Mendadak Menikahi Paman Mantanku

Mendadak Menikahi Paman Mantanku
Bab 101 : Belanja perlengkapan baby


__ADS_3

1 ... 2 ...


" Sepertinya gak jadi,"goda Zada yang membuat semua orang berteriak kesal. Lagi dan lagi,Zada membuat orang penasaran dan menunggu gender baby twins.


" Za, jangan lama-lama! Nggak sabar nih!"teriak Reya yang sudah sangat penasaran. Pasalnya, Zada tak mau memberitahunya apa gender baby twins.


Zada dan Geva,tersenyum dan saling memberi kode. Kemudian ...


Dor! Dor!


Akhirnya, kedua balon itu meletus juga dan memperlihatkan balon kecil berwarna biru dan pink yang artinya...


" We are baby girl and baby boy ..."teriak Zada dengan raut bahagia. Sementara Geva terlihat terkejut karena sebelumnya ia hanya tahu gender satu anak saja. Sedangkan gender anak satunya tak terlihat saat USG tapi terdeteksi saat melakukan test NIPT atau Non-Invasive Prenatal Test. Dan test ini memang jauh lebih akurat dari pemeriksaan USG.


" Boy and girl?"ulang Geva untuk memastikan.


Zada mengangguk,membuat kebahagiaan Geva berlipat-lipat ganda. Geva langsung memeluk Zada dengan perasaan yang tak bisa di ungkapkan lagi melalui kata-kata. Sebenarnya, Geva tak terlalu memperdulikan apa gender anaknya nanti, asal mereka bisa lahir dengan sehat dan selamat itu sudah lebih dari cukup. Akan tetapi, saat tahu mereka sepasang tentu saja sangat senang.


Tak hanya Geva, semua tamu yang menyukai Geva tentu saja ikut terlihat sangat bahagia saat mendengar Zada mengatakan kalau bayi mereka adalah kembar sepasang.Apalagi Mama Jianying, beliau terlihat sangat bahagia saat tahu akan mendapatkan cucu laki-laki dan perempuan sekaligus.


Sementara Eshika,Tabitha dan Fennita terlihat sedikit kesal saat tahu Geva memiliki anak laki-laki. Itu pertanda bahwa penerus pewaris keluarga Nuraga sudah jelas siapa pemiliknya. Tak hanya tiga kakak beradik itu yang tak senang dengan kabar ini,tapi ada satu orang lagi yang bersembunyi di balik tembok.


Tangannya terlihat mengepal, kedua matanya menyipit, ada rasa kebencian yang cukup mendalam saat melihat kebahagiaan Geva dan Zada. Setelahnya, ia langsung pergi begitu saja karena tak mau terlalu lama menyaksikan kebahagiaan mereka.


" Sayang, ada apa?"tanya Zada ketika melihat Geva yang kembali terlihat celingukan ke arah pintu keluar.


" Gapapa kok,"dusta Geva yang tak ingin membuat Zada terlalu banyak berfikir.


...***...


Keesokan harinya, Geva sudah pergi ke kantor pagi-pagi karena ada rapat penting yang harus ia hadiri. Sementara Zada hanya istirahat di rumah saja seperti biasanya.


" Pinggangku mudah sekali sakit sih,"gumam Zada seraya memegangi Pinggangnya yang memang sering sakit saat hamil.


Baru saja Zada membuka pintu kulkas untuk mengambil buah-buahan,tiba-tiba terdengar suara bell pintu berbunyi.

__ADS_1


" Siapa yang datang?"gumam Zada yang merasa sedang tidak membuat janji dengan siapapun. Mendengar bell pintu yang kembali berbunyi,membuat Zada pun berjalan pergi.


" Sebentar...," teriak Zada seraya berjalan sambil memegangi pinggang dan perutnya yang sangat besar.


" Mama ...,"lirih Zasa saat tahu siapa yang datang.


Mama Jianying tersenyum lebar. " Kamu sibuk,Za?"tanya Mama Jianying seraya berjalan masuk ke dalam rumah.


" Gak sih,Ma. Ada apa?"


" Mama mau ajak kamu jalan-jalan beli perlengkapan baby twins,bisa?"tanya Mama Jianying dengan mata berbinar. Sejak beberapa bulan yang lalu, dia sudah sangat pengen sekali membeli perlengkapan bayi tapi di tahan mengingat usia kandungan Zada belum genap tujuh bulan. Berhubung sekarang sudah dan tahu apa gender mereka, membuatnya semakin tak sabar untuk menahannya lagi.


" Em ... bisa sih,Ma. Kalau gitu, Zada ganti baju dulu,ya."


Mama Jianying mengangguk, sementara Zada berjalan pergi menuju kamarnya untuk mengganti pakaian.


...***...


Ketika sudah memasuki mall, tujuan utama menantu dan mertua perempuan itu adalah toko perlengkapan bayi. Melihat begitu banyak barang-barang bayi yang menggemaskan, membuat kedua wanita itu kalap.


