
Hari ini adalah hari yang paling di tunggu tunggu, apa lagi kalau bukan kepulangan papa Doni, setelah beberapa hari di rawat papa Doni sudah pulih, namun ada yang di sayang kan papa Doni, Adit belum juga sadarkan diri,
Papa Doni menjelaskan ke seluruh media ,bahwa semua ini hanya salah faham dan bukan kesalahan Adit,
''Raf, kamu sekarang datang ke Sarana grup, urus semuanya! ''
''Baik pa, hanya itu jawaban Rafi kemudian berlalu.
Karena papa Doni sudah tau akan keadaan perusahaan Adit yang di ambil alih sekretarisnya.
Papa Doni pun menyuruh anak buahnya untuk menjaga Adit di rumah sakit,.
karena takut terjadi hal yang tidak di inginkan.
Papa Doni di sibukkan dengan ponselnya membuat nama Widya khawatir.
''Pa, papa kan baru sembuh, mendingan papa istirahat aja dulu, biar nanti anak anak yang urus.
''Nggak bisa ma, papa mau semuanya cepat selesai, dan ini harus papa sendiri yang urus, papa takut Adit salah paham lagi.
''Papa yakin semua ini ada campur tangan orang lain, pasti semua ini bukan rencana Adit sendiri, melainkan orang yang di belakanganya,kata papa Doni.
''Maksud papa apa, apa ada orang lain yang menghasut Adit? ''tanya Rizal serius.
Pak Doni mengangguk.
''Zal, setelah ini kalian semua harus lebih hati hati, papa nggak mau ada korban lagi, lebih ketatkan penjagaan, kamu tetap tinggal di sini.
''Tapi besok Rizal mau ke kampung Nadia pa, dan ini nggak bisa di tunda lagi.
''Kalau begitu kalian bawa pengawal, papa nggak mau terjadi apa apa, terutama cucu papa .
''Loh mas, memang kita mau ngapain, kenapa nggak nunggu waktu yang aman saja,!''
''Sayang, ini nggak bisa di tunda, waktunya pas besok,
Ada apa sih dengan mas Rizal, kenapa nggak bisa di tunda, apa ada yang penting, apa ada masalah di kampung, kenapa Ibu nggak menghubungiku kalau memang ada masalah ,batin Nadia.
''Kamu mikirin apa sih, kok bengong? ''tanya Rizal,sambil menjentikkan jarinya di depan Nadia.
Nadia hanya menggeleng.
__ADS_1
'Karena tahun pertama kita sudah melewatkannya dengan perpisahan, jadi untuk yang kedua, mas nggak akan mengulaginya lagi, mas harap kamu suka dengan apa yang mas berikan. batin Rizal.
Di Sarana grup, Rafi mencoba berbicara dengan tenang menghadapi Alex yang tak lain adalah sekretaris Adit,
''Bagaimana bisa anda dengan secepat ini mengambil alih perusahaan, sedangkan Adit masih hidup?''kata Rafi lembut.
''Maaf pak Rafi, silahkan anda baca dan pahami, ucap Alex sambil melemparkan beberapa Map.
Rafi segera mengambil map map itu dan membacanya, betapa terkejutnya Rafi saat melihat isi map itu, adalah surat kuasa perusahaan atas nama Alex, dan semua itu asli.
''Apa ini, kenapa bisa begini. apa anda sudah memanipulasi keadaan?''
''Ha... ha... ha... Alex tertawa keras mendengar ucapan Rafi.
''Pak Rafi, pak Rafi, anda orang yang begitu pintar dalam berbisnis, apa anda tidak bisa membedakan asli atau sekedar manipulasi belaka,
''Tapi ini nggak benar ,perusahaan ini milik pak Adit dan anda sudah merebutnya,
''Bukan merebut, tapi pak Adit sendiri yang suka rela memberikannya ,kalau anda tidak percaya, ini buktinya!''Alex sambil melemparkan sebuah Card USB.
Tanpa pikir panjang Rafi mengambilnya dan membawanya keluar dari kantor.
''Kenapa semuanya jadi rumit begini, kalau memang benar Adit yang memberikan dengan suka rela, gi mana dengan nasibnya setelah dia sadar nanti, takdir macam apa ini, yang sudah mempermainkan seseorang, apa yang harus aku katakan pada Adit?'' gumam Rafi di dalam mobil.
