makan mereka. Ana terlihat kurang nyaman dengan semua pertanyaan Sean. Jadi, Sean mencari cara agar menghilangkan ketegangan Ana. "Katakan padaku, apa makanan kesukaan mu, warna kesukaan mu dan apa keahlian mu.?"
Sean selalu perhatikan reaksi Ana, sekarang dia jauh lebih baik, dan terlihat senang dalam bercerita.
"Aku suka warna pink, dan aku ahli dalam merias wajah, kalau untuk makanan, aku tidak terlalu punya yang favorite tapi aku suka ayam, nasi, dan makanan lainnya. Dan ya, aku juga suka membaca buku dan menonton film romantis, aku juga pandai berenang." Ana bercerita dengan sangat bahagia senyum nya terlihat sangat lepas sehingga Sean terpaku padanya.
"Wow, luar biasa. Tapi aku tahu ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku. Tapi tak apa, aku tidak mau memaksa mu bercerita tentang masalah pribadi mu. Tapi, ingat dengarkan saran dokter dan minum obat mu." Ucap Sean.
"Siap komandan." Jawab Ana seraya hormat pada Sean. Sean tertawa melihat tingkah lucu Ana. Mereka terus bercerita dan tertawa bersama sampai suara seseorang muncul dari belakang.
"Siapa dia, Sean.?"
*
*
__ADS_1
*
TBC😘