
...🍓HAPPY READING 🍓...
"Astaga! Maksudmu ayahmu melakukan ini padamu? mereka sangat kejam." Amy syok mendegar cerita ku. Aku semakin menangis tak terkendali.
*
*
*
"Hati ku sakit, kau tahu Amy, bagaimana rasanya tidak dicintai orang tua, aku sudah melakukan yang terbaik agar mereka menyayangiku, apa semua itu tidak cukup? Agheta selalu mendapatkan segalanya, sedangkan aku, aku hanya dianggap daun mati. Aku harus mengubur mimpiku, aku putus sekolah, dan bekerja sebagai pembantu, aku sudah tidak memiliki harapan lagi, hiks, hiks, hiks." Tangis Ana pecah saat dia menceritakan isi hatinya pada Amy.
Amy memeluknya, berusaha menenangkan dirinya, namun saat dia menyentuh tubuhnya, Ana berteriak kesakitan.
AAAAKKKH
"Maaf kan aku Ana, pasti ini sangat menyakitkan, aku bisa merasakan luka mu, teman." Kata Amy ikut sedih dengan keadaan Ana.
"Aku punya satu jam lagi sebelum berangkat kerja, boleh kah aku minta sedikit makanan, aku sangat lapar?" Ana bertanya padanya.
"Tentu saja Ana. Mari ikut dengan ku, nenek pasti senang melihat mu. Dia sudah lama ingin makan bersama dengan mu. Dia sempat ingin memarahi orang tua mu, tapi aku melarangnya, karena sudah ku pastikan hal itu hanya akan menambah luka mu saja." Amy mengajak Ana untuk masuk kedalam rumah nya.
"Aku hanya berharap, semoga suatu hari nanti mereka bisa melihat kebaikan ku." Ucap Ana.
Ana masuk dan menyapa neneknya yang ikut sedih melihat keadaan dan nasib ku. Mereka makan bersama, Amy dan neneknya sudah seperti keluarga bagi Ana. Karena bersama mereka Ana bisa merasakan cinta yang selalu dia butuhkan.
Setelah makan selesai, Ana pun pamit pergi, tak lupa Amy memberikan beberapa lembar uang untuk ongkos taxy selama beberapa hari. Selain kuliah, Amy juga bekerja paruh waktu, untuk membiayai hidupnya dan neneknya.
*
*
*
Ana menghentikan taksi dan mengatakan alamat tujuannya.
Security membuka pintu gerbang, dan dia kaget melihat keadaan Ana, wajah pucat dan terdapat beberapa memar dikulitnya. Security itu pun bertanya, "Maaf Nona saya lancang, tapi siapa yang melakukan ini padamu?"
"Saya tidak apa-apa pak, tadi saya mengalami kecelakaan, sekarang saya baik-baik saja kok." Jawab Ana dengan memaksakan senyuman lalu melangkah masuk.
Dalam langkahnya, Ana berkata dalam hati, "Tidak apa-apa bukan berarti baik-baik saja."
Saat sampai didalam rumah, Ana langsung dicegat oleh Brenda. Dan tanpa rasa perduli, dia memberikan hukuman karena Ana sudah lancang meninggalkan kamar Tuan muda kemarin malam.
Ana tidak tahu, kalau kemarin malam brenda melihat kepergiannya. Ana berusaha memohon meminta belas kasihan ya, namun, Brenda itu akan membebaskannya dari hukumana ini jika Ana bersedia melakukan sesuatu untuk nya tanpa imbalan apapun.
Ana terdiam sesaat, lalu kemudian berkata, "Apa?"
"Makeup mu sangat mengerikan hari ini." Brenda menatap Ana dengan tajam.
"Aku sangat pandai merias wajah, aku akan melakukan riasan terbaik yang akan membuatmu terlihat seperti? Uhmm! Siapa selebriti favoritmu?" Ana bertanya.
"Aku suka Cardi B." Jawabnya.
"Baiklah, tapi tidak setiap hari, kan? Kalau sekali-sekali, bagaimana?." Tanya Ana karena sudah tahu apa yang harus dia lakukan.
Ternyata Brenda menyetujuinya. Dan Ana kembali bekerja seperti biasa dengan perasaan senang apalagi tuan muda Sean tidak ada dirumah.
"Setidaknya hukuman ku sedikit ringan agar aku bisa pulih dari hukuman ku sebelumnya."
Saat sedang bekerja, tiba-tiba terlintas ingatan dimalam dia ditolong oleh putra bosnya. Seketika itu, Ana menjadi tersipu malu.
"Apa yang ku pikirkan? Kenapa aku memikirkan dia?." Ana menepuk-nepuk kepalanya, agar tersadar dari yang dipikirkan.
__ADS_1
*
*
*
Sinar mentari memasuki celah-celah pentilasi kamar. Gulungan selimut yang tampak membukit menandakan sang empu belum juga bangun dari tidurnya.
Suara burung berkicau membuat tidurnya terganggu. Sean mengerjapkan matanya, terlihat sangat enggan untuk bangun.
Sean menyingkap selimut, menguap sambil mengucek matanya. Dia merasa sedikit lelah dan kurang tidur.
Sean berdiri dan menggeliatkan tubuhnya, memaksakan kakinya bergerak menuju kamar mandi.
Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Sean mengganti pakaiannya dengan pakaian jogging. Yep, pagi ini, Sean ingin berolahraga sebelum berangkat ke kantor.
