Majikanku Suamiku

Majikanku Suamiku
Episode 76


__ADS_3

Nadia sedang di sibukkan sang buah hati yang mulai rewel,


''Anak mama mau apa sih ,kenapa nggak mau sama nenek, apa mau jalan jalan?


Nadia sambil menggendong Juan.


Bukan diam malah nangis, Rizal yang mendengar Juan menangis langsung keluar.


''Juan kenapa sayang, kenapa dia nangis ?


''Nggak tau nih mas, nggak biasanya dia begini,


Rizal yang melihat anaknya sedang merengek langsung mengulurkan kedua tangannya.


Benar saja, Juan langsung diam dan meraih tangan Rizal.


''Oh... jadi ceritanya mau ikut papa, kenapa nggak bilang dari tadi,


''Juan kangen ya sama papa?


''Iya, kan udah lama papa nggak gendong


Juan, jawab Nadia dengan suara anak kecil.


Tak lama dalam gendongannya, akhirnya Juan tertidur pulas.


Nadia yang sibuk di dapur sambil melihat suami yang sedang menggendong anaknya.


Akhirnya sekarang kamu sudah bisa tersenyum lagi mas ,Aku berharap kepahitan hidup yang kita alami cukup sampai di sini ,dan aku berharap semoga kita bahagia untuk selamanya.


Nadia menghampiri sang suami yang duduk di ruang tamu sambil menggendong Juan. mas, sini Juannya. Nadia mengambil alih Juan dan menidurkannya di tempat tidur.


Rizal mengikuti sang istri yang masuk kamar


Dengan tiba tiba Rizal memeluknya dari belakang.


Nadia yang merasakan tangan di perutnya langsung memutar badannya.


Nadia tersenyum dan mempererat pelukannya.


''Mas kangen saat kita lagi berduaan seperti ini, diamlah seperti ini untuk beberapa waktu.


Akhirnya Nadia hanya diam di pelukan sang suami.


Lama sekali mereka berpelukan sampai sang Ibu mengetuk pintu karena waktunya sarapan.


Tok... tok.. tok....


Sura ketukan pintu membuyarkan pelukan Nadia dan Rizal.


Nadia melepaskan pelukannya dan berjalan menuju pintu.


''Ada apa Bu,


''Kalian kan belum sarapan, nanti kesiangan


Suami kamu kan harus minum obat.


Nadia mengangguk dan menghampiri suaminya.

__ADS_1


''Mas, Ibu memanggil menyuruh kita makan.


Rizal hanya menjawab dengan anggukkan.


Saat di meja makan, semua makan dengan tenang tak ada yang bersuara.


Setelah selesai Nadia langsung menyiapkan obat untuk suamainya,


Ibu Lela mendekati Rizal dan duduk di samping nya.


''Apa kamu lebih merasa sehat Nak? tanya Bu Lela kepada Rizal.


Rizal hanya mengangguk dan diam tanpa menjawab.


''Nggak usah sungkan, anggap saja Ibu seperti mama kamu sendiri.


Rizal langsung memeluk Bu Lela dengan erat.


''Maafkan Rizal Bu, Rizal sakit dan jadi begini, Rizal nggak bisa menjaga anak Ibu sepenuhnya,Rizal sekarang hanyalah orang yang lemah dan tak bisa berbuat apa apa, Rizal hanya menjadi beban anak Ibu ,Rizal menangis di pelukan sang mertua.


''Rizal, dengarkan Ibu, kamu nggak boleh ngomong kaya gitu, kalian ini suami istri, dan sudah sepatutnya Nadia merawat kamu saat kamu lagi sakit, begitu pun sebaliknya,


''Ibu nggak mau dengar kamu ngomong kayak gitu lagi, kamu adalah suami terhebat dan kamu menantu yang sudah berbakti,


''Ini hanya ujian untuk cinta kalian ,Allah menguji bukan pada sembarang orang nak,


melainkan pada orang yang tertentu. kalau kalian mendapat ujian sebesar ini berarti Allah itu sayang sama kalian,


''Jangan pernah menyesali apa yang terjadi, dan Ibu akan doakan semoga kamu cepat sembuh dan bisa menjaga anak Ibu seperti sebelumnya,


Nadia yang melihat suaminya terisak langsung menghampiri dan memeluknya dari belakang.


Rizal meemegang kedua tangan perempuan yang di sampingnya.


