Majikanku Suamiku

Majikanku Suamiku
Episode 110


__ADS_3

Rizal mempersiapkan baju ke dalam koper besar, setelah selesai Rizal kembali beralih ke sang istri yang masih dengan pandangan kosongnya.


''Sayang, kenapa kamu belum siap, Rizal melihat Nadia masih duduk di ranjang,


Rizal menghampirinya dan mencium bibir mungilnya kilat.


Nadia menghela nafas panjang dan memajukan bibirnya.


''Sebenarnya ada apa sih mas, kenapa kita ke rumahnya Ibu mendadak? ''tanya Nadia malas.


''Hai, apa kamu nggak pingin ke rumahnya Ibu?''


''Pingin, tapi beneran kan nggak ada apa apa?''tanya Nadia sedikit curiga.


Rizal menggeleng ''Cepat kamu ke kamar mandi!''


Nadia dengan malasnya berjalan menuju kamar mandi' bukan maksud Nadia malas ke rumah sang Ibu, tapi Nadia malas, karena tidak mengetahui alasan dari sang suami.


Setelah Rizal dan Nadia siap, mereka turun dan pamit kepada kedua orang tuanya serta kak Rafi.


''Kalian hati hati ya di jalan,maaf papa dan mama nggak bisa ikut bersama kalian, kamu lihat sendiri kan keadaan papa baru pulih.


''Iya ma, lagian kan kita cuma main, dan papa kan baru sembuh kami hanya minta doa nya saja. jawab Nadia bodoh, sedangkan Rizal hanya tersenyum kecil dari belakang istrinya.


''Zal, tetap bawa pengawal, dan kalian hati hati.


''Ingat, jaga ponakan om yang ganteng ini, Rafi sambil menggendong Juan.


''Iya,pokoknya Rizal akan menjaga barang barang Rizal yang berharga ini, ucapan Rizal langsung mendapat pukulan di lengannya yang membuatnya meringis kesakitan .


''Kenapa mas di pukul, apa kesalahan mas?''Rizal pura pura lupa dengan kata katanya.


''Kita bukan barang, kita manusia, ucap Nadia lantang,


''Memang mas tadi bilang barang?''


Nadia mengangguk, membuat semuanya tertawa,


''Sudah, kalau kalian bercanda terus kapan berangkatnya, nanti kesiangan, ucap papa Doni, membuat Nadia dan rizal berlalu .

__ADS_1


Di dalam mobil hanya ocehan Nadia dan Rizal yang terdengar, sedangkan si gendut Juan sedang tidur,


''Begini nih kalau punya istri rumahnya kampung, mau ke rumah mertua aja, perjalanan beberapa jam, bikin capek, gerutu Rizal


''Kenapa mas begitu, mas nggak suka punya mertua rumahnya kampung?''


''Ya jelas nggak suka lah, kamu tau apa tujuan mas ke kampung?''Rizal mulai meninggikan suaranya.


Nadia menggeleng mendengar suara Rizal yang sedikit mengeras,


''Mas, itu mau mulangin kamu, jadi mulai sekarang dan nanti kamu akan tinggal di kampung,kamu itu terlalu enakan tinggal di rumah mewah. ucapan Rizal membuat Nadia tak bisa membendung air matanya.


Nadia menangis sesenggukan.


Pantas saja mas Rizal tidak mengatakan alasannya, jadi ini maksud mas Rizal ke kampung, kenapa harus saat ini, di saat cintaku begitu besar untukmu, kenapa nggak dari dulu, sebelum kita mempunyai Juan, dalam hati Nadia,


Air mata yang bodoh itu ikut meratapi nasib Nadia.


''Tidak usah menangis,aku jadi risih duduk dengan orang yang lemah, ucap Rizal dengan nada ketusnya.


Nadia menyeka air matanya yang membasahi pipinya yang mulus, dan tak bisa berkata apa apa,


''Kenapa kamu diam, apa kamu nggak ngucapin selamat tinggal pada pak Eko?''


''Perang tenan iki, keno opo, aku di gowo gowo, opo salahku, batin pak Eko.


Karena pak Eko pun tak pernah melihat tuan mudanya itu bersuara keras, apa lagi berantem dengan sang istri.