Hari ini adalah hari pertama Sean menjadi CEO baru di perusahaan ayahnya.
Headset telah terpasang dikedua telinganya. Sean keluar meninggalkan rumah melakukan rutinitas paginya sambil mendengar kan lagu kesukaannya.
Diujung jalan, Sean melihat Raf yang sedang melakukan pemanasan, Sean sudah menduga akan bertemu dengan Raf.
Raf yang melihat keberadaan Sean pun menyapa nya, "Hei bro, good morning."
"Hmm, morning." Balas Sean datar.
Mereka berolahraga bersama. Bahkan diakhir pekan pun mereka lebih memilih berolahraga, maka tidak heran tubuh mereka terlihat sangat bugar.
"Uh, lelah sekali." Keluh Raf.
"Sama, aku haus." Timpal Sean.
"Untung aku bawa air minum, kalau tidak kau pasti pingsan kehausan." Goda Raf.
"Mana airnya?." Lanjut Sean sambil mengadahkan tangannya.
"Di mobil ku, hehe." Balas Raf dengan cengengesannya.
Sean pun hanya menghela nafas, sambil berkata, " Yasudah, ayo ambil, aku sudah kehausan."
Mereka berjalan menuju tempat parkir mobil Raf. Raf selalu membawa mobil lantaran rumahnya berada jauh dari rumah Sean.
Setelah sampai di mobil, Raf mengeluarkan dua botol air, satu untuknya dan satu lagi untuk Sean.
Sean meminumnya hingga tandas, Raf yang melihatnya pun tersenyum mengingat perkataan Sean beberapa menit yang lalu.
"Thanks bro airnya." Ucap Sean sambil menepuk pundak Raf.
"You're welcome. Ayo, aku antar pulang, kau tidak boleh terlambat di hari pertama mu bekerja di perusahaan. Aku juga ada pertemuan penting pagi ini." Balas Raf.
"Tentu, ayo!. Kita akan berpesta dengan para gadis yang luar biasa malam ini." Ucap Sean dengan senyuman dibibirnya. Dan Raf memberikan high five artinya dia setuju malam ini akan sangat menyenangkan.
*
*
*
Sean menata rambut nya serapi mungkin, bibirnya terlihat sangat menggoda di depan cermin.
Setelah berpenampilan rapi, Sean mengambil Iphone terbarunya di lemari nakasnya.
Sean pun berangkat ke perusahaan, dia memilih untuk tidak sarapan pagi ini, karena takut terlambat.
__ADS_1
Setelah sampai digedung perusahaan, Sean disambut dengan begitu meriah. Manager, secretary, dan karyawan lainnya sedang berdiri menyambut kedatangannya dengan senyum hangat.
Sean merasa tersanjung, sekretaris baru yang ditugaskan ayahnya untuknya dengan sigap membawakan tas dan mengantarnya keruanganya. Sean memintanya untuk mengubah ruangan itu, mulai dari furniture sampai tata letak nya sesuai dengan seleranya.
Semua orang di perusahaan merasa senang dengan kedatangan Sean, terutama para wanita yang sibuk berbisik, "Ternyata, CEO kita sangat tampan, aku suka bibirnya, kekasihnya sangat beruntung."
Tiba saatnya Sean menyampaikan sepatah kata kepada semua karyawan di kantor. Sekarang mereka tengah berkumpul di Aula perusahaan.
Sean meminta kepada semua karyawannya untuk memberikan laporan bulan ini dan bulan lalu. Dia ingin mengetahui progress dari semuanya.
Setelah selesai, Sean pun kembali keruanganya, dia merasa senang karena ruangan nya sudah disulap sesuai keinginannya dengan nama CEO di pintu masuk.
Ruangan ini didesain seminimalis mungkin. Toilet, kamar mandi, dan bahkan ada kamar khusus untuk nya bersantai, sampai dia lupa kalau itu kantor berasa berada dikamarnya sendiri.
Sean mulai sibuk dengan pekerjaannya, tumpukan file dimejanya sedikit demi sedikit berkurang, namun sebagai CEO dia bisa pergi kapan saja.
*
*
*
Sekarang Sean berada dirumah, dia ingin beristirahat sebentar sebelum berpesta malam ini, sebelum itu dia menitip pesan ke salah satu pelayan, "Tolong sajikan makanan dikamarku, tapi aku ingin pelayan baru itu yang mengantarnya."
Selang beberapa menit, pintu pun diketuk,
TOK
TOK
TOK
"Masuk!" Ucap Sean dari dalam.
Ana masuk dengan mendorong troli makanan dan menyajikan nya diatas meja.
Saat hendak pergi, Sean berdiri sambil menyeret tangan Ana dan berkata, "Apa aku menyuruhmu pergi? Apa kamu lupa dengan hukuman mu?" Sean berteriak padanya.
Ana berdesis sakit sambil berkata, "Maafkan saya Tuan."
Sean melihat raut kesakitan diwajah Ana, dia memperhatikan wajah Ana yang tampak pucat dengan memar dikulitnya.
'Mengapa tubuhnya Merah dan penuh memar?' Sean bertanya-tanya dalam hati.
"Hei, siapa namamu?".
"Ana, Tuan." Jawab Ana dengan mata berkaca-kaca. Sean yang melihatnya merasa tak tega dan akhirnya melepaskan tangannya.
"Siapa yang melakukan ini padamu, Ana?" Tanya Sean.
*
*
*
TBC
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa sedekah LIKE & COMMENT nya 🤭