
Selang beberapa waktu pertemuan pun selesai ,Rizal maupun Rafi serta Deny hendak melangkah dari restoran,
Rafi memutar badan menuju arah pintu.
Sedangkan Alea masih di tempat duduknya .
Alea melihat punggung Rafi yang sedang berjalan, dan Pak John pun menyadari apa
yang di pandang Alea saat ini.
''Kamu lagi lihat apa Le?
Lea langsung kaget mendengar kata pak John.
''Papa ih... ngagetin aja deh.
"Memang lagi lihat apa sih sampai serius gitu.
"Nggak Alea nggak lihat apa apa, jawab Alea bohong
Pak John menyunggingkan senyumnya Orang tua kok di bohongi, Lea kamu itu sudah jelas lihatin pak Rafi kenapa masih saja bohong sama papa.
''Kalau papa tau ngapain nanya?
''Ya pingin langsung denger dari kamu aja.
jawab pak John.
Wajah Alea seketika langsung memerah karena pak John mengetahui apa yang Alea lihat saat ini.
Sedangkan Rizal dan Rafi serta Deny langsung kembali ke kantor untuk melakukan aktifitas yang lain.
Dirumah Nadia sangat di sibukkan dengan berbagai masakan, karena Nadia tau hari ini Rafi bekerja di kantor dan maksud Nadia ingin datang mengantarkan makanan untuk suami serta kakaknya dan Deny.
Deny memang masuk dalam hitungan keluarga Rizal,
Nadia menata masakannya untuk di bawa ke kantor,
Nadia minta tolong pak supir untuk mengantarkannya.
''Pak tolong anterin aku ke kantor mas Rizal ya?
''Baik non silahkan, pak supir sambil membukakan pintu mobil untuk Nadia.
Tak membutuhkan waktu lama, kini mobil yang di tumpangi Nadia pun sampai di depan gedung pencakar langit
Nadia masih di dalam mobil sambil memandangi gedung dari dalam
''Pak apa benar ini kantor mas Rizal ?tanya Nadia heran.
''Iya nona, ini kantor den Rizal, memang kenapa?
Enggak apa apa pak, aku turun dulu ya pak ?
''Baik non, bapak tunggu sini atau langsung pulang Non
''Langsung pulang aja pak, nanti biar aku pulang bareng mas Rizal dan kak Deny aja.
Nadia belum melangkahkan kakinya, Dia masih saja mematung di tempat
Seakan ada keraguan dalam hatinya ingin masuk.
Akhirnya Nadia menelpon Rizal namun ponsel rizal di luar jangkauan
Nadia mengulangi lagi, namun masih tetap sama dan itu berulang sampai beberapa kali.
__ADS_1
Matahari yang tetik seperti berada di ubun ubun Nadia saat ini
Aku harus berani masuk, kalau nggak mau kebakar di sini, batin Nadia.
Nadia melangkahkan kakinya perlahan menuju pintu utama gedung
Semua mata yang halu lalang hanya memandang Nadia dan tak ada satu orang pun yang menyapanya.
Aduh gi mana ini aku nggak kenal siapa siapa di sini, terus aku harus gi mana? Mas Rizal keluarlah kamu di mana?
Saat ini Nadia sangat butuh pertolongan, Sedangkan Rizal ada di dalam ruangannya bersama Rafi.
Karena Nadia tak tau aturan kantor, akhirnya Nadia memberanikan bertanya pada salah satu karyawan.
''Mbak maaf numpamg tanya, ruangan pak Rizal di mana ya?
''Maaf apa sebelumnya sudah ada janji.
Nadia menggeleng.
''Kalau begitu silahkan tunggu di ruang tunggu dulu.
''Baiklah .
Aduh mau menemui suami saya sendiri aja susah banget sih pakai nunggu segala.
Nadia sambil jalan ke ruang tunggu.
Nadia mengelus perutnya yang sudah membuncit.
Kok lama banget ya apa mas Rizal nggak ada.
Nadia yang sudah bosan akhirnya menanyakan lagi pada karyawan .
''Mbak apa Pak Rizal ada, kok lama banget ya, bilang aja yang datang Nadia.