Tapi pak Eko hanyalah supir dan tak bisa berbuat apa apa.


''Apa mas serius mau ninggalin aku di kampung,? ''tanya Nadia seakan bukan Iya, yang dia harapkan jawaban dari mulut Rizal.


Rizal mengangguk, dan melihat ke arah jendela membuat Nadia semakin terisak.


''Kamu bisa diam nggak, berisik, ucapan Rizal membuat pak Eko membelalakkan matanya .


Jadi begini, saat tuan Rizal sedang marah, pak Eko hanya bisa bersuara dalam hati.


Pak Eko menelan ludahnya dengan susah payah,

__ADS_1


''Mas, kenapa sih, kalau mas marah terus mendingan turunin aku di sini, ucap Nadia sedikit membentak.


''Kalau aku turunin kamu disini, apa nanti kata mama dan papa, aku nggak mau di salahin gara gara ninggalin cucu dan menantunya di jalanan,


''Ya udah, kalau gitu mas jangan marah marah, aku kan jadi sedih, lagian dulu siapa sih yang mau nikah duluan, aku memang seorang pembantu, tidak cocok menjadi nyonya Rizal yang kaya raya, aku gadis kampung, jadi nggak perlu mas ucapin lagi, aku juga masih tau diri, selama ini aku nggak pernah minta apa apa dari mas, kecuali cinta dan biaya kuliah, aku nggak pernah minta mobil, dan yang lain, mas kawin pun aku terima dengan apa yang mas kasih, dan mas harus ingat juga, semua yang mas kasih masih utuh, jadi kalau mas mau marah itu salah, cukup mengembalikan putri Bu Lela kerumahnya.


Nadia meluapkan uneg unegnya di dalam hati yang dari tadi di pendamnya, kedengarannya sih ngelantur, tapi entah lah itu yang terlintas dalam otak pendek Nadia.


Rizal hanya mendengar ucapan Nadia yang tersulut emosi karena ulahnya,


Setelah beberapa jam perjalanan ,mobil Rizal kini sudah mulai memasuki kampung Nadia.


Di kampung ini aku di lahirkan, dan di kampung ini aku di besarkan, apa di kampung ini juga aku akan menua, kenapa semuanya jadi begini, apa mas Rizal memang sudah nggak mencintaiku lagi, sampai dia tega mengantarku pulang, Batin Nadia sambil melirik Rizal yang masih melihat ke arah jendela.


''Mas, apa kamu serius dengan ucapan kamu, apa kamu nggak mau memberi aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semua kesalahan aku,kalau aku ada salah ,tolonglah mas kasih tau, di mana, supaya aku bisa lebih baik lagi, bukan aku mengemis cinta dari mas, apa mas nggak kasihan sama Juan, kalau dia kehilangan sosok ayah, apa jadinya? '' sambil memegang tangan Rizal.


Rizal hanya diam tak menjawab pertanyaan Nadia sedikit pun,


Hingga kini mobil Rizal tiba di depan Rumah Nadia,


Tanpa pikir panjang ,Nadia berlari ke dalam rumah sang Ibu,


Ibu yang melihat Nadia menangis pun langsung menghampirinya, namun sayang Nadia hanya menyerahkan Juan dan mengunci pintu kamarnya,


Sedangkan Rizal masih saja duduk di dalam mobil bersama pak Eko.


''Tuan muda ndak turun? tanya pak Eko sedikit ragu.


Rizal menggeleng, dan kini Rizal melihat pak Eko dari kaca spion.


''Pak, apa tadi kata kataku terlalu kasar untuk Nadia?'' tanya Rizal santai,


Halah, kok, takok, tak kawab piye


iki, aku bingung, batin pak Eko


Pak Eko sambil garuk garuk kepalanya yang tidak gatal .


''Jawab saja yang jujur pak. ?''

__ADS_1


''Inggih, tuan muda, anda sangat kasar membentak dan mengatai Nona Nadia, jawab Pak Eko dengan mulut yang sedikit gemetar,.


Rizal menghela nafas panjang mendengar semua perkataan pak Eko.


__ADS_2