
...🍉 HAPPY READING 🍉...
*
*
*
"Siapa yang melakukan ini padamu, Ana?" Tanya Sean.
Ana terdiam hingga beberapa detik, dia tidak mungkin mengatakan bahwa yang melakukan hal itu adalah orang tuanya sendiri.
"Hanya kecelakaan kecil, Tuan. Saya permisi dulu, selamat menikmati makanan anda." Kata Ana sambil menundukkan kepalanya dan ingin buru-buru keluar.
"Pergilah kalau kau mau kehilangan pekerjaan mu." Ancam Sean.
'Apa yang harus ku lakukan sekarang, ya tuhan.' Keluh Ana dalam hati.
"Baiklah, Tuan. Jangan pecat saya." Pinta Ana.
"Bagus, mana jas ku? Bukankah seharusnya kau sudah mengembalikannya padaku? Berikan jas itu sekarang!." Bentak Sean.
Raut wajah Ana penuh dengan ketakutan. Jas mahal itu dia tinggalkan digudang tempat tidurnya.
"Tuan, saya minta maaf. Saya lupa membawanya, tapi saya janji, saya akan kembalikan besok. Maafkan saya Tuan, saya siap menerima hukumannya." Ucap Ana mengiba sambil berlutut dibawah kaki Sean.
Sean menatap Ana penuh arti dan berkata, "Terima kasih sudah mengingatkan ku. Sekarang, kau duduk disana." Sean menunjuk ke arah Sofa dan meminta Ana untuk duduk disana.
Ana melihat ke arah telunjuk Sean, dia merasa sedikit takut untuk duduk di Sofa mahal itu.
'Apa dia ingin menjebak ku?' Pikir Ana takut.
"Terima kasih Tuan, tapi saya lebih suka berdiri." Tolak Ana dan langsung sigap berdiri.
Sean yang mendengar nya pun langsung tertawa, "Hahahaha, pertama, saya benci berkata dua Kali, kedua, saya tidak menerima penolakan. Apa kau mau dipecat sekarang juga, ha?" Teriak Sean dan mampu membuat Ana ketakutan dan buru-buru duduk di Sofa.
Ana bertanya-tanya, apa sebenarnya yang diinginkan Sean darinya. Dia bukanlah satu-satunya pelayan disana, seharusnya jika dia tidak nyaman dengan Ana, dia bisa meminta Brenda untuk menggantikannya dengan pelayan lain.
Ditengah ribut nya pikiran Ana, Sean datang dengan setumpukan berkas. Ana semakin dibuat bingung.
'Apa yang dia ingin aku lakukan dengan file itu?
'Apa dia ingin aku membuang nya atau dia meminta ku untuk mengantarkannya kepada seseorang?'
"Lakukan." Pinta Sean pada Ana sambil menunjuk berkas-berkas didepannya.
Ana hanya diam membatu tidak tahu harus berbuat apa. Manusia didepannya selalu membuatnya berpikir melebihi materi matematika.
"Untuk hari ini tugas mu adalah kumpulkan kertas A4 ini kedalam map hijau ini. Setelah itu, cap semua file ini jangan sampai ada yang tertinggal jika tidak selesai hari ini, kau bisa melanjutkannya besok." Lanjut Sean.
Ana merasa tidak percaya ini, itu berarti dia akan berada dikamar Sean sampai besok. Ana ingin sekali meminta Brenda buat menggantikannya dengan pelayan lain.
"Baik tuan, saya akan melakukannya sekarang." Jawab Ana.
Ana melakukan sesuai yang diperintahkan Sean. Tapi dia gagal fokus saat Sean membuka bajunya dan duduk di tepi tempat tidur sambil menikmati makanan yang disajikannya.
Dan tiba-tiba,
KRUYUK
KRUYUK
KRUYUK
__ADS_1
Suara perut Ana membuat Sean menghentikan suapannya. Ana yang menyadari itu, merasa sangat malu dan hanya bisa menunduk.
