
*
*
*
Jantung Ana berdegup kencang, dia berharap mereka tidak mengenalinya.
"Bu, mana mungkin ibu mengenalnya. Mereka berdua ini anak orang kaya di kota ini. Memangnya ibu pernah melihatnya dimana?", Kata Aghata pada ibunya.
"Entah lah, tapi wajahnya tidak asing. Tapi, kamu benar, ibu bahkan tidak memenuhi standar untuk mengenali orang kaya seperti mereka." Jawab ibu.
Ana yang mendengar perdebatan mereka ingin sekali tertawa terbahak-bahak, namun, dia hanya bisa menahan tawa itu sekuat tenaganya. Mereka gagal mengenali siapa wanita di poto itu.
'Sungguh, uang membuat identitas seseorang berubah seketika.' Pikir Ana.
'Itu baru poto, mereka sudah seribut ini, apalagi mereka tahu kalau aku lah wanita itu, bagaimana reaksi mereka.'
'Apa mereka akan percaya atau tidak. Tapi, bagaimana jika mereka memukul ku lagi?'
Ana bergidik ngeri, tanpa sadar dia tertawa yang menyebabkan Aghata dan ibunya merasa heran, "Hei bodoh, kenapa kau tertawa, apa kau mengejek ku dan putriku?"
Ana tersadar, dia berada dalam masalah lagi. Dia memukul pelan mulutnya dan berkata pelan, "Mati aku."
Ana mengubah ekspresi wajahnya, dan menghadap kearah mereka, "Tidak ibu, hanya saja aku teringat sesuatu yang lucu."
"Pergi sana, merusak mood ku saja." Ucap Aghata melemparkan sesuatu pada Ana.
Ana pun pergi ke dapur, namun samar-samar dia mendengar percakapan mereka. "Aghata, bagaimana kalau kamu ikut kakak mu bekerja dirumah Altemose?"
"Maksud ibu?" Tanya Aghata bingung.
"Begini sayang, kalau kamu bisa masuk kerumah itu, kamu bisa mendekati Sean. Tapi, kalau kamu tidak menyukai nya tidak masalah, aku dengar, dia memiliki teman yang tampan dan kaya juga." Jelas ibunya.
Ana yang mendengarnya pun terkejut, dia berharap Agatha tidak melakukan itu, dia tidak rela Sean nya dimiliki oleh Agatha. Tetapi pada saat yang sama, Ana merasa sangat bodoh saat dia tahu, dia tidak memiliki hubungan apapun dengan Sean. Jadi, siapa pun berhak memilikinya.
"Bu, aku lebih suka temannya, gayanya, dan semua yang ada padanya. Mungkin aku akan mencobanya tapi kita butuh bantuan orang dalam untuk masuk kerumah itu." Kata Aghata.
__ADS_1
Aghata dan ibunya saling tatap seakan mengerti apa yang ada dipikiran mereka satu sama lain. Ibunya pun memanggil Ana, "Ana, kemari kau.!"
Ana yang mendengar panggilan itu pun berusaha mengabaikan nya, karena dia tahu mereka sedang membutuhkan bantuannya.
"Jika dalam hitungan ketiga kau tidak datang, maka pekerjaan mu berkali lipat dari ini." Ancam ibunya.
Ana pun syok, dia sudah salah memilih keputusan, akhirnya, Ana buru-buru datang menemui mereka.
"Seperti nya, kau sudah mulai tuli ya sekarang, dengar baik-baik, aku punya tugas untuk mu, cari tahu kapan teman majikan mu itu datang dan segera beritahu kami. Paham?"
"Tapi ibu, aku bukan asistennya. Aku bahkan tidak tahu siapa temannya itu, aku juga tidak punya ponsel untuk menghubungi kalian, bagaimana bisa aku menjalankan tugas ini." Jawab Ana tanpa beban.
Ibunya berjalan mendekati Ana, dan menarik telinga kiri Ana, "Anak tidak berguna, aku tidak mau tahu, lakukan tugas ini, dan jangan pernah berpikir aku akan membelikan mu ponsel, harusnya kau malu dengan adik mu, kau sudah sebesar ini belum juga mampu membeli ponsel sendiri."
"Ba-baik lah bu, aku akan mencobanya." Ana sangat membenci hal ini, ibunya selalu memiliki cara untuk menyakiti nya.
Ana pun pergi kemarnya setelah menyelesaikan pekerjaannya.
*
*
*
Ana terduduk dilantai, dia berpikir, siapa sebenarnya wanita itu, siapa dia bagi Sean.
"Apa aku harus menanyakannya pada Sean?"
"Siapa aku bagi Sean? Apa aku lebih dari pelayannya?"
Ana masih terduduk memikirkan hal itu, rasanya dia tidak pantas bertanya demikian.
Tanpa sadar jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, Ana hampir saja berteriak namun dia segera menutup mulutnya, "Oh sial, kenapa aku bisa lupa."
Ana buru-buru berdiri dan langsung bergegas menuju dapur. Dia mencuci piring dan menyiapkan sarapan sebelum semua orang bangun.
Setelah selesai sarapan, Ana bergegas mandi, dia tidak punya cukup waktu, "Untung aku masih menyimpan uang untuk ongkos taksi." Ana cukup senang mengingat itu, namun tak berselang lama dia baru ingat kalau uang itu sudah diambil oleh ibunya. " Oh tuhan, malang kali nasib mu Ana."
__ADS_1
Tidak punya waktu untuk menangis, Ana langsung berlari dia tidak mau terlambat karena kemarin dia sudah bolos kerja.
"Ingat yang kusuruh kemarin." Kata ibunya menghentikan langkah Ana.
Ana hanya mengangguk dan langsung pergi. Ditengah perjalanan, dia sudah tidak kuat berlari lagi, dia mencari sesuatu untuk beristirahat sebentar. Nafasnya naik turun, dia harus sampai tepat waktu.
Setelah merasa cukup kuat, Ana pun kembali melanjutkan perjalanan nya, setelah sampai di gerbang kediaman Altemose, Ana duduk mencobanya mengatur napas, petugas keamanan disana merasa heran melihat Ana seperti dikejar setan.
"Minumlah nona. Anda butuh banyak tenaga sebelum mengahadapi bahaya didalam."Salah satu petugas keamanan menyodorkan sebotol air mineral pada Ana.
"Terima kasih pak." Ucap Ana dan meminumnya.
Setelah minum, Ana pun berdiri dan bertanya," Maaf pak, bahaya apa yang bapak maksud?"
"Berdoa saja nona." Jawab petuga itu.
Ana pun mengangguk bingung, dia pun melangkah masuk kedalam. Saat didepan pintu, Brenda si kepala pelayan sudah berdiri menatap nya dengan tatapan tajam, "kau beruntung karena hari ini mood ku baik. Karena make up mu kamaren kencan ku lancar, terima kasih."
Namun, bukannya lega, Ana malah merasa takut, tak berselang lama, Ana mendengar perdebatan Sean dengan Nyonya Altemose.
"Aku akan memberi pelayan itu pelajaran, gara-gara Ana, kau rela mengorbankan pertemuan penting dengan ayahmu."
Sungguh, Ana merasa dikutuk menjadi pelayan dirumah itu.
*
*
*
TBC
*
*
*
__ADS_1
Sangkyu yang udah Like n comment nya😘