
Meninggalkan atau di tinggalkan oleh orang yang kita cintai memanglah sangat sakit, bahwasanya bagaikan kehilangan separuh jiwa, itu tak dapat di pungkiri oleh semua makhluk yang bernyawa ,seperti halnya Nadia dan Rizal saat ini bagaikan burung yang kehilangan sayapnya sehingga tak bisa terbang ke angkasa,
Rizal seperti burung yang terkurung dalam sangkar, karena keadaan yang dia derita saat ini, sedangkan Nadia harus senantiasa menjaga sang buah hati,
Malam yang sepi di rasakan Nadia saat ini,
hanya sang Ibu yang menemaninya di rumah yang sangat besar, sedangkan mama Widya harus pulang berjaga karena papa Dony yang sibuk,
Owek... owek... owek.... dalam lamunan Nadia di bangunkan dede bayinya.
''Sayang kamu kenapa nangis nak, Nadia langsung menggendong putranya dari tempat tidurnya,Nadia panik karena dede nya nggak mau diam malah semakin kencang,
''Bu, Ibu, Nadia memanggil ibunya dari atas, karena ibunya tidur di kamar tamu.
Ibu yang mendengar suara Nadia langsung berlari menuju kamar atas,
''Kenapa bayi kamu ndok, kenapa dia nangis sekencang ini apa dia pup, atau mungkin minta ganti popok?
''Nadia juga nggak tau, bu, tiba tiba aja dia nangis,
''Coba sini Ibu yang periksa, Ibu langsung mengambil alih dari gendongan Nadia.
Ibu meletakkan dede di atas Kasur dan memeriksanya.
Ibu juga heran dengan popok dede yang masih kering, tapi kenapa dia nangis,
''Mungkin dia haus nak, kamu coba susui dia.
Nadia mencoba menyusui bayi nya namun sama saja, bayinya masih juga menangis,
''Ini gi mana bu, apa dede sakit ya bu ?
Ibu menempelkan tangannya di kening sang bayi,
''Nggak panas .
Terus gi mana ini bu apa aku telpon mama aja?
Bibi yang mendengar tangisan dede pun langsung naik ke lantai atas
''Dede nya kenapa non?
''Nggak tau bik tiba tiba aja dia nangis,
Semuanya jadi panik,
Akhirnya Nadia membawa ke kamarnya lagi, tak lama sang bayi akhirnya diam.
__ADS_1
Sedang di depan gerbang,
''Jalan kak, Rizal menyuruh Rafi untuk melajukan mobilnya,
Rizal sangat ingin mendengar suara putra tercintanya ,dan semua itu terbayar saat mobil yang dia tumpangi berhenti di depan rumah dan saat itu pula tangisan bayinya menggelegar dan terdengar sampai ke telinganya.
''Apa kamu lega sekarang?tanya Rafi
Rizal mengangguk.
''Terima kasih, karena kakak mau mengantarku ke sini.
''Apapun yang kamu minta pasti akan kakak penuhi selain minta rembulan ya?
Rizal tersenyum dengan ucapan kakaknya.
''Nah, gitu dong kamu sekali sekali harus senyum jangan sedih terus,
''Kak aku takut ,kalau pengobatanku ini gagal,
''Jangan berfikir negatif, berfikirlah positif, kami semua di sini mendukungmu, kamu nggak ingat gi mana perjuangan Deny untukmu, dia rela menjauh dari lilis hanya untuk menjagamu, dia rela siang malam pergi ke rumah sakit hanya untuk memastikan keadaanmu, kamu nggak boleh membuat perjuangan kita semua sia sia Zal,kamu ingat kan kamu pernah menjanjikan hal yang seumur hidup belum kamu lakukan pada orang yang kamu cintai.
Rizak mengangguk.
''Apa itu kakak pingin dengar ?
'' Nah setahun lagi dia akan sarjana karena di kampus dia adalah mahasiswi yang berprestasi, dan itu hanya tinggal satu tahun lagi, dan itu waktu yang sangat cepat, mulai sekarang kamu harus lebih semangat lagi untuk kesembuhan kamu .
''Baiklah aku akan selalu makan banyak dan aktif melakukan kemo.