''Saya cuma mau nganter makanan, Nadia sambil mengangkat rantang.
''Ya ampun mbak mana doyan Pak Rizal makan begituan
Hati Nadia merasa teriris mendengar karyawan yang mengolok makanannya.
''Mbak tolong lah please panggilkan pak Rizal.
Nadia memohon
Karyawan itu pun semakin risih dengan rengekan Nadia,
''Baiklah akan aku panggilkan tapi mbak duduk di sini dulu.
Nadia mengangguk
Tok... tok. .tok..
Suara ketukan pintu
Rizal langsung berjalan menuji pintu untuk membukanya.
''Ada apa? Rizal
''Maaf pak di bawah ada yang nyari mbak mbak hamil namanya Nadia .
Sontak Rizal langsung membelalakkan matanya, seakan tak percaya jantungnya pun langsung lari marathon.
''Nadia, dimana dia sekarang, Rizal sambil melangkahkan kakinya dengan gontai.
__ADS_1
''Ada di ruang tunggu pak .
''Hizzz.... kamu bikin kesel aja, Rizal membalikkan badannya melihat karyawan setelah mendengar Nadia berada di ruang tunggu
Rizal yang sudah tak sabar langsung berlari setelah keluar dari lift menuju ruang tunggu
Dari luar sudah nampak wajah yang sangat bosan karena menunggu.
Rizal yang melihat dari pintu kaca langsung segera masuk.
''Sayang kamu ngapain ke sini?
''Mas aku mau nganter makan siang, apa mas sudah makan?
Rizal langsung mencium nbibir Nadia,
Seakan tak memperdulikan sekitar. mas sudah, kan malu kalau di lihat orang ini kan tempat umum
''Maaf sayang mas khilaf, lagian kenapa kamu nggal telpon dulu kalau mau kesini, kan mas bisa langsung jemput kamu.
''Ponsel mas nggak bisa di hubungi.
''Tapi nggak apa apa kok, kan aku mau buat surprize buat mas,
''Tapi kamu kan jadinya nunggu lama
''Nggak apa apa kan sekarang kita sudah ketemu.
''Tunggu sebentar mas keluar dulu !
Nadia mengangguk.
Ternyata Rizal memanggil para karyawan untuk menemuinya
di ruang tunggu.
Para karyawan langsung berhamburan masuk Keruangan yang di tunjuk sang bos
Semua duduk dan kini giliran Rizal yang langsung berdiri
''Saya memanggil kalian ke sini karena ada sesuatu yang akan saya sampaikan
Rizal berbicara dengan lantang.
Rizal menarik pelan tangan Nadia untuk berdiri
''Perkenalkan ini istri saya namanya Nadia
Karyawan yang meremehkan Nadia dari waktu datang langsung menunduk
''Apa istri bos aduh gawat nih kalau sampai ngadu sama bos bisa di pecat aku. batinnya.
Nadia melihat satu karyawan yang menunduk tak berani menatapnya pun langsung menghampirinya.
Padahal semua karyawan menunjukkan senyum pada Nadia.
''Nggak apa apa kamu nggak usah takut,
''kenalin aku Nadia ,Nama kamu diapa
''Di... Diva Buk. jawab dengan gagap.
Saya minta maaf atas kelakuan saya tadi buk.
''Nggak apa apa lagian kan kamu cuma menjalankan tugas, tapi lain kali kamu harus ramah sama siapa saja, jangan pernah memandang orang sebelah mata karena itu akan membuat kita rugi sendiri, dan mulai sekarang belajarlah untuk ramah kepada orang meskipun dia itu orang yang lebih rendah dari kita. Nadia samabil memegang tangan karyawan itu.
__ADS_1
Ya Allah ternyata istri pak bos dangat cantik dan baik hati, meskipun sudah di perlakukan dengan tidak sopan tapi masih juga mau memaafkan mungkin kalau istri presdir lain akan langsung mengadu dan ujung ujung nya memecat . batin para karyawan
Nadia mang berpenampilan biasa saja dan tak pernah memakai pakaian mewahh, karena memang sudah terbiasa berpenampilan seperti itu.