
" Kalau mau bicara sama gue, yang sopan! Karena bagaimana pun gue ini Kakak ipar lo!"tukas Gani dengan wajah kesal.
Geva mengernyitkan bibirnya. " Mungkin dulu iya,tapi sepertinya sekarang sudah bukan. Karena mulai hari ini, Kamu bukan lagi suami Kak Tya,"kata Geva yang secara tidak langsung menginginkan sang Kakak bercerai dari suaminya. Lagipula, buat apa bertahan hidup dengan pria yang sudah berkhianat.
" Geva!"pekik Aristya yang terlihat terkejut dan marah. Bagaimana bisa adiknya berbicara seperti itu sembarangan.
" Apa maksud kamu berkata seperti itu?"lirih Aristya dengan tatapan tak mengerti akan sikap adiknya ini.
" Maksud aku sudah jelas,Kak. Bercerai saja dari pria brengsek yang tak bisa setia dengan istrinya. Istri yang sudah menemaninya dari nol sampai bisa sukses seperti sekarang!"sindir Geva. Geva tahu betul,bagaimana perjuangan sang Kakak dulu saat awal-awal menikah dengan Gani.
Dia yang dari kecil sudah terbiasa hidup berkecukupan, rela keluar dari rumah dan hidup sederhana asal bersama pria yang ia cintai. Dulu, pernikahan Aristya dan Gani memang tidak mendapatkan restu dari Papa Geva. Entah firasat atau apa, papanya terus saja menentang dengan mengatakan kalau Gani bukanlah pria yang baik. Tapi Aristya terus kekeh ingin bersama Gani,bahkan berani keluar dari rumah tanpa membawa apapun.
Plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi Geva dari Aristya.
" Jaga perkataanmu Geva! Jangan pernah menghina Mas Gani dengan menyebutnya dengan sebutan itu karena bagaimana pun dia adalah suami Kakak,"omel Aristya yang membuat Geva semakin bingung dan tak mengerti dengan jalan pikiran kakaknya. Bagaimana bisa kakaknya masih saja membela pria yang jelas-jelas sudah menghianatinya.
Sementara Gani terlihat tersenyum penuh kemenangan karena sudah ada orang yang sukarela membantu melampiaskan kekesalannya pada adik iparnya yang hari ini sangat menyebalkan tanpa harus mengotori tangannya.
Tanpa banyak bicara, geva langsung beranjak pergi. Sementara Aristya tiba-tiba merasa bersalah karena sudah bersikap keterlaluan pada adiknya. Dia pun segera mengejar Geva.
" Geva!"panggil Aristya yang tak di hiraukan oleh Geva.
" Geva berhenti!"teriak Aristya seraya berlari mengejar adiknya.
Mendengar suara teriakan Kakaknya yang tengah mengejarnya, membuat Geva menghentikan langkahnya.
__ADS_1
" Maafkan Kakak Gev,"ucap Aristya yang tiba-tiba menjadi merasa bersalah karena sudah menampar adiknya.
Geva menarik nafasnya dalam-dalam, lalu berbalik.
" Maaf buat apa?"
" Maaf karena sudah menamparmu, apakah sakit?" Aristya mencoba menyentuh pipi yang tadi ia tampar tapi Geva langsung menghindar.
" Tamparan itu tak terlalu sakit jika di bandingkan dengan hati Geva. "
" Maaf Gev,Kakak hanya___" ucapan Aristya tersendat. Entah kenapa,tiba-tiba ia tak bisa mrngeluarkan kata-kata yang ada dalam pikirannua.
" Hanya sedang buta dan bodoh akan cinta," lanjut Geva yang membuat Aristya terdiam.
" Sadar Kak, jangan menjadi wanita bodoh hanya karena salah mencintai seseorang yang sama sekali tak pantas. Aku berkata seperti ini hanya ingin mengingatkan Kakak, kalau pria seperti Gani itu tidak layak untuk Kakak perjuangkan."
" Pria yang benar-benar tulus cinta dan menyayangi Kakak dengan sepenuh hati. Pria yang bisa menjadikan Kakak satu-satunya ratu dalam hidupnya."
Aristya tersenyum kecut. " Tapi sayangnya, pria seperti itu tak akan mau dengan wanita seperti Kakak Geva. Wanita cacat yang tak bisa memberikan keturunan pada pasangannya."
" Kak ... Jangan berkata seperti itu."
" Kenapa? Itu 'kan memang kenyataannya Geva!"tukas Aristya dengan suara parau karena menahan tangis.
" Kak___"Geva mencoba menenangkan Aristya yang tiba-tiba menjadi sangat emosional.
" Sudah,tidak apa-apa. Lebih baik kamu pergi saja,"usir Aristya yang tak mau Geva melihat kalau sebenarnya ia sedang dalam keadaan sangat terpuruk. Selama ini,Aristya memang cenderung lebih suka menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya. Ia tak mau terlihat lemah di depan keluarganya karena takut semakin dianggap remeh.
__ADS_1
Bersikap seperti orang yang baik-baik saja, masih di remehkan. Apalagi jika terlihat lemah? Ia pasti akan semakin di jadikan lelucon.
" Kak ..., jangan menyimpan semuanya sendiri. Bagilah sedikit pada Geva agar lebih ringan. Asal Kakak tahu,Geva ikut merasa sakit saat melihat Kakak di sakiti seperti ini."
" Sudah,kamu pulang saja. Lagipula, tak ada gunanya bercerita sama kamu! Dan satu lagi, jangan sampai orang rumah tahu tentang apa yang sedang terjadi sama Kakak."
" Bagaimana bisa, Geva ini adalah pria yang sangat hebat. Dengan bercerita dengan Geva,itu sama saja dengan mencoba menyelesaikan masalah."
" Kamu yakin?"
Geva menganguk.
" Kalau begitu, hanya ada satu cara untuk menyelesaikan masalah kakak sekarang."
" Apa itu?"
" Berikan satu anakmu pada Kakak,maka semuanya akan beres."
Deg
Lagi dan lagi, Tya melontarkan pernyataan seperti ini. Entah kenapa, dia masih ingin meneruskan ide gilanya itu untuk menjadikan keponakannya menjadi anaknya. Karena dengan begitu, semua masalah terselesaikan hanya dengan satu solusi. Selain rumah tangganya akan terselamatkan, semua orang baik keluarga,teman dan koleganya tak akan ada lagi yang menghinanya sebagai wanita mandul.
" Kak, apakah tak ada solusi lain? Seperti mengadopsi anak yang terlantar,miskin atau tak punya orang tua. Sepertinya itu lebih efisien daripada meminta anakku!" Geva mencoba mencarikan solusi. Namun, di tolak mentah-mentah oleh Aristya.
" Jika begitu, itu sama saja dengan bohong! Karena Gani,menginginkan anak dariku, bukan anak yang tak jelas asal usulnya darimana, anak siapa, dsb. Jadi, jika kamu benar-benar ingin membantu Kakak, maka kamu hanya perlu membujuk Zada agar mau bersekongkol untuk merealisasikan kehamilan palsu itu.
Setelah berbicara seperti itu, Aristya langsung pergi meninggalkan Geva. Ia berharap, Geva bisa menjadi jembatan bagi rencananya itu. Apalagi, dengar-dengar Zada cukup patuh jika dengan Geva.
__ADS_1
...****************...