Majikanku Suamiku

Majikanku Suamiku
Tuduhan Palsu


__ADS_3

*


*


*


"Bu, maafkan aku bu." Ana memohon kepada ibunya, namun Aghata malah semakin memanasi ibunya.


"Kau benar-benar anak manja." Timpal Aghata.


Alhasil, Ana dipukuli oleh ibunya sementara ayahnya hanya berdiri seakan tengah menyaksikan sebuah pertunjukan.


Memar ditubuh Ana sebelumnya mulai mengeluarkan darah dengan rasa sakit yang lebih menyakitkan dari sebelumnya.


Setelah puas memukuli Ana, ibunya pun menyeret nya keluar rumah dan meyuruhnya tidur diluar.


"Kamu anak yang tidak berguna, kamu harus dikasih pelajaran. Malam ini, kamu tidur diluar, dan kembalikan jas ini secepatnya, jika tidak, aku akan menjual nya tanpa memberi mu sepeserpun."


Jas itu dilempar oleh ibunya, dengan sigap Ana menyambutnya, karena putra bosnya bilang kalau jas itu sangat mahal, itu artinya dia tidak akan mampu membayar nya jika jas itu sampai rusak.


Ditengah cuaca dingin malam itu, Ana masih berusaha menjelaskan dan meyakinkan ibunya. "Bu, tolong lah percaya padaku, aku tidak menjual tubuhku bu, apa yang aku katakan itu kebenarannya." Ana berucap sambil menangis.


Bukannya iba, ibunya justru memukuli nya lagi dengan sangat keras sampai Ana menjerit kesakitan. " Itu untuk kebohongan mu. Kau menyembunyikan uang dari ku, kau belum menerima gaji mu lalu dari mana kau mendapatkan uang, ha? Apa kekasih mu itu yang memberi mu uang atau kau mencuri dirumah ini?"


Ana hanya bisa menangis sambil menggelengkan kepalanya pertanda apa yang ibunya katakan itu tidak benar. "Tidak ada yang ku ambil dari kalian bu, tolong izinkan aku masuk, disini sangat dingin."


Entah dari mana tuduhan itu datang, tapi mereka tidak akan pernah mempercayai penjelasan Ana.


Ana mencoba memeluk ibunya, namun, Aghata mendorong nya sampai terjerambab ke lantai. Tak sampai disitu, dia juga memukul kepala Ana sehingga menyebabkan nyeri hebat pada kepalanya.


BUGH


Suara pintu ditutup keras oleh mereka berdua dan menguncinya dari dalam.


Ana duduk dilantai dan mulai menangis sambil memegangi kepalanya yang sakit.


Darah menetes dari kepalanya, Ana sungguh tidak percaya, Aghata bisa sekejam itu tanpa memiliki rasa kasihan terhadap saudaranya.


Setiap hari Ana dipukuli karena berbagai tuduhan yang tidak dia ketahui dan itu amat menyakitkan.


Dia terus bertanya-tanya apakah benar-benar putri kesayangan mereka hanya Aghata atau dia dilahirkan dan ditakdirkan hanya untuk diperlakukan seperti ini sepanjang hidupnya.


Setiap kali dia memergoki Aghata minum alkohol, dia tidak pernah menceritakannya kepada orang tuanya, tetapi Aghata tidak pernah menghargainya.


Mengapa dia tidak bisa memiliki hati yang kejam seperti mereka?


"Tuhan tolong bantuku." Ucap Ana Lirih.

__ADS_1


Ana kedinginan di luar, tubuhnya menggigil karena hawa dingin yang sangat menyengat dan dia tidak punya apa-apa untuk menutupi diri dari hawa dinginnya malam.


Ana terserang flu dan mulai bersin terus menerus. Lalu dia tidak dapat bernapas dengan benar, seolah-olah hidungnya tersumbat dan kepalanya seakan berbenturan sangat keras sehingga dia membutuhkan beberapa balok es untuk mendinginkannya.


Ana mencoba masuk dan memohon lagi, mungkin mereka akan membiarkannya masuk kali ini, tetapi lampu didalam sudah padam dan mereka pasti telah tidur.


Sungguh mereka teramat kejam, mereka menuduh yang tidak-tidak dan membiarkan Ana tidur di luar dan mati kedinginan.


Ana tiba-tiba terbayang dengan putra bosnya , dia berkata, "Tidak apa-apa, aku di sini bersamamu, istirahatlah di dadaku dan tidur lah nyenyak malam ini." Ucap Sean dan ajaibnya Ana seakan tertidur dalam pelukan nya.


Ana berharap hal itu bisa menjadi nyata tetapi dia tahu itu hanya ilusi, dia berharap bisa bersamanya tanpa sadar air matanya jatuh ditengah pejaman matanya.