''Ibu terima kasih sudah mempercayakan aku untuk menjaga Putri Ibu, aku berjanji, nggak akan menyusahkannya lagi,


''Sayang terima kasih atas pengorbananmu selama ini, Rizal sambil memeluk Nadia.


''Mas, jangan nangis lagi dong, aku ikut nangis nih.


Pak, lihatlah anak dan menantumu, mereka sangat bahagia, dan semoga kamu juga bahagia di alam sana batin bu Lela.


Bu Lela tersenyum melihat anak dan menantunya saling berpelukan,


Suara ponsel membuyarkan semuanya


Ternyata dari orang suruhan Rizal yang menanyakan alamat Nadia.


Akhirnya Rizal mengirim lokasi rumah Nadia.


Rizal keluar dari rumah dan mondar mandir di depan rumah sambil melihat ponselnya.


''Mas kenapa sih, memang tadi telpon dari siapa?


Bukan memjawab malah tersenyum.


Nadia sedikit jengkel dengan suaminya.


Akhirnya Nadia duduk di kursi teras rumahnya.

__ADS_1


Beberapa mobil truk datang membawa peralatan dan beberapa kuli, dan berhenti di depan rumah Nadia.


Nadia yang melihatnya pun mengernyitkan dahinya.


Sedangkan Rizal menghampiri Truk yang datang.


Semuanya turun dan menurunkan semua apa yang ada di dalam truk.


Nadia semakin bingung dengan kelakuan suaminya kali ini,Nadia berjalan mendekati suaminya yang berdiri di depan truk truk itu.


''Mas, semua ini bahan untuk apa, kok banyak banget?


''Sayang kamu lupa, kemarin kamu mau membuat apa di kampung ini?


Nadia berfikir sejenak mengingat kembali apa yang di bicarakan dengan sang suami.


Klinik... ya kemarin kan aku cerita mau membuat klinik di kampung ini, apa semua bahan ini untuk klinik, Batin Nadia.


Nadia membulatkan matanya melihat sang suami.


''Jangan melotot gitu, mas kan jadi takut.


''Ya Allah mas, ini beneran Aku nggak mimpi kan?


''Apa mau mas cubit?


Nadia menggeleng.


Nadia memeluk suaminya tanpa rasa malu pada sekelilingnya,


Nadia kegirangan sampai lupa kalau dia sedang berada di depan umum.


''Sayang lepasin dulu, mas malu di lihatin orang ,nanti aja ya mesra mesranya di kamar ,bisik Rizal di telinga Nadia.


Nadia yang mendengar bisikan itu dengan sontak langsung melepaskan pelukannya.


''Maaf, saking senangnya aku sampai lupa, Nadia sambil garuk garuk kepala.


''Nggak papa, nanti kita ulangi lagi ya, yang seperti tadi, bisik Rizal sambil menggoda.


Muka Nadia langsung memerah saat mendengar godaan sang suami.


Ibu mertua yang ikut penasaran pun langsung menghampiri anak dan menantunya.


''Ini ada apa Nak, kok semua bahan ini di turunin di sini.


''Sebelumnya Rizal minta maaf, karena tidak memberi tau Ibu dulu, Rizal akan membangun rumah sakit di sini, tepatnya di pekarangan rumah Ibu, apa Ibu mengizinkannya?, kalau tidak, biar Rizal cari tanah yang lain aja?


Sang mertua menggeleng.


''Ibu sangat bangga sama kamu Nak, kamu baik sekali, Ibu nggak bisa berkata apa apa selain terima kasih karena sudah peduli dengan kampung ini.


Sang Ibu menangis ,mengingat sang suami yang meninggal karena tak bisa mendapatkan pengobatan, karena tak ada satu pun klinik atau dokter di kampungnya.


Ibu pasti ingat kematian ayah, dan semoga dengan adanya rumah sakit yang akan di bangun mas Rizal ,nggak ada lagi kejadian seperti yang menimpa ayah. Nadia ikut menangis.


Nadia menghampiri dan memeluk Ibunya.


''Ibu yang sabar ya ,Nadia tau kok apa yang sedang Ibu pikirkan saat ini.

__ADS_1


''Saat ini pasti Ayah sudah tenang di alam sana, dan pasti Beliau sangat bangga punya menantu seperti mas rizal.


__ADS_2