Mendadak Menikahi Paman Mantanku

Mendadak Menikahi Paman Mantanku
Bab 102 : Mabuk berat


__ADS_3

Cukup lama Zada memandangi foto itu hingga tanpa sadar,terdengar suara bel pintu berbunyi. Dengan perasaan campur aduk,Zada pun beranjak bangun dan berjalan pergi membukakan pintu.


" Selamat malam nyonya," sapa Fattan dengan menopang tubuh tegap Geva.


" Kamu bawa masuk!"titah Zada saat melihat kondisi Geva yang mabuk berat. Dengan sempoyongan, Fattan membantu memapah Geva masuk ke dalam rumah.


"Huh!" Nafas Fattan terlihat ngos-ngosan akibat memapah Geva dari tempat pertemuan sampai rumah.


Tanpa mengatakan apa-apa, Zada langsung mengambilkan segelas air putih untuk Fattan yang terlihat kelelahan.


" Minumlah." Zada menyodorkan segelas air putih pada Fattan. Awalnya Fattan sedikit ragu untuk menerima atau tidak, tapi Zada memaksa dengan memberikannya langsung ke tangan Fattan.


" Terimakasih nyonya." Fattan pun langsung meneguk minuman itu hingga tandas karena dia juga sebenarnya kehausan.


Sementara Zada, terlihat menatap wajah Geva cukup dingin.


" Mknum seberapa banyak dia tadi?"tanya Zada pada intinya. Begini lah Zada jika sudah masuk dalam mode introgasi, dia tidak akan basa basi lagi.


" Nyonya, sepertinya saya harus___"


" Jawab pertanyaan saya dengan jujur!"potong Zada ketika menyadari kalau Fattan ingin menghindar dari pertanyaannya.

__ADS_1


" Cu-kup banyak nyonya, maaf karena saya tidak bisa menghentikan bos." Fattan terlihat merasa sangat bersalah karena dia tak bisa menggantikan Geva saat di minta untuk minum oleh kolega. Pasalnya, dia adalah seorang muslim yang di larang meminum minuman beralkohol.


" Pergilah!"titah Zada ketika menyadari raut wajah Fattan yang gelisah dan takut jika di interogasi terlalu lama.


" Permisi Nyonya." Setelahnya, Fattan pun segera bergegas pergi karena dia takut jika Zada akan bertanya banyak hal jika ia terlalu lama di sana.


" Ayo Tuan, kita minum satu gelas lagi!" racau Geva dengan memperagakan sedang bersulang oleh koleganya.


Zada menggeleng dan menghembuskan nafas berat saat melihat kelakuan Geva yang seperti itu. Namun, sebagai istri dia tetap tak bisa membiarkan suaminya begitu saja.


" Sudah, copot bajumu!" tukas Zada seraya membantu melepaskan kancing kemeja Geva.


" No! Jangan menyentuhku!" Geva menepis tangan Zada dan menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi dada.


Zada terperangah, dia benar-benar tidak pernah menyangka akan mendapatkan muntahan seperti ini di malam hari.


" Bisakah lain kali jangan minum! Biasanya juga tidak pernah minum, kenapa tiba-tiba minum sampai seperti ini! Apa karena bertemu lagi dengan Anna membuatmu bahagia sampai lupa diri dan___" Mengingat kembali foto Geva yang sedang tertawa dengan Annabeth membuatnya merasa sangat kesal. Apalagi Geva pulang-pulang dalam kondisi mabuk berat seperti ini.


" Dasar menyusahkan saja!"gerutu Zada seraya pergi mengambil lap dan alat pel untuk membersihkan muntahan Geva.


...***...

__ADS_1


Keesokan paginya, Geva terbangun dengan kepala yang terasa sangat berat. Sepertinya efek alkohol semalam belum sepenuhnya hilang.


" Kenapa kepalaku terasa berat sekali,"gumam Geva yang belum sadar jika semalam dia mabuk dan membuat sebuah kesalahan.


" Sudah bangun? Cepat mandi lalu sarapan pagi!"titah Zada dengan memasang wajah dingin.


" Zada kenapa? Kok wajahnya cemberut gitu?"gumam Geva seraya bangun dari tempat tidur. Selesai mandi dan berganti pakaian, Geva langsung berjalan menghampiri Zada yang masih sibuk di dapur.


" Selamat pagi sayang," sapa Geva seraya melingkarkan tangannya ke perut Zada. Namun, Zada langsung melepaskan tangan itu.


" Duduk dan langsung makan saja sarapannya! Sudah siang!" ketus Zada dengan ekspresi datar.


" Sayang kenapa? Kok seperti orang yang sedang marah? Pagi-pagi gak bagus loh memasang wajah cemberut gitu, nanti cepat tua lho!"canda Geva dengan cengengesan. Geva berharap sang istri mau tertawa seperti biasanya karena cemberut di pagi hari dapat merusak mood seharian.


Zada menoleh dan memberikan tatapan yang tak enak. " Jadi, sekarang aku terlihat tua dan Jelek,gitu! Makanya kamu mulai tertawa haha hihi dengan wanita yang masih terlihat cantik dan seksi!"sindir Zada yang membuat Geva bingung.


" Maksud Kamu apa ya, sayang? Siapa yang tebar pesona?"


" Semalam kamu habis dari mana dan bertemu dengan siapa?" Bukannya menjawab pertanyaan Geva, Zada justru lebih dulu menanyakan hal ini. Pasalnya, dia benar-benar sangat penasaran dengan jawaban Geva. Akankah dia jujur mengatakannya atau tetap menutupi ini semua?


" Semalam___" Geva terlihat gugup, kepala yang awalnya biasa saja tiba-tiba jadi terasa begitu gatal.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2