Mendadak Menikahi Paman Mantanku

Mendadak Menikahi Paman Mantanku
Bab 15 : Tak mau jadi burung dalam sangkar


__ADS_3

Siang telah berganti dengan malam. Di sebuah kamar dengan cahaya temaram, nampak seorang gadis masih tidur terlelap di atas ranjang kingsize.


Sementara di ruangan lain, terlihat seorang pria tampan masih sibuk dengan pekerjaannya. Sudah menjadi sebuah kebiasaan jika seorang Ceo dari perusahaan masih sibuk walau sudah berada di rumah. Apalagi, sebentar lagi akan ada pergelaran fashion show perusahaan. Membuatnya semakin sibuk mengecek barang-barang yang akan di tampilkan di pergelaran nanti.


Suara dering ponsel yang terus menggema memenuhi ruangan seakan mengusik tidurnya nyenyaknya.


" Siapa sih yang nelpon, ganggu orang lagi mimpi indah!" gumam Zada seraya meraba-raba sekitarnya guna mencari dimana keberadaan ponselnya. Namun, Ia tak kunjung menemukan dimana ponsel itu berada tapi suaranya masih saja berisik.


Dengan berat hati, Zada pun mencoba untuk bangun dan mencoba membuka matanya yang sangat lengket. Ia edarkan pandangannya ke sekeliling ruangan mencari dimana tasnya berada, dan akhirnya ia menemukan tas itu.


Zada pun beranjak turun dari ranjang, berjalan menuju tempat dimana tasnya berada dan segera mengambil ponsel itu.


" Halo, Rey. Lo ngapain pakai nelpon-nelpon segala? Ganggu orang tidur saja," gerutu Zada seraya mengucek matanya yang terasa gatal.


" Tidur? Tidur dimana lo?" tanya Reya yang membuat Zada jadi bingung.


" Di kamar lah, emangnya dimana lagi?"


" Kamar siapa? "


Dahi Zada berkerut, lalu kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar itu dan mendapati kalau ini bukanlah kamarnya. Pasalnya, kamarnya tak memiliki jendela besar dengan kaca transparan dari dalam. Kalau dari luar, gelap tak terlihat.


Zada spontan bangun dari tempat duduknya, lalu mencari saklar lampu untuk memperjelas dimana keberadaannya saat ini. Dan ketika lampu telah menyala, betapa terkejutnya dia saat melihat foto yang terpampang nyata di dinding kamar itu. Bahkan, Zada spontan menutup mulutnya yang menganga saking terkejutnya.


Pria ini benar-benar narsis, masak iya dia memajang poto sendiri segede gaban gini di dalam kamar! Di tambah lagi, posenya ... Ya Tuhan ... Ganteng sih tapi___


Zada langsung menggeleng-gelengakan kepalanya ketika otaknya mulai tak beres.


" Za, lo dimana?" desak Reya saat tak lagi mendengar suara Zada.


" Mampus gue!" gumam Zada yang ternyata di dengar oleh Reya.


" Mampus? Maksud lo apaan? Lo ada di mana sih? Bilang sama gue, biar gue jemput!" ucap Reya yang terdengar khawatir. Bagaimana tak khawatir jika sampai jam delapan malam Zada belum juga pulang ke rumah. Di tambah lagi dia tidak bilang kalau ada lembur, terus sekarang bilang mampus. Apa nggak semakin khawatir saja.


" Rey, nanti gue telepon lagi." Zada segera menutup teleponnya secara sepihak, lalu mengecek pakaiannya yang ternyata masih utuh.

__ADS_1


"Syukurlah."


Tanpa berlama-lama, Zada segera mengambil tasnya dan berniat untuk pergi dari tempat ini. Ketika keluar dari kamar, Zada sempat di buat tercengaj dengan tatanan dari tempatnya berada saat ini.


Bersih, rapi, elegan, mewah.


Empat kata yang dapat menggambarkan tempat ini.


" Kemana dia?" gumam Zada saat melihat rumah begitu sepi layaknya tak berpenghuni.


" Alah, bodo omat! Mumpung dia gak ada, jadi aku bisa kabur dengan mudah!" itulah yang Zada pikirkan saat ini. Kabur dari suami palsu nya. Namun, siapa sangka di saat Zada baru saja memegang handle pintu, tiba-tiba terdengar suara barinton yang ia hapal siapa dia.


" Mau kemana kamu? "tanya Geva yang masih berdiri di ambang pintu ruangan kerja dengan kedua tangan di lipat depan dada.


Zada menelan ludahnya kasar, lalu menetralkan detak jantungnya baru berbalik.


" Mau pergi, "jawabnya yang berusaha bersikap santai.


" Pergi kemana? "Geva kembali bertanya seraya berjalan menghampiri Zada.