"Apa kau lapar?" Tanya Sean memicingkan matanya.
"T-tidak tuan." Jawab Ana gelagapan.
"Setelah selesai dengan tugas mu, ambillah makanan didapur." Ucap Sean dan melanjutkan makanan nya. Dia tahu Ana lapar, dia juga tahu Ana berbohong padanya.
Tetapi Ana tidak mau melakukannya, dia tidak tahu niat terselubung dari kebaikan Sean itu.
Ana kembali fokus melakukan tugasnya, dia tidak mau melakukan kesalahan sedikit pun, namun ada sedikit yang membuatnya bingung. Dia berdiri dan melangkah mendekat kearah Sean dengan sebuah dokumen ditangannya. "Tuan, saya minta maaf sebelumnya, tapi, dokumen ini sedikit berbeda dari dikumen lainya. Apa yang harus saya lakukan pada dokumen ini?."
Sean pun berdiri sangat dekat dengan Ana. Mereka dapat merasakan dan mendengar tarikan nafas mereka masing-masing.
Ana merasa sulit bernapas dengan benar, matanya tidak kuat menatap lama manik imut mata Sean.
'Nafas, Ana, Nafas.' Suara hati Ana penuh sesak.
Kemudian Sean mulai menjelaskan apa yang harus Ana lakukan dengan dokumen itu. Ditengah itu, Ana malah asyik mengagumi tubuh Sean, bibir sexy menggoda, kulit putih bersih, hidung mancung, bulu mata lentik, rahang kokoh, Dan aroma tubuh Sean seakan menjadi candy Ana sampai dia menutup matanya menikmati harum nafas yang menyeruak kedalam lubang hidungnya.
"Apa kau mendengarkan ku?" Tanya Sean.
"Ha, ah, iya Tuan, saya mengerti." Jawab Ana kaget dan spontan membuka matanya.
Jantung Ana berdegup sangat kencang. Dia kembali kesofa dengan perasaan gugup. Belum sempat Ana duduk, dia dikagetkan dengan suara melengking Nyonya Altemose.
"ANA, APA YANG KAU LAKUKAN DIKAMAR PUTRAKU?"
Ana dilanda ketakutan, tak pernah terpikir olehnya akan dipergoki oleh Nyonya Altemose. "M-m-maaf, Nyonya, saya-"
"KELUAR DARI SINI SAMPAH!" Sanggah Nyonya Altemose.
Tanpa ba bi bu Ana pun bergegas keluar dengan terengah-engah. Ana merasa bersyukur karena Nyonya Altemose tidak memukulnya.
"Umm, kita punya sedikit masalah." Ucap Ana.
"Masalah apa?" Tanya Brenda.
"Aku tidak punya alat makeup yang lengkap. Um, kalau ada bedak, concealer, kuas, dan alat lainnya, aku pastikan kau akan menjadi wanita paling cantik malam ini."
"Baiklah, bukan masalah besar."
*
*
*
Ana dan Brenda pergi ke kamar yang dikhususkan untuk pelayan. Dikamar ini lah Ana akan melakukan tugas nya.
"Sekarang tersenyum lah." Ucap Ana pada Brenda saat Ana melakukan sentuhan terakhir pada wajah Brenda didepan cermin.
Memang Ana akui, sekarang Brenda jauh lebih cantik dari make-up sebelumnya. Ana merasa bangga pada dirinya sendiri.
"OMG, apa ini aku? Cantik sekali ya tuhan. Terima kasih Ana, hasilnya sangat memuaskan." Brenda merasa sangat bahagia, dia mengucapkan rasa terima kasih pada Ana dan memberikan Ana makanan karena memang perut Ana sudah keroncongan.
Ana makan dengan lahap. Seumur hidupnya baru kali ini dia mendapatkan makanan yang begitu lezat. Pelayan lain menertawa kan cara makan Ana yang nampak seperti dikejar setan, namun Ana tidak mau ambil pusing dan lebih fokus pada makanan nya.
