
...🌻 HAPPY READING 🌻...
*
*
*
"Kenapa mommy berkata seperti itu?" Tanya Sean merasa tidak senang atas perlakuan ibunya pada Ana.
"Mommy mengatakan yang seharusnya mommy katakan." Jawab Nyonya Altemose.
"Kau tahu, mommy sudah keterlaluan." Sean muak dengan sikap arogan ibunya yang tak pernah berubah dari dulu.
"Seharusnya, disini mommy yang marah pada mu. Apa yang kau lakukan dengan pelayan itu? Kau menggoda dia atau dia yang berusaha menggoda mu?" Nyonya Altemose mulai tersulut emosi.
"Yang benar saja Mom, selera ku tak serendah itu. Dia hanya membantu tugasku. Tidak ada yang lain." Sean mencoba menenangkan ibunya.
"Tugas apa yang kau maksud? Bertelanjang dada didepannya, ha? Mommy tidak ingin hal ini terulang lagi. Bagaimana perasaan Callista jika mengetahui hal ini?." Resah ibunya.
Sean memutar matanya jengah, ibunya kembali mengungkit wanita yang sudah lama ingin dia hindari.
"Mom, ini tidak ada hubungan nya dengan Callista. Jadi tolong jangan sebut namanya lagi didepan ku. Dia tidak akan datang kesini tanpa seizin dari ku." Kata Sean marah.
"Maksudmu, calon istri mu harus butuh izin dari mu dulu baru datang kesini, hm? Are you okey? Pasti kau bercanda. Callista bilang, kau tidak pernah menelponya justru dia yang selalu mengabarimu. Itu sangat buruk, mengapa kau tidak mengajaknya berkencan ha?" Nyonya Altemose geram melihat perilaku Sean terhadap Callista.
"Mom, aku sibuk. Aku tidak punya waktu dengannya. Akhiri saja ini semua. Bilang padanya kalau aku tidak mencintainya."
"Asal kau tahu, mommy yang selalu mengirimi dia bunga dan kartu ucapan yang romantis agar dia menganggap kalau itu semua darimu. Hargai perasaan dia. Apa yang kurang dari nya, dia anak orang kaya, cantik, berpendidikan. Dia sangat mencintai mu. Jangan buat dia terluka."
"What??? Apa yang mommy lakukan? Aku tidak percaya mommy melakukan hal ini. Mommy menjual namaku. Oh, tuhan." Sean mengusap kasar wajahnya.
"Yah, benar. Bahkan dihari valentine pun mommy mengiriminya coklat dan beberapa kalimat romantis. Kau harus berkencan dengannya dan jangan menghancurkan hatinya lagi, setan kecil." Ucap Nyonya Altemose sambil memukuli Sean.
Bukannya marah, Sean justru merasa senang dipukuli ibunya seperti itu. Dia senang melihat ekspresi diwajah ibunya.
Sean melarikan diri dari pukulan ibunya, dia pergi berjalan kedapur dan mengintip Ana dari balik tiang pembatas. Sean merasa kagum dengan Ana, dia selalu serius dalam mengerjakan sesuatu yang ditugaskan padanya.
Dia sangat cantik untuk seorang pembantu, baik dia kuliah ataupun melakukan pekerjaan lain, dia tetap terlihat cantik dengan segala pekerjaan nya.
EHHEEEM
Suara deheman itu membuat Sean terkejut. Dia menoleh kebelakang, ternyata dia dipergoki oleh seorang pelayan.
Sean kembali berdiri gagah, membuat raut wajahnya setenang mungkin, dan berkata, "Bersihkan kamarku."
*
*
__ADS_1
*
Lamborghini meluncur tepat jam 7 malam menuju sebuah klub elit yang terkenal dikotanya.
"Aku sangat menyukai klub ini." Kata Sean kagum sambil menelisik setiap sudut bangunan itu.
Raf yang sudah berada terlebih dahulu disana tersenyum manis melihat kedatangan temanya, dia menepuk pundak Sean lalu berkata, "Seleraku bagus, bukan." Raf merasa bangga karena tempat pilihannya tidak mengecewakan.
Mereka memutuskan untuk mengambil ruang VIP dan membawa para wanita sexy disana yang membuat jiwa laki-laki Sean menggelora.
Raf sibuk bercumbu dengan salah satu ****** disana. ******* dan suara kecupan itu menjadi lagu yang meresahkan si pendengarnya.
