Mendadak Menikahi Paman Mantanku

Mendadak Menikahi Paman Mantanku
Bab 75 : Perumpamaan yang aneh!


__ADS_3

Setelah melalui drama yang cukup panjang,akhirnya Reya bersedia untuk melakukan pemeriksaan. Entah kenapa, tiba-tiba Reya jadi deg-deg seperti ini. Apalagi saat sang Dokter mulai meletakkan transducer di atas permukaan kulit perutnya.


Dokter terlihat menggerakkan-gerakkan alat itu,sementara di layar monitor terlihat sebuah kantong yang di dalamnya ada Titin hitam seperti sebuah gumpalan.


" Bagaimana,Dok?"tanya Aden yang sudah sangat penasaran.


" Selamat ya, kalian akan menjadi calon ibu dan ayah. Janinnya sudah berusia lima minggu,kondisinya sangat baik,"papar sang Dokter yang membuat Reya maupun Aden tercengang.


Calon Ayah dan Ibu? Jadi,Reya beneran hamil?


" Mak-sudnya, Sa-ya ha-mil gitu Dok?"tanya Reya memastikan kalau apa yang ia dengar barusan salah.


" Iya Ibu Reya, anda hamil."


Deg


Dunia Reya seakan berhenti berputar, berita yang sama sekali tak ia harapkan kenapa datang begitu saja? Di-a hamil? Apa semesta sedang bercanda padaku?


Ya Tuhan ... masalah apa lagi ini?


Sama halnya dengan Reya, Aden juga cukup terkejut tapi tak seterkejut Reya karena sebelumnya dia sudah mempersiapkan diri jika hal ini benar terjadi.


Sejak keluar dari ruangan Dokter, Reya seakan berubah menjadi patung. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya itu. Sementara Aden sibuk memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.


" Rey ...,"panggil Aden yang mencoba membuka obrolan sebelum mereka berpisah. Pasalnya, mobil yang Aden mendadak sudah berhenti di parkiran perusahaan.


" Jangan berbicara apapun padaku!"tukas Reya yang sudah bersiap-siap untuk keluar. Namun ...


" Mari menikah!" Dua kata yang terdengar seperti sebuah lamaran.


"Huh?" Reya melongo saat mendengar ajakan menikah dari Aden. Tak ada bunga,tak ada cincin. Bahkan, Kata-kata manis sebelum mengungkapkan sebuah kalimat lamaran pun tak ada.


" Gak usah bercanda, deh!" dengus Reya yang seakan tak percaya jika Aden benar-benar ingin menikahinya.


" Apakah wajahku terlihat seperti orang yang sedang bercanda?" Aden justru kembali bertanya.


" Kalau wajah lo mah selalu saja datar! Lagipula, apa lo cinta sama gue?"


Aden menggeleng


" Kalau begitu, kenapa lo ngajak nikah? Apa karena gue hamil?"


Aden mengangguk


" Kalau begitu,jangan pernah ngajak gue untuk menikah!"tandas Reya seraya keluar dari mobil.


Melihat Reya yang keluar dari mobil sebelum mereka selsai bicara,membuat Aden mengejarnya.


" Rey,"panggil Aden yang tak di hiraukan oleh Reya. Gadis itu terus berjalan menuju lift dengan langkah cepat.


Ting


suara pintu lift terbuka,membuat Reya segera masuk,begitu lun dengan Aden. Melihat Aden yang juga ikut masuk,membuat Reya ingin kembali keluar karena tak mau satu lift dengannya. Namun,tak bisa karena Aden tiba-tiba mendorongnya hingga menempel pada dinding lift,dan mengukungnya.


" Kenapa kamu tak mau menikah denganku? Jangan bilang kalau kamu akan mengugurkan anak itu! Aku tidak akan membiarkannya!"


Dahi Reya berkerut. " Soal itu,terserah gue. Toh yang hamil juga gue bukan lo!"


" Tapi dia anakku!" tukas Aden yang tak akan terima jika Reya mengugurkan anak itu. Walau dia ada karena sebuah kecelakaan,tapi dia tetaplah darah dagingnya. Apalagi mengingat kembali saat ia mendengar detak jantungnya yang sudah berdetak,membuat Aden semakin tak tega membunuhnya.


Mendengar suara lift sudah terbuka,Reya langsung mendorong tubuh Aden agar menjauh, lalu keluar dari lift.

__ADS_1


...***...


Ketika jam makan siang, tiba-tiba Emerald datang ke ruangan tim desain pakaian dengan membawa makanan. Melihat Emerald yang tiba-tiba membawa makanan, tentu membuat semua orang kaget. Pasalnya,tak biasanya Wadek mereka bersikap seperti ini.


" Ini bagi-bagi makanan dalam rangka apa ya,Pak Emerald?"tanya Amel dan di angguki oleh yang lainnya.


" Tidak dalam rangka apa-apa, hanya sedang ingin berbagi makanan saja," dusta Emerald.


" Ini, ada makanan ke sukaan kamu,"ucap Emerald seraya menyodorkan sekotak platter sushi yang di dalamnya berisi berbagai aneka macam sushi,kecuali sushi shrimp karena Zada memang Alergi udang.


Namun, siapa sangka jika tiba-tiba datang seseorang yang langsung menolak pemberian udang.


" Sayangnya, istriku sudah tak menyukai makanan itu!"ucap Geva dengan raut wajah dingin dan sangar.


" Tuan Geva, sejak kapan anda datang?"tanya Emerald yang berusaha untuk menguasai keadaan.