Karena Rizal terkadang tak mau di kemo itu membuat Rafi merasa geram.
Sedang di kamar Nadia merasa heran dengan bayinya yang tiba tiba nangis dan sekarang malah senyum senyum sendiri,
''Kamu kenapa nak, kok tadi nangis, apa ada yang memgganggu, hemmm, Nadia sambil menoel noel pipi putranya yang gembul.
''Apa kamu kangen sama papa?kamu yang sabar ya, pasti nanti papa pulang, sekarang kamu tidur yang nyenyak ya.
Tak butuh waktu lama akhirnya bayi Nadia tidur dan beralih ke dunia mimpi.
Di pagi hari seperti hari hari biasanya....
Rafi berangkat ke kantor sedangkan Deny berangkat ke rumah sakit untuk menjaga Rizal, sedangkan sang bibi berjaga malam dan siang pulang ke rumah papa Dony untuk memasak.
Hari ini mama Widya ikut menjenguk putranya di rumah sakit bersama sang bibi mengantar makanan,
Sampai di kamar Rizal mama langsung menghampiri putranya yang terbaring,
__ADS_1
Sangat berbeda, Rizal yang gagah, tampan, coll, bahkan selalu berpenampilan perfect, kini menjadi kurus dan tak berdaya
Mama Widya menangis di depan Rizal, Rizal yang menyadari langsung menggenggam tangan mamanya.
''Mama kenapa nangis, aku nggak apa apa kok ma, aku akan segera sembuh, mama jangan sedih lagi, maafkan Rizal yang selalu membuat mama khawatir ini bukan kemauan Rizal ma, kalau boleh memilih Rizal lebih baik seperti kak Rafi yang harus berjauhan dari mama tapi sehat.
''Jangan bicara begitu Zal, kamu anak mama, kak Rafi juga anak mama, dan mama sangat menyayangi kalian berdua, mama tidak pernah membedakan, hanya saja mama tau, kamu itu mempunyai kelemahan yang nggak tbisa kamu duga, hanya mama yang tau bahwa ini akan terjadi sama kamu, dari itu mama nggak mau melepaskan kamu, dan mama cepat menyuruhmu menikah, biar kamu itu cepat mempunyai keturunan, dan kamu sudah mengabulkan permintaan mama, terima kasih sayang, apa kamu tau bayi kamu sangat lucu sekali dan dia itu mirip sekali sama kamu.
Rizal mengangguk.
''Dari mana kamu tau?
Rizal menunjukkan sebuah ponsel yang terhubung dengan cctv.
''Siapa yang memasang ini?
''Kak Rafi,saat Nadia di rumah sakit.
''Wah kalian benar benar anak mama yang brillian ide kalian benar benar bagus.
''Tadi malam kak Rafi juga mengantarku ke rumah ma, dan aku mendengarkan suara tangis bayiku.
''Beneran?
''Heem, oh iya ma, siapa nama bayiku.
''Kamu panggil saja dede, karena Nadia nggak mau kasih nama, dia nungguin kamu, makanya kamu cepat sembuh.
Bahkan sampai nama anak kita saja kamu menungguku sayang, baiklah aku akan mempersiapkan nama untuk bayi kita, batin Rizal.
''Sekarang kamu makan dulu,bik Sri udah masakin buat kamu,
Mama Widya membantu Rizal untuk bangun,
Di kantor... Rafi melakukan aktifitasnya seperti hari hari sebelumnya, namun beda dengan hari ini setelah penawaran Rafi kepada Alea, kini Alea mau menjadi sektetarisnya,
Taksi yang Alea tumpangi berhenti di depan perusahaan Rafi,
Alea langsung masuk dan menanyakan pada staf di mana ruangan Rafi.
''Cantik ya, siapa dia, apa klien pak Rafi, atau jangan jangan pacar pak Rafi, Karyawan
''Mungkin aja sih pacarnya, sangat serasi pak Rafi tampan dan cewek itu sangat cantik,
''Eh, tapi ngomong ngomong, kok bajunya formal gitu, seperti mau kerja aja,
''Haisss... sudahlah nanti juga kita akan tau,
__ADS_1