Majikanku Suamiku

Majikanku Suamiku
Berkencan


__ADS_3

*


*


*


"Siapa dia, Sean?"


Sean dan Ana langsung menoleh kesumber suara.


Dibelakang mereka, Callista berdiri dengan ekspresi tak terbaca.


Sean bersikap biasa saja, begitu juga dengan Ana yang hanya diam tak tahu siapa wanita itu.


"Apa yang kau lakukan disini, Callista?." Sean bertanya dengan nada tak suka, moment nya bersama Ana rusak karena Callista.


Callista berjalan mendekati meja Sean dengan Ana. Tatapan tajam dia berikan pada Ana. "Harusnya aku yang bertanya padamu, sedang apa kau disini?"


"Kau bisa lihat sendiri." Jawab Sean malas menjelaskannya pada wanita yang dianggap nya tak penting.


"Oh, jadi karena ****** ini kamu terus mengabaikan aku." Callista berkata sambil menunjuk ke arah Ana.


Ana begitu terkejut mendegar kalimat itu, kenapa semua orang dengan mudah menuduh nya? Salah apa dirinya?


Ana tidak mampu membela diri dia tidak punya kekuatan untuk membantah. Callista anak orang kaya sedangkan dia hanya pelayan. Pembalaan darinya tidak akan berguna.


"Jaga bicara mu Callista. Jangan berani mengatakan kekasih ku ******. Kau akan tau akibat nya nanti." Balas Sean dengan wajah merah. Ana yang semula menunduk langsung mengangkat kepalanya merasa ada banyak kupu-kupu yang berterbangan di hatinya. Dia tidak menyangka Sean akan membelanya dan menganggap nya kekasihnya. Ana ingin sekali berguling-guling seking bahagianya.


"Maaf Sean, tapi ini tidak adil. Sejak kepulangan mu, kau tidak punya waktu untukku tapi sekarang kau malah berduaan dengan wanita lain. Kenapa Sean, apa salahku?"


Sebelum Sean menjawab, Ana terlebih dahulu menyelanya, "Maaf Tuan, seperti nya kalian berdua butuh privasi."


Ana sudah bersiap-siap akan pergi namun Sean mencegahnya, "Tidak sayang, duduklah, dia yang harus pergi." Ana melongo mendengar kata sayang dari mulut Sean.


Callista begitu geram dengan mereka berdua, dadanya naik turun dia tidak terima diperlakukan Sean demikian. "Dia benar Sean, kita harus bicara. Biarkan dia pergi, dia orang asing sedangkan aku---" Sebelum Callista menyelesaikan kalimat nya, Sean terlebih dahulu memotong kalimat nya.


"Kau bilang dia orang asing, dia kekasih ku bukan orang asing. Apa kamu disini cuma mau merusak hubungan ku? Atau hanya ingin membuat kekasih ku cemburu?" Sela Sean.


Ana tidak percaya ini, dia sangat salut dengan akting Sean. Kalau bukan sandiwara apa lagi? Entah kapan mereka jadian, Ana pun tak tahu.


Callista marah dan berkata, "Bohong. Kau berbohong Sean, kamu tidak punya siapa-siapa selain aku.!"


Sean mengambil ponselnya dan menggandeng tangan Ana ,"Terima kasih sudah merusak kencan ku. Ayo sayang kita pergi."


Ana terpaku ditempatnya, dia mengedipkan matanya dua kali, berharap ini bukan mimpi. Sudah dua kali dia mendengar kata sayang dari mulut majikannya. Dia mengikuti langkah Sean dalam kebingungan.


Sean memeluk pinggang nya erat, mereka tampak seperti pasangan yang sangat mesra namun Ana tidak merasa nyaman dengan semua itu.


"Aku akan mengadukan mu pada ibumu. Lihat saja nanti" Teriak Callista merasa tidak terima.


*


*


*


Sesampainya di mobil, Sean melepaskan tangan nya dari Ana, dia membukakan pintu mobil dan Ana duduk disamping kursi kemudi, "Maaf soal tadi, aku terpaksa melakukan nya. Biarkan aku mengantarmu pulang."


Jantung Ana berdegup kencang, namun saat mendegar kalimat dari Sean barusan membuat nya sadar, dia tidak boleh terlalu berharap. Namun bukan hal itu saja, dia tidak bisa pulang dengan penampilan seperti itu, Ana tidak bisa.


'Bagaimana ini, apa yang harus aku katakan?'

__ADS_1


Ana bingung, dia tidak tahu cara menolak nya.


"Mmm, terima kasih tawarannya, tapi aku harus kerumah teman ku dulu. Jadi, aku pulang sendiri saja." Ucap Ana gugup.


Ana melihat reaksi Sean, tidak ada kata yang keluar dari mulut nya, Ana juga melihat jas yang ingin dia kembalikan berada di kursi belakang.


Ana harus mampu meyakinkan Sean, dia harus kerumah Amy untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian lama.


"Tuan, saya ada urusan dengan teman saya. Jadi, saya tidak akan pulang kerumah." Ana berharap sekali Sean membiarkannya pergi.


"Kamu terlalu banyak bicara." Sean mulai menyalakan mobil, Ana dengan cepat menghentikannya.


"Saya bilang hentikan, Tuan." Ucap Ana dengan suara keras.