BYUUUR


Seember air membasahi tubuh Ana. Dia mencoba untuk bangun dikala semua tubuh nya basah kuyup. Saat membuka mata, hal pertama yang dia lihat adalah ibunya yang menatapnya dengan murka.


"Selamat pagi Ibu." Sapa Ana yang masih menggigil.


"Dasar anak pemalas, apa yang masih kamu lakukan? Tertidur di jam segini. Pergi cuci piring dan pakaian, semua handuk dan seprai di rumah harus dicuci dengan benar, lalu pastikan setiap kamar mandi kamu


cuci sampai bersih dan jangan lupa untuk menyiapkan sarapan sebelum kamu membawa tubuh busuk mu ini bekerja."


Ana meneteskan air mata dan berkata, "Ibu tolong kasihanilah aku, aku sakit bu, aku masuk angin, tolong bawa aku ke klinik ibu, aku tidak bisa merasakan diriku sendiri."


Ibunya menggunakan ember yang dipegangnya untuk memukul Ana dengan sangat tega dan berkata, "Ku hitung dari satu sampai sepuluh, pergilah dari pandanganku dan laksanakan tugasmu sekarang juga." Katanya mulai menghitung.


Karena takut, akhirnya Ana segera bergegas masuk ke rumah untuk memulai pekerjaannya.


Setelah dia menyelesaikan semuanya, akhirnya Ana berhasil mandi dengan air hangat dan memakai baju lengan panjang yang tidak pas hanya karena dia kedinginan.


Kemudian dia membawa jas mahal itu dan meninggalkan rumah untuk bekerja.


Saat berjalan ke tempat kerja, Ana terhuyung-huyung dalam perjalanan dan kadang-kadang dia duduk di tanah untuk menenangkan dirinya dan kemudian dia mencoba berdiri lagi untuk sampai ke sana tepat waktu, "Kamu pasti bisa Ana." Ucapnya pada diri sendiri berusaha menyemangati dirinya.


Tapi tiba-tiba, matanya mulai buram dan-


BRUUKK


Ana pingsan.


*


*


*


'****'

__ADS_1


"Aku tidak punya banyak waktu, kalau tidak daddy akan murka."


Sean hampir memutuskan untuk pergi, namun sesaat kemudian, dia tidak tega meninggalkan Ana. Alhasil dia buru- buru memarkir mobilnya dan turun berlari ke arah Ana.


"Kenapa dengan gadis ini?" Sean berjongkok berusaha membangun kan Ana namun nihil Ana tidak bergerak sama sekali.


Sean menggendong Ana membawanya masuk kedalam mobilnya dan membaringkan Ana di kursi belakang.


"Apa sebenarnya yang terjadi padamu?" Sean bertanya-tanya karena sejujurnya dia sangat khawatir.


Mobil berhenti didepan rumah sakit terkenal dikota itu, Sean menggendong Ana untuk naik ke atas bangsal rumah sakit sementara dia menunggu di luar.


Salah satu perawat mendatangi Sean dan berkata, "Mohon selesaikan administrasi istri nya Tuan."


"Sorry, tapi dia bukan istriku." Bantah Sean tegas.


Perawat itu bernapas lega karena dia sendiri pun tidak akan percaya jika wanita yang dirawat itu istri dari Sean. Jelas dari segi pakaian jauh berbeda.


Satu jam kemudian, dokter memanggil Sean untuk datang ke ruangannya, "Tidak perlu khawatir tuan, istri anda baik-baik saja. Dia hanya perlu istirahat yang cukup, sebentar lagi akan segera bangun."


Panggilan sang dokter itu membuat Sean kesal, sudah dua kali orang mengatakan kalau Ana itu istrinya.


'Mengapa mereka menggunakan kata istri?'


"Tolong rawat baik-baik istri anda. Untuk sementara waktu, jangan biarkan dia bekerja terlalu berat, kurangi stress nya karena ini akan berdampak pada kesehatan mental pasien. Biarkan dia istirahat penuh, perutnya juga kosong, tolong jaga pola makanya. Luka pada tubuhnya cukup mengkhawatirkan, jika ini terus berlanjut, pasien bisa jatuh koma."


Sean hanya bisa diam, dia malu ketika dokter itu memintanya untuk merawat Ana dengan baik.


'Apa sebenarnya yang dia pikirkan sampai stress berat begini?'


Sean bertanya-tanya dengan kehidupan yang dijalani oleh Ana.


*


*


*


Setelah urusan rumah sakit selesai, Sean kembali ke mobil dan mengeluarkan handphonnya. Ternyata sudah banyak panggilan tak terjawab dari Raf.


Jelas ayah nya akan murka begitu juga dengan ibunya.


"Ana, kau harus membayar mahal ini semua.!"


*


*

__ADS_1


*


TBC😘


__ADS_2