
Keesokan harinya.......
Nadia mengerjap ngerjapkan matanya,Nadia melihat ke samping yang ternyata sang suami masih tertidur pulas, Nadia terus memandang wajah suaminya yang terlihat sangat pucat,
Kenapa wajah mas Rizal terlihat pucat, apa ini hanya perasaanku aja, batinku.
Aku langsung pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu,kali ini aku langsung sholat duluan dan tidak membangunkan mas Rizal.
Tapi aku tetap harus membangunkannya untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Setelah selesai sholat aku langsung menghampiri ranjangnya, aku memegang bahu mas Rizal dari belakang yang sedang meringkuk, aku goyang goyangkan badannya.
''Mas, bangun sudah pagi, aku bisikkan ke telinganya,
Seperti biasa pula mas Rizal tak sulit untuk di bangunkan, Mas Rizal langsung seketika membuka matanya, mas Rizal menatapku seakan penuh makna, aku heran dengan tatapannya kali ini, mas Rizal sambil senyum dan geleng geleng, entah apa yang di pikirkan.
''Mas, kenapa gitu lihatinnya?
''Enggak mas cuma kangen sama kamu aja, kan akhir akhir ini mas jarang berduaan sama kamu kata Rizal penuh kepalsuan.
''Mas sih sering lembur, mas tadi malam pulang jam berapa?
'' Kalau nggak salah Jam sembilan ,mas juga nggak lihat jam pas sampai rumah.
''Ya udah sekarang mas Ke kamar mandi sebelum habis shubuhnya.
'' Kamu udah sholat ?
''Heem,
''Kalau gitu boleh dong mas minta morning kiss?
Nadia langsung mencium kedua pipi suaminya yang sangat manja menurutnya.
Nadia masih menyimpan rasa penasarannya dan tak mau menanyakannya pada suaminya,
''Mas, aku turun dulu ya ?
''Iya mas nanti nyusul.
Nadia berlalu dari kamar menuju dapur.
__ADS_1
Sedangkan Rizal langsung membuka laptopnya setelah Sholat shubuh, karena melihat jam yang masih sangat pagi.
Laptop terbuka, tangan Rizal mulai menari nari di atas tombol keyboard selang beberapa menit Rizal merasakan aneh pada hidungnya, seperti ingus yang mau keluar.
Rizal secepat mungkin meraih tisu yang ada di dekatnya.
Rizal langsung mengusap hidungnya dengan tisu yang ada di tangannya.
Betapa terkejutnya Rizal saat dia melihat yang menempel di tisu ,bukan ingus melainkan darah segar,
''Kenapa ada darah lagi, sebenarnya apa yang terjadi kenapa sekarang sering sekali keluar.
Apa ini sangat serius gumam Rizal.
Tapi Rizal memang sangat beruntung beberapa kali itu terjadi di rumah tapi tak pernah ketahuan oleh Nadia sang istri.
Rizal membersihkan sisa darahnya di kamar mandi sebersih mungkin, itu memang harus Rizal lakukan untuk menutupinya dari Nadia.
Nadia yang bergelut dengan bumbu masak pun kini sudah selesai dan siap memanggil sang suami di dalam kamar.
''Mas, ayo kita turun, mas, sarapan dulu aku yang masak lho?
''Mas nggak percaya ?
''Sayang bukan mas nggak percaya, tapi mas sangat senang, akhirnya kamu udah bisa masak lagi untuk mas .
''Iya kan aku udah nggak pernah mual lagi, jadi aku sudah mulai beraktifitas seperti biasa, lagian aku kan juga bosen kalau harus makan tidur aja.
Nadia dan Rizal turun menuju meja makan, Nadia membawakan tas kerja Rizal
Makan bersama itulah yang di lakukan setiap hari saat Rizal berada di rumah.
Setiap rumah tangga pasti akan ada masalah karena itu memang bumbu dalam rumah tangga ,begitu juga dengan Nadia dan Rizal, tapi masalah yang mereka hadapi ini tidak terlihat publik,seakan Rizal menyembunyikan masalahnya dari sang iatri, padahal itu mungkin dampaknya akan jauh lebih besar. Tapi itu semua juga hanya sangkaan saja .