" Sejak seseorang ingin kembali mendekati mantan yang sudah menjadi istri pamannya,"bisik Geva di dekat telinga Emerald. Geva memang sengaja berbisik agar tak terlalu mencolok jika hubungan merek sedang tak baik.


Raut wajah Emerald seketika berubah menjadi masam, tangannya pun sudah mengepal. Namun, ia tetap berusaha untuk menguasai diri agar tetap tersenyum layaknya tak terjadi apa-apa.


Setelahnya, Geva segera membawa Zada pergi dari ruangan menuju ruangannya sendiri.


"Kenapa aku seakan mencium bau-baru persaingan,ya ...," gumam Mita pelan tapi masih terdengar oleh Amel dan Nadine.


" Aku juga,"imbuh Nadine.


" Eh,tapi bukankah Pak Emerald sudah menikah sama Veena,ya."timpal Amel


" Denger-denger sih mereka sudah bercerai,"sahut Mita lagi


" Oh,ya? kapan?"tanya Amel yang cukup terkejut saat mendengar kabar kalau Emerald dan Veena sudah bercerai.


" Jadi,ceritanya ada mantan yang mencoba mendekati mantannya lagi. Tapi,bukankah Supervisor Zada sekarang adalah bibinya?" tanggap Nadine bingung.


Amel dan Mita hanya mengendikkan kedua bahunya saja,karena mereka juga tak tahu harus berkomentar apa lagi.


**


Sesampainya di ruangan Zada, Reva langsung menuntun sang istri duduk di sofa panjang yang ada di ruangan itu. Lalu segera membuka makanan yang telah ia bawa.


" Laogong, aku tadi___"


" Ayo kita makan,"potong Geva yang sudah selesai menyiapkan makanan.


Zada memegang kepala suaminya, lalu meluruskan keningnya yang berkerut.


" Jangan sering-sering kesal karena masalah sepele,"ucap Zada dengan tersenyum.


Geva menggenggam kedua tangan Zada, dan menatapnya begitu dalam. " Aku hanya tidak suka dengan sikap Rald yang mencoba mendekatimu lagi."


" Jadi,suamiku ini sedang cemburu?"goda Zada dengan menjawil dagu Geva.


" Tentu saja! Lagian,mana ada seorang suami yang suka jika mantan istrinya mencoba mendekat lagi. Bahkan,terang-terangan memberikan perhatian lebih di depan umum,"papar Reva yang membuat Zada semakin tertawa.


Begitulah Geva, yang selalu terang-terangan jika sedang cemburu.


" Kamu menertawakan ku ....," geram Geva yang langsung menggelitiki Zada.


" Laogong stop! geli ...,"gerutu Zada yang memang tak kuat jika di gelitiki seperti itu.


Geva pun menyudahinya,tapi tangannya masih melingkar di pinggang sang istri dengan tatapan yang begitu dalam.

__ADS_1


" Za, jangan pernah pergi meninggalkan ku,ya. Jika cintamu memudar,katakan padaku, nanti___"


" Nanti apa?"lanjut Zada ketika Geva masih menggantung ucapannya.


" Nanti aku akan berusaha melakukan berbagai cara agar bisa membuatmu kembali mencintaiku karena kamu hanya boleh mencintaiku saja!"lanjut Geva yang membuat Zada tertawa.


" Kok ketawa?"kesal Geva ketika melihat Zada justru tertawa, alih-alih terharu akan ucapannya yang sudah sangat romantis.


" Habisnya, suamiku ini freak banget!"


" Biarin! soalnya aku tidak akan membiarkan pria lain memilikimu!"


Zada hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarnya. Beginilah sikap pria kalau sudah bucin akut, rasa ingin menguasai begitu besar.


...***...


Selesai makan malam, seperti rutinitas biasanya. Geva dan Zada akan menonton film bersama atau bercerita tentang kejadian apa yang telah terjadi ketika tak bersama.


" Sayang ...,"panggil Geva yang sedang rebahan diatas paha Zada.


" Em." Zada hanya berdehem karena ia sedang fokus menonton.


" Kalau misalnya nih, aku dan Emerald sedang bertarung dengan kelompotan orang jahat. Kira-kira yang kamu bantu siapa?"


" Rald,"jawab Zada singkat.


" Rald!?"ulang Geva yang langsung bangun dari duduknya.


" Kamu gak salah sayang ngebantu dia,bukannya aku?"kesal Geva.


" Enggak."


" Kok gitu!"


" Ya karena kamu kan pandai pandai bertarung,sementara Rald enggak. Jadi,kamu pasti bisa melawan orang itu tanpa bantuan dari aku."


ehm ... ehm


Geva berdehem layaknya orang yang sedang melegakan tenggorokan.


" Jadi,kamu sedang memuji kepiawaian aku?" Alis Geva naik turun merasa bangga karena Geva mengakui kalau dirinya lebih hebat dari Emerald.


" Bukan muji sih,lebih ke fakta saja."


Geva langsung berubah menjadi murung lagi.


" Satu lagi, kalau misalnya aku sama Emerald sama-sama tenggelam. Siapa yang akan kamu tolong lebih dulu ?"


Zada mengerutkan keningnya, entah apa yang sedang merasuki suaminya hingga membuatnya terus membuat sebuah perumpamaan yang aneh


" Tidak ada yang aku tolong."


" Huh? " Geva melongo. padahal dia sudah berharap kalau ada akan memilih menolongnya.


"Kenapa?"


" Karena aku sendiri gak bisa renang."


Gubrak


...****************...

__ADS_1


__ADS_2