
Sedang di rumah sakit, Rizal sangat panik saat melihat ponsel yang terhubung dengan cctv nya, Rizal berteriak memanggil Deny, Seperti orang yang sudah kehilangan akal, tak memperdulikan apa pun itu keadaannya.
Karena Rizal tak menemukan anak dan istrinya di rumah, di dalam cctv hanya ada gambaran bibik satpam maupun pak supir.
''Den, tolong aku ingin pulang cepat,aku takut terjadi apa apa dengan istri dan anakku,
''Kamu tenang dulu Zal, coba sini aku lihat dulu.
Akhirnya dengan inisiatifnya Deny memutar ulang kejadian di rumah dengan ponsel,dan terlihat Nadia menggendong dede sedang naik mobil bersama pak Supir.
''Zal, coba kamu lihat deh, ini kan Nadia dia pergi dengan pak supir,
''Terus kenapa sekarang supirnya di rumah Den, dan Nadia pergi ke mana?
''Aku juga nggak tau, bentar deh, aku telpon kak Rafi dulu.
Panjang umur, sebelum Deny menekan ponselnya Rafi sudah membuka pintu dari luar.
Rafi yang melihat sang adik dengan muka panik langsung bertanya .
''Kamu kenapa Zal, apa yang terjadi? tanya Rafi.
''Nadia nggak ada di rumah kak, dia pergi dan sampai sekarang belum pulang, aku takut terjadi apa apa sama mereka.
Rafi tersenyum kecil dan mendekati Rizal.
''Kamu nggak usah khawatir, Nadia lagi nginep di rumah mama, tadi sore Nadia ke rumah, terus pas mau pulang di larang papa, jadinya dia nginep bersama dede..
''Apa, jadi Nadia ke rumah papa, apa kakak bertemu dia?
Rafi mengangguk.
''Apa dia menanyakan aku?
Rafi mengangguk lagi.
''Terus kakak bilang yang sebenarnya kalau aku di sini.
Rafi menggeleng.
''Zal, kakak nggak akan mengatakannya pada Nadia, kalau itu memang keinginan kamu, tapi kakak juga kasihan sama dia Zal, Nadia terlihat sangat menderita ,apa nggak sebaiknya kamu jujur saja. pinta Rafi.
''Jangan kak aku mohon, kakak nggak akan tau gi mana isi hatiku, aku pun juga menderita dengan keadaan ini, tapi aku nggak mau kalau dia sampai melihatku dalam keadaan seperti ini.
''Baiklah kalau gitu, kamu nggak usah khawatir lagi, karena Nadia nggak apa apa.
__ADS_1
Sedang di rumah besar papa Doni, Nadia masih mempunyai banyak tanya dalam hatinya tentang ucapan papa Doni yang kangen dengan dede.
Saat makan malam pun tak ada yang bersuara.
Sampai selesai pun papa Doni langsung ke kamarnya sedangkan mama Widya beralih ke ruang keluarga nonton tv.
''Nadia berjalan menghampiri mama nya.
Hai, Nad dede nya mana? tanya mama Widya.
''Sudah tidur ma,
Apa aku harus tanyakan sama mama, atau aku diam saja siapa tau mama bawa dedeknya jalan jalan saja, udahlah biarin aja dari pada nanti mama tersinggung. batin Nadoa.
Akhrinya Nadia mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada sang mama.
Setelah cukup lama Nadia menenani sang mama, kini Nadia pamit untuk ke kamar.
Sesampainya di kamar Nadia melihat dede yang sedang tidur, kemudian mencium kedua pipi gembulnya.
Nadia keluar menuju balkon kamarnya.
Nadia memandang langit yang begitu gelap dan kosong, tak ada satu bintang pun yang nampak, bulan pun juga tak nampak, seperti mengisyaratkan isi hatinya saat ini ,bahwasanya hati Nadia saat ini sangatlah kosong sejak kepergian sang suami.
