
*
*
*
Sean merasa sangat senang bisa menghabiskan waktunya bersama Ana. Namun, dia kesal karena kemunculan Callista.
Sekarang, dia sedang memikirkan cara menghadapi ibunya dan cara agar Ana bisa bekerja tanpa masalah.
***
Saat Sean sampai dirumah, ibunya menatap nya penuh dengan kemarahan.
"Kenapa kamu mengabaikan tanggung jawab mu hanya demi seorang pelayan, Sean?" Teriak ibunya.
"Mom, dia sudah tak berdaya dijalan, haruskah aku membiarkan nya begitu saja?" Balas Sean ikut berteriak.
"Apa cuma kamu orang baik disana, apa kamu tahu pertemuan dengan ayahmu jauh lebih penting dari pada kehidupan palayan itu."
"Kapan mommy tidak berperasaan seperti ini?"
PLAAAK
Sean mendapatkan tamparan keras dari ibunya. "Seharusnya kamu tidak mengatakan itu."
"Aku harus istirahat sekarang, mom. Kita bicara lagi saat suasana hatimu lebih baik. Selamat malam." Sean pun pergi kekamarnya tanpa menunggu jawaban dari ibunya.
Sean merasa ibunya sangat keterlaluan. Dia tidak salah, dia hanya melakukan apa yang seharusnya orang lakukan sesama manusia. Dia membantu seseorang yang sedang sekarat, apa yang salah dengan itu?
Sean pergi kemar mandi untuk menyegarkan tubuh dan pikiran nya. Setelah itu dia jatuhkan tubuhnya kekasir sambil mengeluarkan ponsel pintarnya untuk melihat poto Ana yang dia ambil secara diam-diam.
"Dia sangat cantik, aku tidak percaya aku mengagumi pelayan ku." Ucap Sean sambil meraba layar ponsel nya.
Detik berikutnya dia tersadar akan sikap dan perkataan nya, "Ini tidak boleh dibiarkan, aku tidak boleh mencintai nya."
Sean melemparkan ponselnya kesamping, dan mencoba menutup matanya, detik berikutnya ponselnya pun berdering.
DREET
DREET
DREET
Tertera nama Callista.
Sean mengabaikan panggilan itu, kemudian dia masuklah notifikasi WhatsApp dari Raf.
TING
Isi pesan Raf.
"Siapa wanita yang kau kencani itu, kamu belum memberitahu ku soal ini?"
__ADS_1
Sean membalas.
"Aku tidak bisa mengatakannya disini, kita bertemu besok."
Sebelum tidur Sean selalu teringat akan Ana, senyum, tawa, tingkahnya, seakan menjadi obat tidurnya.
***
Dipagi harinya Sean bangun dalam keadaan lelah dan lesu. Dia sangat malas jongging pagi ini.
Sean mengirim pesan pada Raf.
"Aku tidak jogging pagi ini."
Setelah itu, dia beralih ke aplikasi olahraga dan kesehatan memilih melakukan pemanasan dikamarnya.
Setelah mandi, Sean menyiapkan berkas-berkas yang akan Ana kerjakan.
Setelah itu, Sean berangkat kerja namun suara ibunya menghentikan langkahnya, "Nak, kamu harus memohon pada ayahmu, apa yang sudah kamu lakukan kemaren menunjukkan kami sebagai orang tuamu telah gagal mendidikmu akan tanggung jawab."
"Itu tidak akan terjadi. Aku tidak perduli apa yang akan terjadi nanti. Selain itu, aku tidak pernah melewatkan meeting penting sebelumnya, aku rasa Daddy akan paham soal itu." Jawab Sean.
"Hanya karena pelayan bodoh itu kau meninggalkan urusan kantor. Lihat saja apa yang akan mommy lakukan padanya, dia harus diberi pelajaran." Ucap ibunya mulai meninggikan suaranya.
"Pelayan, bawa Ana kesini." Titah ibunya.
"Hentikan ini semua, mom. Dia tidak salah. Jangan lakukan apapun padanya. Kenapa bukan aku yang mommy marahi, aku lah yang salah disini. Jangan sakiti gadis lugu itu " ucap Sean.
"Katakan." Jawab Sean cepat.
"Jika kamu mau pergi berkencan dengan Callista maka aku akan melepaskan pelayan itu "
Sean tidak percaya ibunya akan membuat tawaran seperti ini. Sean hanya bisa menghela nafas berat.
Saat itu juga Sean melihat kehadiran Ana yang tampak pucat, padahal dia terlihat sangat cantik saat ini.
"Apa anda memanggil saya, Nyo-nyonya?" Tanya Ana dengan rasa cemas.
"Benar. Saya dengar kamu sakit, jaga dirimu baik-baik, semoga cepet sembuh." Ucap Nyonya Altemose.
Ana tidak percaya ini, dia kira dia akan mendapat caci makian. Dia melirik Sean begitu juga dengan Sean.
"Terima kasih Nyonya."
"Silahkan lanjutkan pekerjaan mu."
Ana pun pergi kembali ke dapur, dia merasa lega namun juga sedikit takut.
"Minta maaf lah pada Callista, mommy akan bicara pada Daddy mu." Setelah mengatakan itu, Nyonya Altemose pun pergi.
Sean hanya bisa pasrah, dia menarik nafas lemah dan pergi memasuki mobilnya.
Saat sampai dikantor dia meminta maaf kepada semua kolega bisnis nya. Untung nya mereka semua sangat pengertian, tidak seperti ibunya.
__ADS_1
***
Sekarang Sean sedang makan siang dengan Raf dan menceritakan semuanya, lebih tepatnya tentang Ana.
"Aku rasa kamu harus menjauhinya. Ingat bro, dia pelayan mu, kamu tidak boleh mencintainya." Ucap Raf dan melanjutkan makan nya.
"Kau tahu apa, Raf?" Kata Sean pada Raf.
"Apa, aku ini sahabat mu, kan?"
"Ya, ya, ya. Akhir cerita nya adalah mommy meminta ku untuk berkencan dengan Callista. Menyebalkan."
"Kau menyetujui nya?"
"Menurut mu? Aku terpaksa melakukan nya, agar mommy tidak menyakiti Ana." Jawab Sean lalu minum sebotol air.
"Hmm, aku tidak percaya kamu membela pelayan itu. Lakukan saja mau mommy mu, itu tidak akan membuat mu rugi " Kata Raf.
"Aku benci semua ini tapi aku harus melakukannya. Kau tahu aku sudah memiliki janji dengan An----" Sean tidak melanjutkan perkataannya, hampir saja dia memberitahu Raf tentang rencana nya dengan Ana.
"Janji? Janji apa?" Tanya Raf menatap Sean.
"Lupakan saja, habiskan saja makanannya." Jawab Sean.
***
Sean menelepon Callista dan memarkir mobilnya terlebih dahulu.
🧑 "Hallo, kapan kamu free?"
🧑🦰 "Kenapa?"
🧑 "Aku ingin bertemu dengan mu."
🧑🦰 "Bagaimana kalau Sabtu ini?"
🧑 "Kenapa tidak Sabtu depan saja?"
🧑🦰 "Seperti nya, aku harus berbicara pada mommy mu." Ancam Callista.
🧑 "Oke baiklah, hari sabtu."
Sean merasa kesal dengan Callista, dia memukul stir mobil, "Aku ada janji dengan Ana hari sabtu itu. Bagaimana ini, apa aku tetap dengan Ana dan menolak Callista?"
Sean berdebat dengan dirinya sendiri.
*
*
*
TBC😃
__ADS_1