Sean tetap duduk disofa menikmati wiski mahal sambil melihat kelakuan sahabatnya.
Setelah puas bermain, Raf pun mendekati Sean, " Kau tidak ikut bersenang-senang?." Tanyanya sambil menuangkan wiski kedalam gelas genting nya.
"Ada yang mau ku bicarakan denganmu." Jawab Sean santai sambil menikmati tarian ******-****** sexy didepannya.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Raf.
"Mommy selalu mengganggu hidupku dengan masalah Callista. Aku sama sekali tidak menyukai gadis itu. Aku tidak bisa menikahi wanita yang tidak ku cintai." Ucap Sean.
"Aku tidak bisa memberi mu nasihat, nasib kita sama. Sama-sama terikat dengan orang yang tidak kita cintai." Balas Raf sambil menyesap wiskinya.
"Kau benar, terkadang aku iri dengan orang miskin, mereka pasti tidak memiki masalah serumit kita. Tapi, apa boleh buat, kita terlahir dikeluarga kaya. Bukan salah kita, kan?." Sean berkata sambil menyesap wiskinya dengan menyilangkan kakinya.
"Aku tidak mengerti dengan diriku, aku tiba-tiba tertarik dengan seorang pelayan. Ini bukan diriku yang ku kenal." Ucap Sean serius tapi Raf hanya menganggap itu sebuah lelucon.
Seorang pramusaji datang membawa minuman merk lain dan Raf berkata padanya, " Hai, cantik. Siapa namamu?." Sean hanya tertawa dalam diam.
Gadis lugu itu menjawab, "Nama saya Amy, Tuan. Apa anda butuh sesuatu?." Amy menjawab dengan penuh senyuman.
"Kalau aku bilang aku mengingatkan mu, bagaimana?." Ucap Raf dengan seringaian mesumnya. Dia berjalan mendekati Amy, dan membelai wajahnya.
PLAK
Sebuah tamparan mendarat di pipi Raf. Amy pergi dalam keadaan marah.
"Tidak semua wanita yang kau lihat itu ******." Ucap Sean dari belakang. Namun, Raf tidak merespon nya. Dia mengusap pipinya dan pergi mendekati ****** dan melambaikan tangannya pada Sean.
Tak berselang lama, datanglah seorang wanita dengan pakaian yang hampir terbuka mendekati Sean. "Aku akan memuaskan mu malam ini." Bisiknya manja ditelinga Sean.
Suaranya mampu membangkitkan gairah Sean, "Dengan senang hati cantik." Ucap Sean mulai terbawa suasana.
Wanita itu sangat pandai menggoda, dia membelai dada Sean, menggigit bibirnya, dan dengan cepat Sean menyambar bibir itu. Kecupan demi kecupan terdengar sangat menggairahkan, hingga berakhir di pucuk gunung kembar miliknya.
Cukup lama Sean bermain diarea bukit itu, memilin, memutar, dan menjilat penuh dengan nafsu. Tak puas disana, akhirnya Sean membawa wanita itu ke sebuah hotel.
AAAKHH
__ADS_1
Suara jahanam itu menjadi irama merdu untuk sepasang manusia yang tengah bercinta dikamar bisu itu.
Untungnya kamar itu kedap suara, jika tidak mungkin akan membuat rasa panas yang mendengarnya.
*
*
*
Kicauan burung membangunkan Sean dari tidurnya. " ****! Hari ini daddy akan datang kekantor. Aku tidak boleh telat."
Sean buru-buru memakai kembali pakaian nya. Dan meninggalkan sejumlah uang diatas meja untuk wanita yang dia tungganginya semalam.
Mobilnya melaju membelah jalanan, untungnya masih pagi, jadi keadaan jalan tidak terlalu ramai.
Tiiiiiiiiiiiiitttt
Hampir saja Sean menabrak Ana saat menuju jalan rumahnya. Ana yang mendengar suara itu langsung syok bukan main.
"Awas bodoh "
Sekarang Sean harus memilih, melampiaskan kemarahannya pada Ana atau menerima kemarahan ayahnya. Dia tidak punya cukup waktu lagi.
*
*
*
TBC
*
*
*
Segitu ajalah ya, adegan acem" nya wkwk, author kurang pande ðŸ¤
*
*
LIKE & COMMENT nya manis😃
*
*
__ADS_1
Thanks yang udah LIKE COMMENT nya😘