Sesaat kemudian, barulah Ana sadar dan meminta maaf, "Saya minta maaf tuan."


"Apa kamu takut aku menganggu kalian?." Tanya Sean


"Ah, iya, maksud saya, ada sesuatu yang sedikit pribadi." Jawab Ana cepat.


"Baiklah, santai saja aku tidak akan menganggu kalian. Kamu tidak perlu takut, bekerja lah seperti biasa, aku yang akan bicara dengan Brenda nanti. Kamu tidak akan dihukum, dan untuk ibuku, biar menjadi urusanku." Tambah Sean.


"Terima kasih banyak." Sean seakan tahu apa yang dipikirkan Ana.


Sean mengantar Ana ketempat Amy. Sebelum keluar, Sean berpesan, "Selamat bersenang-senang, ingat aku masih punya tugas untuk mu."


"Tentu, terima kasih untuk hari ini. Aku sangat bahagia sudah merasakan menjadi orang kaya walau sehari." Ucap Ana tersenyum pada Sean.


"Apa kamu punya waktu akhir pekan ini?"


"Belum tahu, seperti nya aku harus bekerja seperti biasa." Tolak Ana.


Ana hanya bisa tersenyum seperti orang bodoh. Kemudian dia turun dari mobil dan langsung pergi kerumah Amy.


"Hah", Amy mengejutkan Ana.


"Astaga, kau membuatku serangan jantung." Ucap Ana mengelus dada.


"Ana, apa ini kamu? Kamu sangat cantik. Ceritakan padaku, apa yang terjadi padamu hari ini dan kenapa bos mu bisa mengantarmu kesini?" Tanya Amy sambil memutar-mutar tubuh Ana.


"Fine, aku akan cerita semuanya."


*


*


*


Ana menceritakan semuanya pada Amy, tentang apa yang terjadi padanya, dan apa yang dia lakukan bersama anak bosnya.


"Begitu lah ceritanya." Ucap Ana menutup cerita.


"Aku senang kau bahagia, tapi aku tidak suka dengan sikap orang tua mu." Ucap Amy. "Tapi, aku yakin bos mu itu menyukai mu, kalau tidak, tidak mungkin dia mau mengajak mu berkencan." Tambah Amy.


"Kau ini gila, mana mungkin dia menyukai gadis seperti ku. Aku ini cuma pelayan dirumahnya, aku bukan Cinderella." Bantah Ana.


"Aku harus pulang, tapi aku mau berganti pakaian dulu, tidak mungkin aku pulang dengan penampilan seperti ini." Tambah Ana dan buru-buru berganti pakaiannya.


Setelah itu, Ana pamit pulang pada Amy, dia tidak ingin terlambat lagi.


Sesampainya dirumah dia khawatir kalau ibunya akan menghukumnya lagi, atau mungkin Nyonya Altemose akan mengadu pada orang tuanya.

__ADS_1


Ana tahu, tidak akan ada yang percaya jika dia mengatakan yang sebenarnya, " Dasar gadis pemalas, bisa-bisanya kamu pinsan saat bekerja, apa kamu mau mereka memotong gajimu, ha? Berhati-hati lah dalam bekerja, kalau tidak, aku yang akan menguburmu." Ujar ibunya dan berlalu kekamarnya.


Ana pikir ini semua ulah Sean, tapi dia sangat bersyukur karena bisa selamat dari ibunya.


Ana tersenyum tipis, dia merasa beruntung bisa mengenal Sean.


Saat memasuki kamarnya, Ana selalu tersenyum mengingat kencannya tadi siang. Dia jadi uring-uringan dan bersemu merah saat mengingat perkataan dan perlakuan manis Sean padanya.


"Aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Aku harus tahu batasan, dia majikan ku dan aku pelayannya."


"Kamu tidak akan bisa bersamanya Ana."


Ana menyadari perbedaan status diantara mereka.


*


*


*


"Ibu, ibu, ibu, coba lihat ini." Agatha berteriak pada ibunya sambil menunjukkan sesuatu di ponselnya.


Ana yang baru bangun pun merasa penasaran.


" Bukannya dia putra dari keluarga Altemose?" Tanya ibunya.


"Benar ibu, dia berkencan dengan wanita. Berita ini trending topik. Coba ibu lihat wanita ini, dia sangat cantik, wajah nya begitu mulus, gaun yang dia pakai juga sangat mewah. Dia sangat beruntung." Cecer Aghata.


Ana yang mendengarnya, merasa apa yang di katakan Aghata itu sesuai dengan apa yang dia kenakan kemaren. Ana sangat penasaran benar kah dia dan Sean yang dipoto itu?


"Boleh aku melihatnya?"


"Lihat, jangan bermimpi bisa seperti nya." Ucap Aghata sambil menunjukkan poto itu.


Ana melebarkan matanya, benar saja dia dan Sean lah yang di poto itu.


Tapi Siapa yang megambil poto itu? Seperti nya poto itu diambil secara diam-diam.


Ana hanya bisa bertanya-tanya siapa yang melakukan nya.


"Tunggu, seperti nya aku mengenal wanita ini." Ucap ibu.


Deg....


Jantung Ana berpacu dengan cepat, Ana berharap mereka tidak mengenalinya.


*


*


*


TBC


*


*


*


LIKE VOTE & COMMENT sayang😘

__ADS_1


__ADS_2