Majikanku Suamiku

Majikanku Suamiku
Episode 58


__ADS_3

Di depan kamar rawat Nadia, mama Widya menangis di pelukan papa Dony setelah melihat notifikasi dari ponselnya,


''Pa ini gi mana mama takut, Rizal kenapa napa?


''Ma, pasti nggak akan terjadi apa apa sama Rizal, dia itu kuat, pasti dia akan bersemangat lagi setelah tadi dia tau jagoan kecilnya lahir.


''Sekarang mama jangan tunjukkan wajah sedih mama di depan Nadia, papa takut dia


akan syok kalau mendengar masalah ini.


Papa akan suruh supir Rizal menjemput Ibu Nadia.


mama Widya masuk kembali ke dalam ruangan untuk menemui Nadia dan cucunya.


Sebenarnya apa sih yang ter jadi, kenapa mama kelihatan sedih, terus dari tadi aku nggak lihat mas Rizal, kemana dia, batin Nadia.


Suster datang membawa makanan untuk Nadia.


''Kamu makan dulu ya Nad, apa mau mama suapin ?


''Enggak usah ma, Nadia bisa makan sendiri kok ma, Nadia mau mama jawab yang jujur, sebenarnya mas Rizal ke mana sih ma? kok aku nggak lihat dari tadi?


''Kamu makan dulu, nanti mama kasih tau


Dengan antusiasnya ingin tau Nadia makan dengan lahap.


Tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan makannya.


''Ma, Nadia menagih janji mama, katanya mama mau bilang di mana mas Rizal.


''Nad maafkan mama ya ,kali ini mama nggak tau harus jawab apa, mulai sekarang kamu harus bisa hidup tanpa Rizal, dia nggak akan kembali, sampai waktu yang menentukan.


''Maksud mama apa?kenapa mama bilang mas Rizal nggak akan kembali, memangnya mas Rizal pergi kemana ma? apa dia meninggalkan aku dan bayi kita, nggak mungkin ini nggak mungkin,


Mama Widya berjalan menghampiri menantu dan memeluknya,


''Kamu yang tenang ya, kamu harus sabar menghadapi kenyataan ini, pasti nanti kalian akan di pertemukan kembali, tapi untuk saat ini mama nggak bisa mengatakannya padamu, maafkan mama, bukan maksud mama untuk memisahkan kalian. tapi ini lah jalan yang terbaik untuk kalian berdua. ucap mama Widya.


''Tapi ma, aku nggak bisa terima, kenapa mas Rizal begitu tega sama aku, aku sangat mencintainya, apa dia sudah nggak mencintaiku lagi, apa mas Rizal sudah bosan sama aku yang selalu merepotkannya ,Nadia sambil menangis.


''Bukan itu sayang, Rizal sangat mencintaimu tapi dia nggak punya pilihan lain dia harus lakukan ini.


''Kenapa jadi gini sih, kenapa kak Rizal pergi tanpa pamit, dia pergi kemana? apa aku tanya kak Deny. o... iya kak Deny juga nggak ada kemana dia, apa dia ikutan pergi sama kak Rizal batin Lilis meraba raba.

__ADS_1


Sungguh menyedihkan bagi Nadia saat ini, di saat dia melahirkan buah hatinya justru harus kehilangan suami tercintanya yang entah pergi ke mana, tak bisa di bayangkan,hal yang serumit ini akan terjadi padanya, kehidupan memang tak semulus yang kita rencanakan, pasti banyak keterjalan di tengahnya, apapun itu untuk menguji iman seseorang,


Tapi memang inilah hidup kadang lurus kadang juga belok, tinggal kita ikuti alurnya, tapi jangan sampai salah arah karena juga akan fatal nantinya.


Nadia menangis tersedu sedu, kali ini Lilis yang berada di sampingnya,


''Nad yang sabar ya mungkin kak Rizal ada urusan kantor yang mengharuskan dia pergi lama,


''Nggak mungkin Lis, aku tau mas Rizal semarah marahmya dia sama aku pasti dia akan pamit, tapi kamu lihat kan mas Rizal sama sekali nggak pamit.