Seperti biasa pula Deny selalu datang tepat waktu untuk menjemput Rizal.
''Wah kebetulan nih, aku juga belum sarapan?Dent sambil jalan ke arah meja makan.
''Ya udah sarapan dulu kak, mau aku ambilin?Nadia.
''Mau ikut ikutan manja ?Rizal
__ADS_1
''Nggak apa apa lah bos sekali kali ngerasain di layani ?
''Makanya cepetan nikahin Lilis emang kamu nungguin apa sih?
Deny mengangkat kedua bahunya.
Kenapa kamu nggak peka banget sih bos, aku pingin melihat kebahagiaan kamu yang sesungguhnya dan aku akan pastikan semua yang kamu duga itu salah, batin Deny kesal
Deny dan Rizal langsung pamit .
Di dalam mobil Rizal menceritakan kejadian pagi tadi kepada Deny, kejadian yang tak Rizal duga dan akhir akhir ini mulai sering terjadi
Rizal sangat takut, melihat kandungan Nadia semakin hari semakin membesar.
Tanpa kata Deny langsung mengambil arah lain ,Rizal yang heran langsung bertanya pada Deny.
''Den kita mau kemana inikan bukan arah kantor?
Deny tak menjawab, sampai akhirnya mobil yang di kemudikan Deny berhenti di depan gedung besar.
Rizal menoleh dan membaca tulisan yang terpampang besar dan jelas.
Rumah sakit ********
''Rumah sakit, nagapain kamu bawa aku ke sini ?
''Ngapain kamu bilang, sedangkan kamu selalu mengalami hal yang sangat aneh, dan itu hampir setiap hari, apa kamu nggak ingin tau, dan jika itu memang hal yang sangat serius gimana? apa kamu nggak kasihan lihat tante dan om orang yang sangat menyayangi kamu, apa kamu nggak lihat orang yang sangat mencintai kamu yang akan melahirkan anak kamu dalam waktu dekat, apa kamu nggak memikirkan mereka, kamu jangan egois hanya memikirkan diri kamu sendiri kamu harus ingat orang di sekeliling kamu, lagian kita ke sini hanya untuk periksa dan semoga apa yang kamu takutkan nggak terjadi, aku ini sahabat kamu ,kita berteman sudah sangat lama, jadi percayalah aku akan lakukan apa saja yang terbaik untuk kamu Deny meyakinkan .
Rizal menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
''Terima kasih.hanya kata itu yang di ucapkan Rizal.
kemarahan Deny kali ini membuat Rizal luluh, Rizal langsung membuka pintu mobil dan melangkah masuk ke rumah sakit, Deny hanya bisa mengikuti langkah bosnya ,
Rizal dan Deny masuk ruangan khusus,pemeriksaan dan percakapan pun di mulai dengan Dokter, Rizal dan Deny hanya menjadi pendengar setia. dan sesekali hanya mengangguk.
Lama sekali mereka berada di ruangan dokter, dan kini saatnya mereka keluar dengan raut wajah yang setegar mungkin tidak terlihat kesedihan. Hasil lab memang belum keluar tapi kenyataan saat ini pun menjadikan Rizal seakan tak punya semangat hidup, sesekali Rizal meneteskan air matanya saat beesama Deny,masih di dalam mobil, Rizal memberi tau Deny supaya Deny tidak mengatakannya pada siapapun termaauk Mama dan Papanya.
Saat ini hati Rizal bagai tertimpa bebatuan yang seakan tak kuat untuk mengangkatnya, padahal kata dokter Itu baru kemungkinan ,hasil lab masih beberapa hari lagi. selama itu belum keluar Deny pun tak bisa merasa tenang.
Aku kira hanya aku yang pernah merasakan nasib yang buruk karena miskin dan tak punya apa apa, tapi orang kaya pun bisa merasakannya, meskipun banyak uang juga tak menentukan kebahagiaan kita, tapi aku akan ikut berjuang untukmu Zal, kali ini aku nggak mau kehilangan keluarga lagi seperti dulu. Batin Deny.
__ADS_1