Bahkan, mereka tak hanya masuk ke satu toko saja. Melainkan,beberapa toko merek pakaian mahal pun mereka kunjungi.


" Ma, apakah tidak terlalu mahal untuk baju anak bayi,"komentar Zada saat melihat berapa harga baju itu. Walau sudah menjadi Nyonya Nuraga, Zada masih saja terlalu sayang jika membeli barang-barang dengan harga fantastis. Apalagi, anak bayi itu cepat sekali besar. Jadi, kemungkinan pakaian-pakaian mahal itu tak di pakai terlalu lama.


" Tidak ada yang mahal untuk cucu kesayangan Mama," jawab Mama Jianying santai. Walau masih berada di dalam kandungan,kasih sayang Mama Jianying terhadap twins memang terlihat begitu jelas.


" Za, kamu kalau lelah duduk di kursi roda saja,"ujar Mama Jianying seraya menunjuk kursi roda yang sudah ia siapkan untuk Zada. Pasalnya,tubuh wanita hamil besar itu mudah sekali merasa lelah.


" Gapapa,Ma. Zada masih kuat kok!"tolak Zada yang tak mau terlihat lemah. Namun,Mama Jianying tetap memaksa saat melihat wajah Zada yang mulai memucat.


" Tidak perlu merasa malu untuk duduk di kursi roda walau bukanlah tuna daksa. Apalagi sampai mencoba untuk tetap terlihat kuat di saat tubuh sudah mulai lelah. Ingat, kamu sedang hamil, tidak boleh terlalu kelelahan,"nasehat Mama Jianying yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Zada.


Selesai berbelanja,dan makan siang bersama. Mama Jianying langsung mengantarkan Zada pulang ke rumah.


Sepeninggal Mama Jianying, Zada langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.

__ADS_1


" Melelahkan sekali ...,"lirih Zada yang merasa tubuhnya sangat pegal-pegal. Padahal, di lertengah perjalanan berbelanja dia sudah memakai kurai roda tapi kenapa masih begitu melelahkan? Tanpa berlama-lama, Zada pun langsung tertidur pulas.


...***...


Di sebuah ruangan yang sangat luas,terlihat dua orang pria yang tengah sibuk memikirkan bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah yang tengah menimpa Nuraga grup. Baru kemarin kebahagian tak terhingga menghampirinya,tapi sekarang... masalah besar pun ikut datang.


" Bos, ada satu perusahaan yang bersedia bertemu,"kata Fattan seusai menghubungi beberapa perusahaan untuk membicarakan soal kerja sama.


" Perusahaan mana?"tanya Geva.


" DG Grup,bos."


" DG Grup?"ulang Geva seraya mencoba mengingat kembali nama perusahaan itu.


" Bukankah itu perusahaan yang___" Geva menjeda perkataannya. Namun, Fattan yang sudah paham pun langsung mengangguk.


" Tapi Fatt, apa alasan perusahaan investasi yang sedang bagus prestasinya mau membicarakan kerja sama dengan kita? Apa mereka tidak tahu tentang kondisi Nuraga saat ini?" Beginilah Geva, dia bukanlah seseorang yang mudah gegabah jika soal pekerjaan. Dia akan benar-benar memikirkan semuanya dengan matang.


" Mereka tahu bos."


Geva terlihat berpikir kembali tentang kemungkinan-kemungkinan hang terjadi.


" Bos, menurut saya. Lebih baik kita bertemu dengan mereka dulu, soal apa keputusannya nanti bisa di pikir lagi. Lagipula, bukankah ini adalah sebuah kesempatan yang bagus untuk menyelesaikan masalah yang ada?"saran Fattan.


" Baiklah."


Geva dan Fattan pun segera menyelesaikan dokumen-dokumen yang akan mereka perlukan nanti. Untungnya masih ada beberapa waktu yang tersisa sebelum jam pertemuan.


...***...


Matahari mulai menyingsing ke ufuk barat, hari mulai berganti menjadi malam. Di sebuah kamar dengan cahaya temaram dari sorot cahaya lampu luar. Terlihat Ibu hamil yangmasih tidur terlelap. Namun, suara bunti ponselnya yang cukup keras, membuatnya terbangun dari tidurnya.


Di saat mau mengangkat panggilan itu,ternyata sudah terputus.


" Siapa sih yang menelpon!"gumam Zada seraya mencoba membuka matanya seraya perlahan. Sorot cahaya layar ponsel yang terang,membuat sepasang mata Zada menyipit.

__ADS_1


" Pesan dari siapa sih ini!"lirih Zada saat melihat ada sebuah pesan masuk. Sepasang mata Zada seketika membulat sempurna saat melihat sebuah foto yang di kirim oleh nomor anonim itu.


...****************...


__ADS_2