Dan malam ini Nadia hanya bisa mengingat moment moment nya saat masih tinggal di rumah Papa Doni.
Mas,apa kamu masih ingat saat kamu mengucapkan janji kamu di kamar ini, dan apa kamu masih ingat bahwa kamu akan berada si sampingku selamanya, kenapa kamu sekarang mengingkari janjimu mas, sekarang aku harus gi mana melanjutkan hidupku tanpa kamu, aku masih membutuhkan kamu, batin Nadia,
Nadia tak kuasa menahan air matanya, Nadia menangis,tak ada seorang pun yang tau, apa yang di rasakan Nadia saat ini,
Malam yang semakin larut membuat udara semakin dingin, Nadia segera masuk dan menutup pintu.
Nadia merebahkan badannya di samping dede
Malam yang sangat panjang di lalui Nadia, Nadia beralih ke dunia mimpi,
Keesokan harinya... Nadia bangun pagi sekali dan menghampiri bibik di dapur.
''Bik, apa pak supir sudah bangun?
''Sudah non,emang kenapa?
''Bik, aku mau pulang, ini kan hari pertamaku magang, aku nggak mau terlambat.
''Tapi non, ini kan masih pagi sekali, apa nggak sebaiknya non nungguin tuan dan nyonya keluar dulu.
__ADS_1
Nadia bingung, pasalnya dia harus mengurus dede dulu, baru berangkat magang.
Tak lama Mama Widya keluar dari kamarnya bersama papa Doni.
''Loh, Nad kamu kenapa kok lelihatannya bingung.
''Ma, ini kan hari pertamaku praktik, aku takut telat, gi mana kalau aku pulang sekarang.
''Nad, nanti kamu pergi dari sini aja, biar dede mama yang urus .
''Tapi ma, aku nggak mau mama kerepotan gara gara aku .
''Nad, kamu itu menantu di rumah ini dan dede adalah cucu mama, jadi serepot apapun mama akan menjaga kalian.
''Terima kasih ya ma, mama memang sangat baik, Nadia sambil menghampiri mama Widya dan memeluknya.
Nadia berlalu ke kamarnya untuk bersiap siap,
Setelah selesai, Nadia menghampiri dede yang masih memejamkan matanya .
''Dede nya mama, mama tinggal dulu ya, dede sama oma dulu, pasti nanti mama pulangnya cepet kok, dede nggak boleh rewel dan nggak boleh nyusahin oma. Nadia berbicara di dekat telinga dede.
Nadia keluar dari kamar dan berlalu ke meja makan.
''Nad, kamu biar di antar supir, nanti papa naik mobil sendiri. papa Dony.
Nadia hanya mengangguk.
Nadia segera pergi ke salah satu rumah sakit tempatnya praktik.
Tiba di rumah sakit Nadia segera melakukan apa yang di perintahkan oleh senior, karena hanya itu tugas praktik, pasalnya Nadia sangat antusias melakukannya demi mendapat nilai yang maksimal dan segera menyelesaikan nya dengan baik.
Sedang di rumah sakit lain Rizal masih saja susah makan, padahal bik Sri sudah memasak kesukaannya.
Kesehatan Rizal semakin menurun dan badannya yang semakin kurus membuat Rafi dan yang lain semakin khawatir.
Tapi Rafi tak pernah berhenti untuk menyemangati sang adik.
Terkadang Rafi hanya menangis sendiri di belakang Rizal,
Rafi mengelus kepala Rizal yang mulai botak.
''Zal, kamu harus semangat,apa perlu kakak bawa Nadia kesini, kakak takut kamu kenapa napa, mungkin dengan kehadiran Nadia kamu lebih semangat lagi.
Rizal masih menggeleng.
__ADS_1
''Terus kakak harus ngapain supaya kamu nurut, kakak nggak mau terjadi apa apa sama kamu, kami semua sayang sama kamu. kak Rafi menegaskan.
Kakak tenang saja Rizal baik baik saja kok. kata Rizal.