" Pulang kemana? Rumahmu 'kan di sini, "lontar Geva yang kini sudah berdiri di depan Zada dengan tangan di tempelkan ke pintu layaknya tengah mengunci tubuh Zada agar tak bisa pergi


Dahi Zada berkerut, bagaimana bisa rumahnya di sini. Lagipula, mana mungkin juga dia bisa membeli hunian semewah ini, kecuali di dunia halu.


" Tuan Zada ... Bisakah anda jangan terlalu dekat ..." Zada mendorong tubuh Geva agar menjauh. Namun, pria itu justru semakin mendekat hingga membuat Zada tak berani bernapas. Apalagi, Ia baru bangun tidur dan belum mandi setelah bekerja seharian. Pasti aroma tubuhnya sudah tidak karuan saat ini.


" Bersihkan dulu tubuhmu, Setelahnya kita makan malam bersama!" ucap Geva yang setelahnya pergi menjauh.


Zada langsung menghembuskan nafasnya yang sejak tadi ia tahan, lalu mencium tubuhnya yang memang sedikit beraroma kecut. Apalagi tadi ia sempat muntah akibat mencium aroma keti bau para preman suruhan Mamanya Emerald.


" Jangan harap bisa pergi dari sini tanpa izinku!" lanjut Geva yang terdengar seperti sebuah peringatan.


Zada masih saja berusaha untuk membuka handle pintu, tetapi tak bisa. Sepertinya Geva sudah mendesain rumah ini dengan sistem keamanan pintar sehingga tak mudah untuk bisa masuk maupun keluar dari sini.


Dengan terpaksa, Zada pun kembali ke kamar yang ia tempati tadi dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Untung saja ada sikat gigi sekali pakai yang bisa ia gunakan dan handuk bersih.

__ADS_1


" Pria ini ... Cukup rapi dan bersih!" gumam Zada saat menatap setiap ruangan yang tertata rapi dan bersih. Berhubung Zada tak membawa pakaian, Ia pun mencoba membuka lemari yang ada di dalam kamar.


" Siapa suruh membawaku ke sini tetapi tidak memberiku pakaian, jadi ku pakai saja pakaiannya! " tukas Zada seraya mengambil satu kemeja berwarna putih milik Geva. Berhubung tubuh Geva yang jakung sehingga membuat pakaiannya jadi terlihat sangat besar saat di pakai di tubuhnya yang mungil.


Tubuh Geva seketika membeku saat melihat Zada keluar dari kamarnya dengan rambut masih setengah basah sedang di kibas-kibaskan, serta penampilan hanya memakai kemejanya yang kebesaran di tubuh mungilnya.


Jakun Geva terlihat naik turun saat melihat penampilan Zada yang terlihat begitu seksi di matanya. Bagaimana pun, dia adalah pria normal yang akan terpesona saat melihat hal seperti ini.


" Wow, banyak sekali makananya?" ucap Zada yang terlihat sangat bahagia saat melihat ada banyak makanan enak. Apalagi, saat ini dia sangat lapar sekali karena semua isi dalam perutnya sudah keluar semua.


" Tuan Geva!" panggil Zada saat melihat Geva yang hanya berdiri mematung sambil memegang gelas wine.


" Eh, Iya."


" Kenapa hanya melamun saja? Ayo makan, saya sudah sangat lapar sekali," ajak Zada yang kembali terlihat biasa saja. Begitulah Zada yang akan terlihat santai jika sudah berhadapan dengan makanan.


" Kamu__" Geva terlihat ragu-ragu untuk bertanya, tapi untungnya Zada cepat tanggap saat melihat Geva terus menatap ke arahnya.


" Oh ... Maaf karena saya sudah lancang memakai pakaian anda. Soalnya pakaian saya tadi sudah kotor, dan tidak ada pakaian ganti. Jadi___"


" Ti-dak apa-apa, sebenarnya saya tadi sudah menyuruh Aden untuk membelikan kamu pakaian. Tapi sampai sekarang belum juga sampai," terang Geva yang terlihat sangat gugup.


" Oh."


" Sebenarnya, anda tidak perlu membelikan saya pakaian. Cukup izinkan saya__"


" Jangan pernah pergi!" sela Geva yang membuat Zada semakin bingung dengan pria di depannya ini. Kenapa raut wajahnya seketika terlihat sangat berbeda jika membahas soal pergi.


Ada apa ini? Masak iya dia akan mengurungku di dalam penthouse ini? Tidak__ aku tidak suka menjadi burung dalam sangkar emas.


...****************...


Halo gengs, maaf novi baru update. Soalnya baru enakan badannya. Semoga masih pada setia menunggu kisah Zada dan Paman Geva.


Kira-kira, ada apa ya dengan Paman Geva?

__ADS_1


__ADS_2