''Coba aku tanya kak Deny dulu ya, Lilis,


Nadia mengangguk.


Lilis mencoba menghubungi Deny dengan ponselnya.


Beberapa kali Lilis menghubungi ponsel Deny, tapi tak tersambung juga,


Kenapa ponsel kak Deny nggak aktif juga sih, sebenarnya mereka ini kemana, apa mereka sekongkol mempermainkan kami, batin Lilis


''Gi mana Lis?,


Lilis menggeleng,


''Kak Rafi, cepat Lis, kamu tau kan nomer kak rafi. dalam otak Nadia terselip nama Rafi


Lilis mengangguk


Lilis pun mencoba menghubungi ponsel Rafi.


Tapi nihil tak tersambung juga


Lilis menggeleng lagi.


Sedang mama Widya hanya diam seribu bahasa.


Tak lama ada yang mengetuk pintu, kini Irfan yang langsung membukanya.


Seseorang paruh baya masuk.


''Ibu, ibu tau dari mana kalau Nadia di sini?Nadia terkejut.


''Tadi supir yang jemput ibu kamu Nad, papa Dony menyusul dari belakang,

__ADS_1


Nadia beralih menangis di pelukan sang ibu.


''Kenapa Ndok bukannya kamu senang bayi mu sudah lahir, ini kok malah menangis,


''Mas Rizal pergi ninggalin aku bu?


''Maksud kamu opo?pergi kemana?


''Nadia juga nggak tau bu, mas Rizal nggak pamit sama Nadia.


''Tenang dulu, kamu itu habis melahirkan jangan kayak gini, ibu takut akan mengganggu kesehatan kamu. kasihan bayi kamu, siapa nanti yang menjaganya,kamu yang tenang, kalau memang Rizal jodoh kamu pasti dia akan kembali di pelukan kamu, kalau tidak ya berarti dia bukan jodoh kamu, kamu harus belajar ikhlas, kita semua di pertemukan untuk di pisahkan. nasehat sang Ibu.


''Tapi bu ,kenapa harus di saat seperti ini, rasanya aku nggak siap untuk kehilangan mas Rizal sekarang?


''Ndok...siap nggak siap kamu harus siap ,kamu sudah punya anak sekarang kamu harus melanjutkan hidup kamu, jangan seperti ini, lihat bayi kamu, dia tak salah apa apa, jangan membuatnya ikut merasakan kesedihan kamu, mulai sekarang kamu harus bisa ikhlas itu saja,


Nadia berhenti menangis setelah mendapat bentakan sang ibu.


Mama Widya yang duduk di shofa hanya diam dan sesekali menitihkan air matanya,


Mama Widya menghampiri Nadia.


'''Nad, sekarang mama pulang dulu, nanti mama balik lagi, soalnya mama ada urusan sedikit,jangan sedih lagi ya, ingat kata ibu mu, kamu harus ikhlas.


Nadia mengangguk .


Mama Widya dan papa Dony pamit untuk pulang


Sedangkan di seberang sana Rafi berlari mencari dokter setelah melihat keadaan Rizal yang muntah muntah .


''Bagaimana keadaan adik saya dok, apa dia baik baik saja?


''Kami tim dokter tidak bisa bilang dia baik tuan, kami cuma bisa berusaha untuk mencegah penyebaran nya itu saja, ini memang akan terjadi pada setiap pasien yang sama seperti tuan Rizal.


''Tapi dok apa tidak ada jalan lain yang tidak menyakitkan seperti ini,


''Maaf tuan,ini adalah langkah yang terbaik mengingat tuan Rizal pernah mengalaminya di waktu kecil, saya harap tuan bisa membantu kami supaya tuan Rizal mau makan itu saja, karena itu juga akan berpengaruh,


''Baik dok saya akan usahakan.


Kali ini Rafi berpikir keras mengingat adiknya yang memang susah makan.


Akhirnya Rafi berinisiatif untuk mencari keberadaan bik sri, hanya itu yang berputar dalam otaknya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2