Sesampainya di rumah, Rafi langsung menemui papa Doni dan menyerahkan benda pemberian Alex.
''Apa ini Raf, kenapa kamu kasih ke papa? ''tanya papa Doni sedikit heran.
''Itu dari Alex pa, Rafi juga belum tau apa isi nya?''
Papa Doni langsung saja memasang, karena rasa ingin taunya sudah memuncak.
Hal yang sangat mengejutkan sudah nampak di depan mata,
Memang sudah jelas, bahwa Adit menanda tangani surat penyerahan perusahaan kepada Alex.
Flashback off
Ternyata dari awal semua adalah ulah Alex sang sekretaris,
Setelah Adit mendengar nama Doni Pratama saat sang ayah menghembuskan Nafasnya yang terakhir, Alex datang dan mengatakan bahwa perusahaan bangkrut,
__ADS_1
Setelah pemakaman pak Tresno, Adit langsung datang ke kantor untuk menemui sang sekretaris,
''Kenapa semua ini bisa terjadi, kenapa perusahaan bisa bangkrut?'',
''Maaf tuan, perusahaan sudah di ambil alih keluarga Pratama, karena tuan Tresno kalah tender,
Pantas saja di saat tetakhir meregang nyawa saja papa menyebutkan namanya, aku berjanji, aku akan membalaskan dendam papa, ucap Adit lirih,
Di saat tersulut emosi, di situlah Alex menyerahkan beberapa map untuk di tanda tangani, tanpa sadar Adit langsung menerima tanpa membaca sedikit pun.
Alex tersenyum sinis dan masih membiarkan Adit untuk mengelola perusahaan, karena akal bulusnya tidak mau ketahuan dalam sekejap,
''Terus bagaimana sekarang?'' tanya Adit pada Alex
''Tuan tenang saja, kita masih bisa mengelola perusahaan ini untuk beberapa tahun.
''Kenapa bisa begitu ?''tanya Adit heran.
''Karena memang itu perjanjiannya tuan.
Adit mengangguk anggukkan kepalanya tanda percaya.
Karena Adit memang belum berpengalaman, jadi Adit dengan mudahnya mempercayai apa pun kata sekretarisnya itu.
Baiklah tuan anda sudah melancarkan semua rencanaku, dan aku pastikan tidak akan terlibat sedikit pun dalam permasalahan anda, dan aku pastikan anda akan menjadi bonekaku, batin Alex
Setelah Adit menanda tangani surat pengalihan perusahaan itu, setiap hari Alex hanya memberikan kabar keburukan papa Doni, hingga Adit murka dan balas dendam pun menguasainya.
Bahkan Adit sudah lupa akan persahabatannya dengan Rafi, karena hatinya sudah terselimuti dengan kebencian.
Flashback on.
Tapi itu semua hanya akan menjadi rahasia, karena papa Doni tidak ingin mengungkitnya lagi, yang paling penting sekarang hanya kehidupan Adit setelah sadar dari komanya,
''Raf, biarkan saja ,Alex menikmati hasil kerjanya, meskipun dengan cara yang curang, kita jangan ikut campur lagi, yang paling penting kamu cari cara ,bagaimana kita mengatakannya pada Adit saat dia sadar nanti ,dan kamu siapkan perusahaan yang lain agar di kelola Adit.
''Tapi pa, itu kan milik papa, apa papa nggak mau merebutnya kembali?tanya Rafi memastikan.
''Raf, jangan membantah papa, harta hanya titipan, jangan terlalu di pikirkan, papa nggak mau kamu haus akan harta, ini contoh bagaimana kamu harus bersikap, jika suatu saat kamu menghadapi masalah seperti ini, jangan mengandalkan kemenangan, karena kemenangan belum tentu membawamu dalam kebaikan, tapi kamu harus lebih bijak mengambil sikap ,karena kebijakan sudah pasti itulah kebaikan yang sesungguhnya, kata pak Doni panjang lebar membuat Rafi membeku.
Ya ampun pa, apa bisa aku mewarisi kebaikan papa, papa begitu baik, bahkan pada orang yang mencelakinya sekalipun , batin Rafi.
__ADS_1