Ana merasa sangat bahagia. Jika nanti dia pulang kerumah tidak dapat jatah makanan, dia merasa baik karena perutnya sudah terisi penuh.
Usai makan, Ana mencuci piringnya, dan dia sangat berharap tidak berjumpa dengan Nyonya Altemose lagi.
"Aku tidak mau dia memecatku, lebih baik dia memarahiku saja." Ucap Ana bermonolog.
__ADS_1
Setelah semua pekerjaan nya selesai Ana pun memilih pulang, sebelum sampai dirumahnya, Ana singgah sebentar ketempat Amy.
Ana menceritakan semua kejadian hari ini pada Amy. Hanya Amy lah tempat Ana berbagi cerita. Amy sudah seperti saudara baginya. Ana memiliki saudara perempuan tetapi kehadirannya tidak berguna.
"Begitulah cerita nya."
"Wow, amazing, dari ceritamu ini, seperti nya dia benar-benar pria yang tampan. Jangan-jangan dia menyukai mu?." Ceplos Amy kegirangan.
"APA? itu tidak mungkin, aku ini hanya gadis rendahan sendangkan dia putra miliader, kau tau maksudku, kan?"
"Yeah kau benar. Tetapi, kalau cinta yang sudah bekerja, latar belakang bukanlah sebuah masalah. Aku berharap sekali itu terjadi." Tambah Amy.
Amy pun memeluk Ana, Ana merasa senang, walau dia berpikir hal itu tidak akan terjadi, sampai dia lupa luka pada tubuhnya.
"Oh, iya, hampir saja aku lupa. Ini ku belikan obat pereda nyeri di apotek. Kamu juga tidak boleh terlalu stress." Amy memberikan sekantong obat pada Ana.
"Terima kasih sahabatku."
Mereka saling bercerita pengalaman masing-masing. Tertawa bersama melepaskan beban pikiran satu sama lain.
*
*
*
"Sudah larut, ini sudah hampir jam 10 malam. Kamu harus pulang, kalau tidak kamu bakal dihukum lagi sama orang tua kejam itu." Ucap Amy. Sebelum pergi, Ana memeluk Amy sebentar, Dan bergegas pulang.
Ana tetap merasa cemas, dia takut akan dihukum lagi. Tapi, tidak ada taksi yang lewat. Terlambat atau tidak dia sudah pasti akan dimarahi.
Sesampainya dirumah, Ana menyapa orang tuanya yang tengah berada diruang tamu. Namun yang disapa hanya diam mengabaikannya. Saat Ana hendak pergi, dia dicegat oleh ibunya. Sekarang Ana berpikir keras dimana letak kesalahan nya kali ini.
"Jadi, sekarang kau menjual tubuhmu demi mendapatkan barang mahal, ya?" Kata ibu Ana.
"Tidak bu, itu tidak benar, aku masih perawan." Jawab Ana.
Dia mengambil bantak sofa Dan memukul kanya pada Ana, "Kau pikir aku pembohong, ha?"
Ana tidak tahu harus apa, dia dituduh atas apa yang tidak dia lakukan.
"Dari mana kau mendapatkan jas mahal itu?." Tanya ayah nya ikut menimpali.
Ana menjelaskan apa yang terjadi padanya waktu itu. Putra dari bosnya yang sudah menyelamatkannya dari insiden pemerkosaan malam itu. Namun, mereka tidak percaya dengan apa yang Ana katakan.
"Putra Altemose tidak sebaik itu yang mau membantu kaum rendahan seperti mu. Kalau kamu tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, aku akan memukul mu dan kau tidur diluar malam ini."
"Ibu, aku mohon, jangan lakukan itu." Ana memohon pada ibunya, tetapi Agheta malah semakin memanasi keadaan saat itu.
*
*
*
TBC
*
*
*
Sedekah LIKE & COMMENT nya😘
__ADS_1